Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Industri Percetakan Terimbas Geopolitik, Sektor Packaging Masih Cuan
Jogja Printing Expo 2026 di JEC, DIY, Rabu (8/4/2026). (IDN Times/Tunggul Damarjati)
  • Konflik geopolitik global memicu kenaikan biaya logistik dan harga bahan bakar kapal, membuat harga kertas di Indonesia melonjak karena ketergantungan impor pulp serat panjang.
  • Keterbatasan pasokan kertas bekas memperberat industri percetakan, namun sektor kemasan tetap tumbuh berkat permintaan tinggi dan inovasi teknologi pengemasan yang makin canggih.
  • Jogja Printing Expo 2026 menghadirkan 35 peserta termasuk UMKM dengan teknologi cetak digital, offset, hingga solusi ramah lingkungan untuk memperkuat daya saing industri grafika nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Ketua Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), A Mughira Nurhani mengungkap industri percetakan dalam negeri ikut kecipratan situasi geopolitik dunia sekarang ini.

Mughira menyebut konflik di Timur Tengah telah memantik kenaikan tarif logistik dan harga bahan bakar kapal. Buntutnya, situasi ini membebani harga jual kertas di tingkat konsumen.

1. Biaya angkut naik, kertas makin sulit

Jogja Printing Expo 2026 di JEC, DIY, Rabu (8/4/2026). (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Mughira menjelaskan, 70 persen kebutuhan kertas di Tanah Air masih bisa dicukupi dengan produksi dalam negeri. Hanya saja, untuk komoditas pulp serat panjang yang dipakai sebagai campuran produksi kertas tertentu, RI masih mengandalkan impor dari negara-negara empat musim, macam Finlandia, Kanada juga AS.

"Serat panjang itu sebenarnya lebih banyak buat dipakai di buku. Karena kalau serat pendek itu kertas itu kalau kena panas dia melengkung kalau serat pendek. Tapi kalau serat panjang nggak," kata Mughira usai pembukaan Jogja Printing Expo 2026 di JEC, DIY, Rabu (8/4/2026).

Ketergantungan ini membuat industri dalam negeri rentan terhadap gejolak global, terutama dari sisi logistik. Kenaikan biaya transportasi berdampak langsung pada harga bahan baku yang diimpor.

"Ya otomatis akan naik karena ongkos transportnya naik kan. Iya karena harga solarnya buat naik kapal naik otomatis mereka juga akan naik," ujarnya.

"Kayaknya (efeknya) sudah ya, kaya kertas ini sudah makin sulit sekarang. setelah perang (konflik Timur Tengah)," sambungnya.

Padahal, material itu sangat penting untuk menjaga kualitas produksi. Sementara, harga kertas sudah naik bahkan sejak awal tahun ini dan trennya memang tidak pernah menurun.

2. Negara berebut kertas bekas, sektor pengemasan jadi penyelamat

Jogja Printing Expo 2026 di JEC, DIY, Rabu (8/4/2026). (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Di luar persoalan impor, tantangan lain datang dari ketersediaan bahan baku alternatif, yakni kertas daur ulang. Permintaan global terhadap kertas bekas meningkat tajam, sementara Indonesia belum memiliki sistem pengelolaan yang memadai.

“Yang kesulitan di Indonesia ini eh kalau itu lain lagi cerita, kesulitan ialah mendapatkan kertas bekas. Karena semua negara sekarang yang punya pabrik kertas berebutan untuk mendapatkan kertas bekas.”

Berbeda dengan negara seperti Jepang yang telah memiliki regulasi ketat dalam pengumpulan kertas bekas, di Indonesia distribusi limbah kertas masih belum terkelola. Otoritas Negeri Sakura melarang kertas dibuang secara sembarangan karena memang ada perusahaan pemenang tender yang kemudian menampung atau membeli kertas-kertas bekas.

"Nah kalau di Indonesia tuh nggak ada makanya bisa ditemukan kertas bungkus bekas majalah bahkan kertas dokumen perusahaan tiba-tiba kok jadi bungkus cabe di pasar itu kan nggak boleh harusnya gitu lho," katanya.

Menghadapi tekanan berlapis, pelaku industri kini berada dalam posisi waspada, terutama menjelang periode produksi tinggi seperti pencetakan buku sekolah. Bagaimanapun, Mughira melihat masih ada peluang menguntungkan dari sektor pengemasan (packaging) yang bahkan tak surut digempur digitalisasi pemicu efisiensi kertas.

Sejumlah faktor pendorong utama perkembangan industri kemasan adalah adopsi teknologi pengemasan dan pencetakan yang kian canggih. Selain itu juga makin tingginya permintaan produk yang serba cepat dan siap saji, di mana kemasan memainkan peran vital dalam menjaga kualitas serta keamanan produk. Kemasan juga tidak sebatas berfungsi melindungi, melainkan juga menarik dari segi estetika.

"Memang akhirnya untuk percetakan buku, majalah itu sudah jauh berkurang. Tapi kemasan itu masih ada harapan karena makin eh hampir semua produksi itu memerlukan kemasan. Nah kemasan itu sekarang yang menjadi salah satu penopang industri percetakan di seluruh Indonesia," ungkapnya.

Oleh karenanya, Mughira berharap Jogja Printing Expo 2026 mampu memperkuat para pelaku industri untuk menghadapi tantangan global, beradaptasi dengan inovasi teknologi sekaligus membuka peluang kolaborasi baru dalam industri grafika.

3. JPE hadirkan teknologi terbaru dunia percetakan

Jogja Printing Expo 2026 di JEC, DIY, Rabu (8/4/2026). (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Jogja Printing Expo 2026 berlangsung pada 8-11 April 2026 di JEC dan diselenggarakan oleh Krista Exhibitions sebagai wadah strategis bagi industri grafika untuk menampilkan teknologi terbaru, memperluas jaringan bisnis, serta mendorong pertumbuhan sektor percetakan nasional.

CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menegaskan komitmen tersebut. "Kami berharap sinergi yang terbangun di Jogja Printing Expo 2026 dapat berkontribusi nyata dalam meningkatkan daya saing industri percetakan Indonesia secara berkelanjutan," ujarnya.

Pameran ini diikuti 35 peserta, termasuk 15 UMKM, yang menghadirkan berbagai inovasi seperti digital printing beresolusi tinggi dengan teknologi CMYK+, mesin offset, rotogravure, dan flexo berbasis otomasi dan IoT.

Selain itu hadir teknologi UV-curing dan hybrid printing, hingga solusi finishing seperti laminasi, die-cutting, dan binding, serta inovasi ramah lingkungan.

Kegiatan ini juga diselenggarakan bersamaan dengan Jogja Food & Beverage Expo, Jogja Pack & Process Expo, dan Jogja All Tea Expo 2026 untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Jogja Printing Expo dilengkapi program business matching guna mempertemukan pelaku usaha dengan investor dan mitra potensial, dengan dukungan berbagai pihak termasuk Kamar Dagang dan Industri Indonesia dan Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia.

Editorial Team