Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2025-07-22 at 09.26.08.jpeg
Kondisi kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau

Intinya sih...

  • Situasi rawan karhutla di Riau karena panas ekstrem yang memicu kondisi cuaca kering, serta sulitnya pembentukan awan akibat badai Wipha di Filipina.

  • Riau dalam masa kritis dan butuh kerja sama semua pihak untuk mencegah situasi bertambah buruk, termasuk koordinasi antarinstansi seperti TNI, Polri, dan BNPB.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni memberi peringatan kepada masyarakat dan perusahaan perkebunan di Riau, terkait kebakaran hutan.

Ia mengingatkan agar tak ada lagi aktivitas pembersihan lahan (land clearing) dengan cara pembakaran untuk mengantisipasi meluasnya area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di provinsi tersebut.

1. Jangan bakar lahan!

Sekjen PSI, Raja Juli Antoni. (IDN Times/Larasati Rey)

Raja Juli mengatakan, pihaknya bersama kepolisian akan menindak tegas segala aktivitas land clearing dengan cara pembakaran lahan yang berpotensi memicu meluasnya area karhutla.

"Kepada masyarakat, terutama yang ada di Riau, masyarakat maupun perusahaan, saya sudah berkoordinasi dengan Kapolda, jangan berani-berani melakukan land clearing, membersihkan lahan untuk menanam dengan cara pembakaran, karena potensinya sangat luar biasa buruk," kata Raja Juli di Kantor PP Muhammadiyah, Kota Yogyakarta, Selasa (22/7/2025).

"Dan oleh karena itu kami akan melakukan penegakan hukum, ya, tanpa pandang bulu, tanpa segan-segan kepada masyarakat atau perusahaan yang membakar hutan atau lahan di Riau atau di manapun," sambungnya.

2. Situasi rawan karhutla di Riau

Pihak kepolisian bersama TNI saat memadamkan api di Kabupaten Rohil (IDN Times/ dok Polda Riau)

Menurut Raja Juli, land clearing dengan metode pembakaran lahan bisa berakibat sangat buruk jika dilakukan di kondisi alam sekarang ini.

Dia membeberkan laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bahwa selama 10 hari terakhir sedang berlangsung panas ekstrem yang memicu kondisi cuaca kering, sehingga lahan mudah terbakar. Situasi ini diperparah dengan fenomena badai Wipha di Filipina yang membuat awan sulit terbentuk.

"Itu tingkat kemudahan terbakar di lapisan, di lapisan atas permukaan tanah, berpotensi sangat mudah terbakar. Ini memang ada panas ekstrem 10 hari terakhir, ditambah badai Wipha namanya, yang melanda Filipina, sehingga  pembentukan awan sangat susah. Kemudian juga sangat kering, oleh karena itu sangat mudah terbakar," paparnya.

3. Riau dalam masa kritis

Tangkapan layar dari monitoring titik panas di Provinsi Riau (IDN Times/ dok BMKG)

Raja Juli menggambarkan bahwa Riau tengah melalui masa kritis. Dia meminta kerja sama seluruh pihak, termasuk masyarakat dan perusahaan perkebunan guna mencegah situasi berubah bertambah buruk.

"Karena sekali lagi, kita terutama di Riau menghadapi masa yang sangat kritis, masa yang sudah diberi peringatan oleh Kepala BMKG," katanya.

Di samping itu, kata Raja Juli, kemeteriannya telah menjalin koordinasi antarinstansi, termasuk bersam TNI, Polri, dan BNPB untuk penanganan kejadian karhutla.

"Ibu Kepala BMKG (Dwikorita Karnawati), hari ini berangkat ke Riau. Dari hari Minggu, Dirjen Gakkum yang memiliki tanggung jawab terhadap persoalan Karhutla sudah saya kirim ke Riau. Pak Wamen kemarin juga langsung memimpin  penanggulangan Karhutla di Riau," tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto bersama Wakil Menteri Kehutanan, Wakil Menteri Lingkungan Hidup serta pejabat pusat dan daerah setempat melihat luasan lahan dan hutan yang mengalami kebakaran melalui udara, Senin (21/7/2025).

Suharyanto menyampaikan hingga 20 Juli 2025, seluruh kabupaten dan kota yang berada di Provinsi Riau mengalami kebakaran lahan dan hutan.

“Paling besar Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Kampar,” kata Suharyanto, dalam keterangan tertulis, Selasa (22/7/2025).

Suharyanto menjelaskan kondisi kebakaran yang terjadi membuat BNPB meminta Pemerintah Provinsi Riau secepatnya menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran lahan dan hutan.

Suharyanto mengungkap pengendalian kebakaran hutan tidak hanya dengan melakukan pemadaman, tetapi juga melihat indikasi lain penyebab kebakaran seperti pembakaran lahan yang dilakukan dengan sengaja.

“Satgas hukum sudah bergerak, sudah ada yang tersangka sampai 16 orang. Jadi selain pemadaman, operasi penegakan hukum juga dilaksanakan sehingga semuanya sejalan dan terpadu,” ungkap Suharyanto.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team