Wisata Gubuk Kopi di Dusun Sendaren, Desa Karangrejo, Magelang, Jawa Tengah. (Dok. Istimewa)
Keterbatasan bahan baku membuat produksi gula kelapa di Karangrejo belum bisa ditingkatkan secara signifikan. Agus mengaku kerap menerima permintaan dari wisatawan mancanegara yang ingin pengiriman dalam jumlah besar dan berkala. “Karena keterbatasan produksi, kami tidak bisa melayani permintaan ekspor,” ujarnya.
Produk gula kelapa yang dihasilkan tersedia dalam bentuk balok dan serbuk. Gula ini biasa digunakan sebagai campuran kopi atau bahan masakan. Harganya berkisar antara Rp20.000 hingga Rp30.000, tergantung jenisnya. Dikemas dengan anyaman bambu, produk ini juga kerap dibeli sebagai oleh-oleh. “Produksi kami sehari baru sekitar 70 kilogram, banyak pengunjung yang tidak kebagian, jadi mereka cuma ngopi-ngopi saja di sini,” tambahnya.
Agus menyebut, meningkatnya jumlah pengunjung tak lepas dari kehadiran Balkondes (Balai Ekonomi Desa) yang dibangun melalui program CSR PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk. Balkondes tidak hanya berfungsi sebagai pusat pelatihan dan pemberdayaan masyarakat, tetapi juga menjadi penunjang kegiatan ekonomi dan pariwisata desa.
Menurutnya, PGN secara rutin mengadakan berbagai event yang turut mendongkrak kunjungan wisatawan. Salah satunya Suadesa Festival 2025 yang berlangsung di Gasblock PGN Karangrejo pada 10–11 Mei 2025, serta Balkonjazz Festival di tahun-tahun sebelumnya.
“Setiap event yang diselenggarakan meningkatkan pengunjung ke tempat kami dan pelaku usaha lainnya. Tahun ini paling ramai, karena ada efek Waisak dan Suadesa Festival, pengunjung bisa sampai ribuan, peningkatannya lebih dari seratus persen. Lumayan untuk menutupi Lebaran kemarin yang sepi,” ujar Agus.