Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2026-01-21 at 12.52.00.jpeg
Direktur Informasi Publik Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi Digital (Ditjen KPM Komdigi), Nursodik Gunarjo. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Intinya sih...

  • Komdigi mengingatkan penggunaan AI harus disertai etika dan kebijaksanaan karena ancaman penyalahgunaan, termasuk konten deepfake yang menyesatkan publik.

  • AI dinilai bermanfaat jika digunakan secara tepat, namun hanya sebagai alat bantu berpikir dengan kendali tetap di tangan manusia.

  • STMM MMTC Yogyakarta menyesuaikan kurikulum dengan memasukkan AI dan teknologi digital agar mahasiswa siap menghadapi era disrupsi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sleman, IDN Times – Pemanfaatan Artificial Intelligence atau Akal Imitasi (AI) yang kian masif di tengah masyarakat perlu diimbangi dengan etika dan kebijaksanaan. Tanpa itu, teknologi canggih tersebut justru berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan sosial dan bangsa.

Direktur Informasi Publik Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi Digital (Ditjen KPM Komdigi), Nursodik Gunarjo, mengatakan AI saat ini bukan hanya digunakan oleh kalangan mahasiswa, tetapi telah merambah ke masyarakat luas.

“AI sudah menjadi tools yang enggak asing lagi. Hampir semua orang sekarang sudah menggunakannya,” kata Nursodik, saat acara iNDONESIAGOID Goes to Campus, AI: Sahabat atau Musuh Kreativitas? Bikin Konten Gokil & Tetap Etis, di Sekolah Tinggi Multi Media MMTC Yogyakarta, Rabu (21/1/2026).

1. Dua sisi AI

iNDONESIAGOID Goes to Campus, AI: Sahabat atau Musuh Kreativitas? Bikin Konten Gokil & Tetap Etis, di Sekolah Tinggi Multi Media MMTC Yogyakarta, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Menurut Nursodik, sebagai teknologi yang semakin sempurna, AI memiliki dua sisi. Di satu sisi dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan produktif, namun di sisi lain berpotensi disalahgunakan jika tidak disertai etika.

“Kalau hanya pintar skill-nya saja, tapi tidak bijak dan tidak beretika, dampaknya ke depan bisa destruktif bagi bangsa kita,” ujarnya.

Salah satu ancaman nyata dari penyalahgunaan AI, lanjut Nursodik, adalah maraknya konten deepfake. Teknologi tersebut memungkinkan pembuatan video atau konten palsu yang tampak sangat meyakinkan.

“Konten yang tidak benar bisa dibuat seolah-olah itu kejadian sesungguhnya. Masyarakat awam yang tidak tahu itu AI-generated tentu bisa sangat mudah terpengaruh,” ungkapnya.

2. Sisi positif dan kendali tetap manusia

Direktur Informasi Publik Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi Digital (Ditjen KPM Komdigi), Nursodik Gunarjo. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Nursodik menegaskan AI juga memiliki sisi positif yang besar karena mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan manusia, termasuk mendukung perkembangan robotika dan otomasi. “Kalau digunakan dengan baik, AI sangat membantu dalam banyak hal,” katanya.

Nursodik juga mengingatkan AI adalah alat bantu berpikir, bukan pengganti berpikir. Ia mengungkapkan jangan sampai produk AI menggantikan produk-produk pikiran manusia. “Oleh karena itu, ada sebuah produk kalau AI itu dinamakan co-pilot, bukan pilotnya. Pilotnya manusia, kendali tetap manusia,” ungkap Nursodik.

3. Lembaga pendidikan menyesuaikan kurikulum

Kepala Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) MMTC Yogyakarta, R.M. Agung Harimurti. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Sementara itu, Kepala Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) MMTC Yogyakarta, RM Agung Harimurti, mengatakan pihaknya telah merevisi kurikulum sejak tahun ajaran 2025 untuk menyesuaikan dengan era disrupsi teknologi. “Kami memasukkan materi AI, cyber security, Internet of Things, dan big data agar mahasiswa siap menghadapi era AI,” ujar Agung.

Ia menuturkan, dalam pendidikan penyiaran dan produksi media, fokus utama bukan sekadar penggunaan teknologi AI, melainkan kemampuan memberikan instruksi atau prompting. “Teknologinya bisa cepat dipelajari. Yang penting adalah bagaimana membuat prompt agar AI bisa membantu proses kreatif,” katanya.

Agung juga mengingatkan AI ibarat pisau bermata dua. Penggunaan berlebihan tanpa proses berpikir kritis dapat menurunkan kreativitas mahasiswa. “Kalau hanya menyalin, daya kritisnya turun. Tapi kalau bisa meniru, memodifikasi, dan berinovasi, kreativitas justru meningkat,” pungkasnya.

Editorial Team