Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi rumah sakit (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi rumah sakit (IDN Times/Arief Rahmat)

Intinya sih...

  • Seluruh biaya perawatan ditanggung pemerintah melalui anggaran Jamkesda atau biaya tak terduga bencana alam.

  • Kerugian akibat bencana gempa bumi mencapai Rp1,3 miliar, termasuk perbaikan sekolah dan rumah warga yang rusak ringan.

  • Masyarakat Bantul diminta waspada terhadap ancaman bencana hidrometeorologi, namun tidak perlu panik

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bantul, IDN Times - Sebanyak 11 orang masih menjalani rawat inap di rumah sakit Bantul pasca terjadinya gempa bumi pada Jumat (6/2/2026).

‎Sekda Kabupaten Bantul, Agus Budi Raharja, mengatakan 11 orang tersebut tidak mengalami luka berat. ‎"Memang ada yang mengalami patah tulang, hal itu terjadi karena warga panik ketika gempa terjadi dan berusaha untuk keluar dari rumah, justru terjatuh hingga mengakibatkan patah tulang," katanya, Selasa (10/2/2026). Para korban menjalani rawat inap diberbagai rumah sakit di Bantul.

1. ‎ Seluruh biaya perawatan ditanggung pemerintah

Sekda Bantul, Agus Budi Raharja.(IDN Times/Daruwaskita)

Menurutnya, seluruh biaya perawatan di rumah sakit akan ditanggung Pemkab Bantul, melalui anggaran Jamkesda atau biaya tak terduga bencana alam.

"Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Bantul akan berkoordinasi dengan rumah sakit yang merawat korban gempa untuk memastikan seluruh biaya perawatan dicover pemerintah," tandasnya.

2. ‎ Kerugian akibat bencana gempa bumi mencapai Rp1,3 miliar

Atap Samsat Bantul runtuh akibat gempa bumi di Pacitan. (Dok BPBD Bantul)

Terkait bangunan sekolah yang rusak, dipastikan sudah diperbaiki sehingga proses belajar mengajar sudah normal. Sedangkan untuk rumah warga yang mengalami rusak ringan, dilakukan perbaikan secara mandiri oleh pemilik rumah.‎

‎"BPD Bantul telah menghitung kerugian materi akibat dampak bencana gempa bumi diperkirakan mencapai Rp1,3 miliar. Itu data sementara ya, dan dimungkinkan bisa bertambah karena asesment masih terus dilakukan oleh BPBD," ujarnya.

3. ‎ Masyarakat Bantul diminta waspada, tapi tak perlu panik

Sekretaris pelaksana BPBD Bantul Ribut Bimo Haryo Tejo. (IDN Times/Daruwaskita)

Sekretaris pelaksana BPBD Bantul Ribut Bimo Haryo Tejo, mengatakan proses asesment kerusakan infrastruktur dan warga yang terluka masih berjalan. "Data kerusakan infrastruktur atau manusia itu masih sementara, sehingga bisa berpotensi bertambah," tandasnya.

Ia pun mengingatkan warga Bantul untuk bersiap jika terdapat bencana. "Saat ini kita masih ada ancaman bencana hidrometeorologi yang sesuai prediksi BMKG, musim hujan masih berlangsung hingga bulan Maret 2026," ujarnya.

‎‎"Pemerintah Bantul, BPBD akan selalu hadir di tengah masyarakat. Pokoknya masyarakat jangan panik, kita hadapi semua untuk yang terbaik bagi masyarakat Bantul," pungkasnya.

Editorial Team