Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Financial Festival 2026 Digelar di JEC,  Literasi Keuangan Anak Muda
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Prof. Anggito Abimanyu saat menjelaskan Jogja Financial Festival dan Jogja Run D-City, di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Selasa (12/5/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Jogja Financial Festival 2026 akan digelar di GIK UGM pada 22–24 Mei 2026, menghadirkan sektor keuangan, pemerintah, dan akademisi untuk meningkatkan literasi finansial masyarakat.
  • Acara ini menargetkan ribuan pengunjung dengan rangkaian kegiatan seperti financial expo, edukasi, literasi, job fair, serta hiburan agar edukasi keuangan terasa lebih dekat dan menarik.
  • Festival difokuskan pada generasi muda agar lebih bijak mengelola keuangan digital dan memahami risiko investasi, sekaligus mencegah keterlibatan dalam investasi ilegal atau bodong.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times – Jogja Financial Festival dan Jogja Run D-City bakal digelar di Jogja Expo Center (JEC) serta Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM) pada Jumat (22/5/2026) hingga Minggu (24/5/2026). Kegiatan yang digelar Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini menghadirkan berbagai industri sektor keuangan, lembaga pemerintah, hingga akademisi untuk mendorong edukasi dan literasi finansial masyarakat.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Prof. Anggito Abimanyu, mengatakan festival tersebut dikemas dalam bentuk eksibisi dan edukasi keuangan yang dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda.

“Ya sesuai dengan namanya, jadi kita ingin memberikan informasi, pendidikan, sosialisasi, literasi pada masyarakat tentang kondisi keuangan, produk-produk keuangan, jasa keuangan yang perkembangannya sudah sangat luar biasa,” ujar Anggito, di GIK UGM, Selasa (12/5/2026).

1. Sektor jasa keuangan terus berkembang

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Prof. Anggito Abimanyu saat menjelaskan Jogja Financial Festival dan Jogja Run D-City, di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Selasa (12/5/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Anggito menjelaskan perkembangan sektor jasa keuangan saat ini semakin beragam, mulai dari bank konvensional, bank syariah, bank digital, pasar modal, surat berharga, hingga aset digital seperti kripto dan bitcoin. Menurutnya, masyarakat perlu memahami peluang sekaligus risiko dari perkembangan tersebut.

“Supaya masyarakat bisa memanfaatkan, tapi juga harus berhati-hati terhadap risiko-risiko dari penggunaan jasa keuangan,” katanya.

Dalam penyelenggaraannya, Jogja Financial Festival menargetkan sekitar 8.000 pengunjung selama tiga hari pelaksanaan. Sementara Jogja Run D-City ditargetkan diikuti sekitar 5.000 peserta.

2. Edukasi finansial hingga job fair

Ilustrasi investasi (freepik.com)

Anggito mengatakan acara tersebut tidak hanya menghadirkan seminar, tetapi juga financial expo, edukasi, literasi, hingga job fair. Berbagai hiburan juga disiapkan agar pengunjung lebih nyaman mengikuti rangkaian acara.

“Ini bukan seminar ya, sifatnya eksibisi, pameran, edukasi, literasi, kemudian ada job fair juga. Jadi masing-masing bisa memanfaatkan sesuai kepentingannya,” ungkapnya.

Menurut Anggito, literasi keuangan bagi generasi muda saat ini menjadi semakin penting karena kemudahan akses layanan digital membuat anak muda lebih cepat melakukan transaksi maupun investasi.

“Generasi muda sekarang ini sangat digital, sangat instan. Kalau buka rekening tinggal aplikasi, transaksi juga pakai aplikasi. Kemudahan itu memberikan dampak negatif juga kalau tidak hati-hati,” ujarnya.

3. Menyasar generasi muda

ilustrasi gen Z (IDN Times/Indonesia Gen Z Report)

Anggito menilai banyak anak muda mengambil keputusan finansial hanya karena ikut tren tanpa memahami risiko investasi yang dipilih. Karena itu, festival tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan dan investasi yang aman.

“Jangan sampai mereka masuk ke investasi bodong, investasi yang iming-iming, sampai investasi yang tidak legal,” katanya.

Anggito menyebut risiko investasi saat ini memang semakin besar seiring munculnya banyak instrumen keuangan baru. Namun di sisi lain, potensi keuntungan yang ditawarkan juga lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Selain itu, ia juga menyoroti karakter masyarakat Yogyakarta yang dinilai cenderung lebih konservatif dalam mengelola keuangan. “Di Jogja itu lebih safety first, lebih risk averse, lebih konservatif. Lifestyle-nya lebih tenang dan stabil,” tuturnya.

Editorial Team