Jogja Printing Expo 2026 di JEC, DIY, Rabu (8/4/2026). (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Di luar persoalan impor, tantangan lain datang dari ketersediaan bahan baku alternatif, yakni kertas daur ulang. Permintaan global terhadap kertas bekas meningkat tajam, sementara Indonesia belum memiliki sistem pengelolaan yang memadai.
“Yang kesulitan di Indonesia ini eh kalau itu lain lagi cerita, kesulitan ialah mendapatkan kertas bekas. Karena semua negara sekarang yang punya pabrik kertas berebutan untuk mendapatkan kertas bekas.”
Berbeda dengan negara seperti Jepang yang telah memiliki regulasi ketat dalam pengumpulan kertas bekas, di Indonesia distribusi limbah kertas masih belum terkelola. Otoritas Negeri Sakura melarang kertas dibuang secara sembarangan karena memang ada perusahaan pemenang tender yang kemudian menampung atau membeli kertas-kertas bekas.
"Nah kalau di Indonesia tuh nggak ada makanya bisa ditemukan kertas bungkus bekas majalah bahkan kertas dokumen perusahaan tiba-tiba kok jadi bungkus cabe di pasar itu kan nggak boleh harusnya gitu lho," katanya.
Menghadapi tekanan berlapis, pelaku industri kini berada dalam posisi waspada, terutama menjelang periode produksi tinggi seperti pencetakan buku sekolah. Bagaimanapun, Mughira melihat masih ada peluang menguntungkan dari sektor pengemasan (packaging) yang bahkan tak surut digempur digitalisasi pemicu efisiensi kertas.
Sejumlah faktor pendorong utama perkembangan industri kemasan adalah adopsi teknologi pengemasan dan pencetakan yang kian canggih. Selain itu juga makin tingginya permintaan produk yang serba cepat dan siap saji, di mana kemasan memainkan peran vital dalam menjaga kualitas serta keamanan produk. Kemasan juga tidak sebatas berfungsi melindungi, melainkan juga menarik dari segi estetika.
"Memang akhirnya untuk percetakan buku, majalah itu sudah jauh berkurang. Tapi kemasan itu masih ada harapan karena makin eh hampir semua produksi itu memerlukan kemasan. Nah kemasan itu sekarang yang menjadi salah satu penopang industri percetakan di seluruh Indonesia," ungkapnya.
Oleh karenanya, Mughira berharap Jogja Printing Expo 2026 mampu memperkuat para pelaku industri untuk menghadapi tantangan global, beradaptasi dengan inovasi teknologi sekaligus membuka peluang kolaborasi baru dalam industri grafika.