Ilustrasi pesawat Qatar Airways (IDN Times/Irfan Fathurohman)
Lebih lanjut, ia menjelaskan kawasan Teluk mencakup sejumlah negara dengan konektivitas penerbangan internasional yang sangat penting bagi mobilitas WNI.
"Semua negara teluk itu punya pesawat, punya apa ya maskapai kan, punya maskapai, kok pesawat. Punya maskapai, Qatar Air, Emirates, Etihad, kemudian Gulf Air, Saudia," kata Siti.
Maskapai tersebut menjadi penghubung utama penerbangan internasional dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun dalam situasi konflik yang memanas, aktivitas penerbangan di kawasan tersebut mulai dibatasi, bahkan ditangguhkan operasionalnya.
"Jadi sekarang terhenti semua, karena ini jadi target Iran untuk diserang. Jadi target Iran untuk diserang jadi mereka enggak berani menerbangkan maskapainya gitu ya," ujar Siti.
Kondisi ini, menurutnya kemungkinan membuat banyak warga Indonesia tertahan di sana. Siti menekankan situasi keamanan yang memburuk membuat banyak WNI di kawasan tersebut merasa khawatir.
"Jadi ini kan dia juga khawatir, biasanya dia dievakuasi di negara teluk lain. Lah ini yang harus kemudian kita siapkan, itu evakuasi warga sana," ungkap Siti.
Ia mengungkapkan pihak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) sebenarnya telah memiliki rencana evakuasi, tetapi belum disampaikan secara terbuka kepada publik. Hal itu menurutnya menimbulkan kebingungan.
Ia juga memahami tidak semua WNI ingin segera meninggalkan kawasan tersebut. Namun menurutnya pemerintah tetap menyediakan opsi evakuasi yang jelas.
"Jadi banyak ya juga yang enggak mau kita evakuasi tapi kan ada program untuk evakuasi," tegasnya.