Petani Punk Gunungkidul dan Yayasan Biijana Paksi Sitengsu. (Dokumentasi Istimewa)
Petani Punk Gunungkidul, SiBagz menyambut baik hadirnya dapur MBG yang menggandeng para petani di Gunungkidul. Menurutnya, program ini menjadi angin segar bagi para petani muda yang selama ini sering mengalami kendala dalam pemasaran hasil panen.
Ia berharap program ini menjadi momentum regenerasi petani, mengingat pentingnya peran petani muda dalam menjaga ketahanan pangan hingga 20 tahun ke depan.
"Selama ini hasil pertanian sayur di Gunungkidul luar biasa, namun terkadang bingung untuk pemasaran dan harus bergantung pada pengepul. Dengan adanya Dapur MBG, kami berharap petani lokal termasuk potensi petani milenial atau Gen Z, bisa langsung menyuplai kebutuhan bahan pangan tanpa melalui rantai distribusi yang panjang," ujar SiBagz.
Sementara, RM Wahyono Bimarso dari Yayasan Biijana Paksi Sitengsu mengatakan melalui koordinasi intensif antara Yayasan Biijana Paksi Sitengsu dengan Badan Gizi Nasional (BGN), integrasi pasokan pangan lokal kini memasuki tahap pematangan untuk mendukung penuh program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Di wilayah seperti Gunungkidul, kata RM Wahyono, sistem ini menggandeng komunitas lokal seperti Petani Punk untuk menyuplai bahan baku. Dengan SIMETRIS, pemerintah bertindak sebagai pembeli resmi (offtaker). Hasilnya, petani mendapatkan kepastian pasar dengan harga yang adil, sementara anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi terbaik dari tanah mereka sendiri.
"Melalui integrasi ini, program Makan Bergizi Gratis di DIY bukan hanya soal memberi makan, tetapi membangun ekosistem ekonomi desa yang tangguh, sehat, dan transparan dari hulu ke hilir," katanya.