Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cerita Produsen Telur Asin di Bantul, Bangkit Usai Gempa lewat PKH
ilustrasi telur asin (pixabay.com/Andry Hariana)
  • Khoiru Zamanudin memulai usaha Telur Asin Kharisma pada 2008 setelah gempa Yogyakarta merobohkan toko kelontong keluarganya, terinspirasi dari pengalaman orang tuanya membuat telur asin.
  • Melalui bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) tahun 2016, usahanya berkembang pesat dengan omzet harian naik dari di bawah Rp100 ribu menjadi sekitar Rp300 ribu dan pelanggan makin banyak.
  • Telur Asin Kharisma kini melayani pesanan besar hingga 4.000 butir melalui program MBG, menjaga kualitas produk agar pelanggan tetap loyal, dengan harga jual Rp3.300 per butir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bantul, IDN Times - Khoiru Zamanudin, warga Malangjiwan, Bakung, Bangunharjo, Sewon, mengembangkan usaha Telur Asin Kharisma sejak 2008. Usaha tersebut dirintis setelah gempa besar melanda Yogyakarta yang menyebabkan bangunan tempat usahanya sebelumnya roboh, sehingga ia harus memulai kembali dari awal.

“Mulai usaha itu tahun 2008 setelah gempa, kita mencoba usaha telur asin karena ini usaha makanan, kan orang hidup itu pasti butuh makan. Maka harapannya usaha ini bisa terus berlanjut,” ujar Khoiru, dikutip dari laman resmi Pemkab Bantul, Rabu (8/4/2026).

1. Toko kelontong rusak pascagempa jadi titik balik

Khoiru menceritakan, lokasi usahanya semula merupakan toko kelontong milik keluarga. Setelah bangunan tersebut roboh akibat gempa, ia dan keluarga sempat kebingungan menentukan usaha yang akan dijalankan. Berbekal pengalaman orang tuanya yang pernah memproduksi telur asin, Khoiru kemudian memutuskan untuk melanjutkan usaha tersebut.

“Tempat ini awalnya untuk usaha kelontong, setelah gempa roboh, nah kita bingung tempat ini mau dibangun apa. Dulu orang tua memang pernah usaha telur asin, lalu kita coba melanjutkan,” kenang Khoiru.

Perkembangan usahanya mulai terlihat setelah menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) pada 2016. Bantuan itu dimanfaatkan sebagai tambahan modal untuk memperkuat usaha.

“Kita dibantu PKH, akhirnya usaha makin maju. Lama-lama dirasa sudah mampu, jadi kami mengundurkan diri sebagai penerima,” bebernya.

2. Omzet dan pelanggan terus bertambah

ilustrasi telur asin (vecteezy.com/anzzmedia)

Seiring waktu, usaha Telur Asin Kharisma terus berkembang. Omzet yang semula di bawah Rp100 ribu per hari kini meningkat hingga sekitar Rp300 ribu per hari. Jumlah pelanggan juga bertambah, terutama dari pasar serta saat momen tertentu seperti Ramadan dan musim hajatan.

“Jadi dulu modal juga dari PKH itu. Kalo omzet dulu kita di bawah Rp100 ribu, makin lama makin banyak kita dibawah Rp 200. Pelanggan makin banyak kita omzet sampai Rp300. Untuk hari-hari biasa kita per hari bisa Rp300 pelanggan di pasar, pas Ramadan itu pesanan banyak, mantenan juga banyak,” terangnya.

3. Terima pesanan MBG

Selain melayani pembelian eceran, Khoiru Zamanudin juga menerima pesanan dalam jumlah besar. Ia menyebut pernah mendapatkan pesanan hingga 4.000 butir telur asin dari program MBG, yang sudah dilakukan sebanyak dua kali.

Menurutnya, keberhasilan usaha tersebut tidak lepas dari upaya menjaga kualitas produk agar pelanggan tetap loyal. “Kita menjaga kualitas, jadi orang yang sudah pernah pesan di kita itu menikmati dan ketagihan, mau beli lagi,” ujarnya.

Ia menjual telur asin dengan harga Rp3.300 per butir. Untuk pemasaran, produk Telur Asin Kharisma telah menjangkau pasar Kotagede. Selain itu, pemesanan juga bisa dilakukan secara langsung, dengan layanan antar untuk pembelian dalam jumlah besar.

Editorial Team