Comscore Tracker

Resmi Dibuka, ARTJOG 2022 Gandeng Seniman Lintas Usia dan Gender

Sudah siap ke ARTJOG tahun ini?

Yogyakarta, IDN Times – Setelah dua tahun diadakan secara daring, akhirnya di tahun 2022 ini ARTJOG sebagai salah satu pameran seni tahunan terbesar di Yogyakarta, kembali dihelat secara terbuka. Pada Kamis (7/07/2022), ARTJOG 2022 resmi dibuka dengan mengusung tema "Expanding Awarness".

Tahun ini, setidaknya ada 61 seniman yang turut ambil peran melalui ARTJOG dengan total lebih dari 300 karya yang ditampilkan. Pameran ini berlokasi di Jogja National Museum (JNM) dan berlangsung sampai tanggal 4 September 2022.

1. Merangkul seniman dari beragam usia, gender, dan difabel

Resmi Dibuka, ARTJOG 2022 Gandeng Seniman Lintas Usia dan GenderPembukaan Artjog 2022 di Jogja National Museum (IDN Times/Dyar Ayu)

Direktur ARTJOG, Heri Pemad, mengatakan ARTJOG kembali hadir bersama seniman-seniman yang telah loyal bekerja keras menghadirkan karya terbaiknya, untuk menandai zaman dengan karya.

“Harapan saya, ingin merawat semangat ini. Semangat inklusivitas sebagaimana fokus ARTJOG sekarang ini. Tema 'perluasan kesadaran' bisa menjadi pijakan penyelenggaraan ARTJOG yang akan datang,” katanya dalam sambutannya di pembukaan ARTJOG 2022, Kamis.

Di pagelaran tahun ini, pihaknya merangkul 61 seniman dengan jenjang usia yang berbeda-beda. Mulai dari seniman usia 7 tahun sampai perupa 74 tahun. Selain itu, ada juga peserta difabel dan beragam identitas gender yang turut meramaikan pameran dengan karyanya.

Baca Juga: Siap-siap ArtJog 2022 Mulai Digelar Bulan Juli, Catat Tanggalnya!     

2. Penutup tema Arts-in-Common

Resmi Dibuka, ARTJOG 2022 Gandeng Seniman Lintas Usia dan GenderKurator ARTJOG, Agung Hujatnikajennong. (Dok. ARTJOG)

Sementara, Kurator ARTJOG, Agung Hujatnikajennong, mengatakan ARTJOG 2022 "Expanding Awareness" menjadi penutup rangkaian festival sejak 2019 dibingkai dengan payung tema besar arts-in-common. Menurut dia, seleksi kuratorial dan program-program edukasinya dirancang untuk menghadirkan spektrum yang selama ini eksis di luar ‘arus utama’ kesenian Indonesia, termasuk seni yang dipraktikkan oleh lingkaran-lingkaran anak-anak, remaja dan komunitas difabel.

"Kami percaya bahwa melalui kesenian, perluasan kesadaran dimungkinkan terjadi bukan melalui proses yang serba didaktik, linier dan searah, melainkan secara akumulatif dan resiprokal di antara karya-karya seniman dan khalayak, sehingga kesadaran tentang inklusivitas yang kami suarakan juga dapat berdampak meluas, di luar dunia kesenian,” ungkapnya.

3. Diharapkan jadi trigger untuk seniman lain untuk berkarya lagi

Resmi Dibuka, ARTJOG 2022 Gandeng Seniman Lintas Usia dan GenderSalah satu karya di Artjog 2022 di Jogja National Museum (IDN Times/Dyar Ayu)

“Saya rasa masyarakat sudah terpuaskan, amazing karya-karyanya, dan yang terpenting selalu membawa sesuatu yang baru. Harapannya tentu ARTJOG menjadi trigger bagi seniman untuk berkreasi tanpa batas, ditampilkan kepada masyarakat secara luas, dan memahami bahwa sebuah seni seperti membuka diri,” ujar GKR Bendara setelah berkeliling melihat karya-karya seniman di pameran ini.

GKR Bendara juga berharap karya-karya seniman bisa mengikuti perkembangan zaman sehingga bisa semakin menarik minat masyarakat akan seni.

Ditemui dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Singgih Raharjo juga mengungkapkan bahwa keberadaan ARTJOG bisa menarik wisatawan, yang tak hanya ingin menyaksikan wisata alam Yogyakarta saja, tapi juga mampir memenuhi hasrat kesukaan akan seni.

4. Berbagai karya menarik dan luar biasa dipajang di ARTJOG 2022

Resmi Dibuka, ARTJOG 2022 Gandeng Seniman Lintas Usia dan Genderkeramaian pembukaan Artjog 2022 di Jogja National Museum (IDN Times/Dyar Ayu)

ARTJOG di tahun ini juga tak kalah berwarna dan berani seperti tahun-tahun sebelumnya. Misalnya dengan karya instalasi Christine Ay Tjoe yang terinspirasi dari hewan air mikroskopis tardigrada. Karya ini bermakna bahwa sesulit apa pun bencana yang menghantam manusia, akan tetap ada daya juang hidup untuk bertahan.

Ada juga seniman Tamarra yang melalui karya berjudul Tantular, ia menggambarkan kondisi masyarakat kebanyakan Indonesia yang khawatir ‘tertular’ oleh pilihan hidup orang lain yang bersifat heterogen. Karena hal ini, masih banyak terjadi diskriminasi kepada kelompok-kelompok yang dianggap bertolak belakang dengan norma yang dipegang leluhur sejak lama.

*Artikel ini telah dimutakhirkan pada Jumat (8/7/2022) pukul 19.20 WIB.

Baca Juga: 19 Event Wisata Jogja Juli 2022, Ada Prambanan Jazz!

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya