Yogyakarta, IDN Times - Praktik child grooming kerap diawali dengan pendekatan yang terlihat wajar, penuh perhatian, dan kerap luput dikenali. Kasus yang dialami Aurelie Moeremans sejak remaja menunjukkan bagaimana relasi antara orang dewasa dan anak dapat dibangun secara bertahap hingga memicu ketergantungan emosional yang berisiko.
Psikolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, mengatakan pola tersebut menjadi ciri utama dalam praktik child grooming. Menurutnya, pelaku secara perlahan membangun kedekatan emosional dengan anak sebelum memanfaatkan relasi itu demi kepentingan pribadi.
“Child grooming dilakukan melalui proses yang perlahan dan manipulatif. Pelaku berupaya menciptakan ketergantungan emosional anak. Ketika anak sudah merasa aman dan bergantung, di situlah pelaku mulai mengambil keuntungan dari relasi tersebut, yang paling sering berujung pada eksploitasi seksual,” jelas Cahyo pada Sabtu (17/1/2026) dilansir laman resmi UMY.
