Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
engukuhan Asosiasi Keroncong Djokjakarta (AKDjok) di Mili Shaggydog Cafe, Yogyakarta, Kamis (15/1/2026).
engukuhan Asosiasi Keroncong Djokjakarta (AKDjok) di Mili Shaggydog Cafe, Yogyakarta, Kamis (15/1/2026). (Dok. Pemkot Yogyakarta)

Intinya sih...

  • AKDjok dibentuk sebagai wadah interaksi bagi pelaku keroncong untuk saling berbagi pengalaman dan berkarya bersama. Asosiasi ini juga memiliki agenda rutin bulanan yang difokuskan pada edukasi dan ruang ekspresi musik keroncong.

  • Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyampaikan apresiasi atas besarnya minat generasi muda terhadap musik keroncong. Ia juga menyoroti pesatnya perkembangan keroncong di Kota Yogyakarta, baik dalam bentuk klasik maupun alternatif.

  • Keroncong dinilai sebagai capaian budaya yang istimewa. Musik ini lahir dari kemampuan masyarakat mengolah berbagai instrumen Barat dengan jiwa kebudayaan sendiri.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Musik keroncong selama ini kerap dilekatkan dengan generasi tua. Meski demikian, sejumlah anak muda mulai terlibat dalam upaya menjaga keberlanjutan keroncong agar tetap hidup dan mengikuti perkembangan zaman.

Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui pengukuhan Asosiasi Keroncong Djokjakarta (AKDjok) di Mili Shaggydog Cafe, Yogyakarta, Kamis (15/1/2026). Kegiatan ini dihadiri seniman keroncong, pegiat seni, budayawan, serta komunitas musik dari berbagai generasi.

1. Wadah berbagi pengalaman dan berkarya

Ketua AKDjok, Suroso Khocil Birawa, menyampaikan bahwa pengukuhan asosiasi tersebut melibatkan sekitar 40 undangan dari kalangan seniman keroncong dan pegiat seni, serta terbuka bagi masyarakat umum. Dukungan terhadap keroncong sebagai identitas musik di Kota Yogyakarta juga datang dari band asal Yogyakarta, Shaggydog.

Menurut Suroso, AKDjok dibentuk sebagai wadah interaksi bagi pelaku keroncong untuk saling berbagi pengalaman dan berkarya bersama. Asosiasi ini juga memiliki agenda rutin bulanan yang difokuskan pada edukasi dan ruang ekspresi musik keroncong.

“Kami punya program rutin sebulan sekali sebagai ruang edukasi dan ekspresi keroncong setiap tanggal 15. Tagline kami adalah edukasi dan kreasi keroncong. Kami juga mendapat dukungan ruang dari Bentara Budaya,” jelasnya dilansir laman resmi Pemkot Yogyakarta.

Ia menambahkan, pembentukan AKDjok terinspirasi dari konsistensi komunitas jazz yang mampu menjaga keberlangsungan pertunjukan dalam jangka panjang. Suroso berharap, pengembangan keroncong di Yogyakarta dapat berjalan secara berkelanjutan dengan dukungan berbagai pihak.

“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Prinsip kami mari bareng-bareng membangun keroncong agar terus berkembang di Yogyakarta,” katanya.

2. Apresiasi keterlibatan anak muda

Ilustrasi pertunjukan musik keroncong. (IDN Times/Daruwaskita)

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyampaikan apresiasi atas besarnya minat generasi muda terhadap musik keroncong. Ia menilai perkembangan komunitas keroncong yang tumbuh saat ini menunjukkan dinamika yang positif dan layak mendapat perhatian.

Menurut Wawan, keterlibatan anak muda dalam berbagai aktivitas keroncong, termasuk upaya mengenalkan musik tersebut ke berbagai tempat, menjadi hal yang patut diapresiasi. “Kelompok-kelompok keroncong ini sangat luar biasa. Apalagi untuk anak-anak muda kita. Bahkan ada yang berkeliling ke berbagai tempat untuk sosialisasi musik keroncong. Ini patut kita apresiasi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pesatnya perkembangan keroncong di Kota Yogyakarta, baik dalam bentuk klasik maupun alternatif. Meski hampir di setiap kampung terdapat aktivitas latihan keroncong, Wawan menilai masih dibutuhkan ruang interaksi dan wadah yang lebih terorganisasi.

Wawan menegaskan, Pemerintah Kota Yogyakarta berkomitmen mendukung pengembangan musik keroncong melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata. Ia juga membuka peluang kolaborasi keroncong dengan genre musik lain agar lebih diminati generasi muda. “Saya mengapresiasi setinggi-tingginya terbentuknya Asosiasi Keroncong Yogyakarta. Ini adalah awal yang baik dan harapan kami bisa langgeng. Secara pribadi saya siap menjadi pembina dan mendukung penuh. Dengan musik, kita bisa berdiplomasi budaya,” tambahnya.

3. Keroncong capaian budaya yang istimewa

Salah satu peserta pengukuhan yang juga budayawan, Dr. Sindhunata, memandang keroncong sebagai capaian budaya yang istimewa. Ia menilai musik ini lahir dari kemampuan masyarakat mengolah berbagai instrumen Barat dengan jiwa kebudayaan sendiri.

“Ini penemuan yang luar biasa. Kita mampu memainkan gitar, cello, ukulele, dan lainnya dalam spirit kebudayaan kita sendiri,” tuturnya.

Menurut Sindhunata, pengukuhan AKDjok merupakan momentum penting yang layak disyukuri, terlebih Yogyakarta selama ini dikenal sebagai kota dengan ekosistem seni yang kuat. Ia menilai basis komunitas keroncong di kota ini sangat besar dan memiliki potensi keberlanjutan.

“Komunitas keroncong sangat besar. Jika dikelola dengan kompak dan konsisten, saya yakin keroncong akan terus hidup dan berkembang,” imbuhnya.

Editorial Team