Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Julia Syifa Az-Zahra, mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga yang magang di KBRI Astana, Kazakhstan.
Julia Syifa Az-Zahra, mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga yang magang di KBRI Astana, Kazakhstan. (Dok. UIN Sunan Kalijaga)

Intinya sih...

  • Julia Syifa Az-Zahra, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, menjalani magang di KBRI Astana Kazakhstan selama hampir tiga bulan.

  • Latar belakang akademik Sastra Inggris di UIN Sunan Kalijaga menjadi bekal penting bagi Zahra dalam menghadapi program magang internasional.

  • Pengalaman magang di Astana membuka tantangan personal bagi Zahra, namun juga memberi kesempatan untuk merespons peluang global.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah tuntutan globalisasi yang mendorong perguruan tinggi menyiapkan lulusan berdaya saing internasional, UIN Sunan Kalijaga mengirimkan mahasiswanya untuk terlibat langsung dalam ruang global. Salah satunya Julia Syifa Az-Zahra, mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, yang mengikuti kegiatan di ranah diplomasi Indonesia di Kazakhstan.

Melalui program magang internasional di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Astana, Zahra memperoleh pengalaman terlibat dalam praktik diplomasi budaya dan komunikasi. Pengalaman tersebut menjadi gambaran upaya UIN Sunan Kalijaga dalam mempersiapkan mahasiswa agar mampu berperan di tingkat internasional.

1. Menjalani rotasi ke berbagai fungsi utama KBRI

Julia Syifa Az-Zahra, mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga yang magang di KBRI Astana, Kazakhstan. (Dok. UIN Sunan Kalijaga)

Zahra mengikuti program magang internasional di Astana, Kazakhstan, sejak 6 November 2025. Selama hampir tiga bulan, ia menjalani sistem rotasi di empat fungsi utama KBRI Astana, mulai dari penerangan, sosial, dan budaya; administrasi; protokol, konsuler, dan pelindungan WNI; hingga fungsi ekonomi, politik, dan digital.

"Pola kerja lintas fungsi ini memberi saya gambaran utuh tentang bagaimana diplomasi Indonesia dijalankan dari balik layar,” tuturnya.

Dalam program tersebut, Zahra terlibat dalam sejumlah agenda strategis kedutaan, antara lain penyambutan atlet judo Indonesia, kehadiran pada ajang seni internasional, serta dukungan untuk atlet bulu tangkis nasional.

Pengalaman yang paling berkesan baginya terjadi saat dipercaya tampil dalam Resepsi Diplomatik KBRI Astana. Di hadapan tamu internasional, Zahra membawakan Tari Persembahan Melayu dari Sumatera sebagai bentuk diplomasi budaya Indonesia. Meski tidak memiliki latar belakang sebagai penari, ia menjalani latihan intensif selama beberapa pekan untuk memenuhi kepercayaan tersebut.

“Melalui berbagai agenda resmi, saya belajar bahwa semangat kebangsaan tetap hidup meski jauh dari Tanah Air,” ujar Zahra. Bagi mahasiswa angkatan 2022 ini, magang internasional menjadi proses pembentukan karakter dan kesadaran kebangsaan, sekaligus pengingat bahwa budaya tetap menjadi pijakan di tengah keberagaman dunia.

2. Latar belakang akademik jadi bekal penting

Julia Syifa Az-Zahra, mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga yang magang di KBRI Astana, Kazakhstan. (Dok. UIN Sunan Kalijaga)

Zahra menyebut latar belakang akademik Sastra Inggris di UIN Sunan Kalijaga menjadi bekal penting selama mengikuti program magang internasional. Kompetensi yang diperolehnya di bangku kuliah, seperti kemampuan berpikir kritis, menulis, analisis teks, serta kepekaan sosial dan budaya, dinilai menunjang berbagai tugas di lingkungan kedutaan, mulai dari penyusunan laporan, komunikasi tertulis, hingga produksi konten komunikasi publik.

“Selain kemampuan akademik, nilai-nilai yang ditanamkan selama perkuliahan, seperti sikap reflektif, terbuka, dan adaptif, menjadi fondasi penting bagi saya dalam menghadapi lingkungan kerja lintas budaya,” ujar Zahra.

Ia menilai UIN Sunan Kalijaga berperan signifikan dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan global. Proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk berpikir terbuka dan berani mengambil peluang internasional. Dukungan dosen serta ekosistem akademik yang inklusif disebutnya menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk berkembang dan melangkah lebih jauh.

3. Tantangan yang membuka peluang

Julia Syifa Az-Zahra, mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga yang magang di KBRI Astana, Kazakhstan. (Dok. UIN Sunan Kalijaga)

Pengalaman magang di Astana turut memberi tantangan personal bagi Zahra. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan institusi diplomatik yang menuntut standar profesionalisme tinggi, menghadapi keterbatasan bahasa Rusia, serta menyesuaikan diri dengan cuaca ekstrem Kazakhstan. Dari situ, Zahra belajar membangun disiplin, keberanian, dan kesiapan menghadapi dinamika kerja global.

“Kesempatan global sering kali datang bukan dalam bentuk rencana yang sempurna, melainkan dari keberanian untuk merespons peluang yang ada,” ujarnya kepada mahasiswa yang ingin meniti karier di ranah internasional.

Ia menyadari proses tersebut tidak selalu berjalan mudah. Namun, setiap keberanian untuk mencoba diyakininya dapat membuka jalan baru. “Persiapkan diri sebaik mungkin, percaya pada proses, dan jangan takut melangkah keluar dari zona nyaman,” tambah Zahra.

Pengalaman Zahra mencerminkan proses pembentukan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang tidak hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan berperan di ruang global dengan tetap berpijak pada nilai keilmuan dan kebangsaan.

Editorial Team