Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi kegiatan doa bersama masyarakat (pexels.com/ irwan zahuri)
ilustrasi kegiatan doa bersama masyarakat (pexels.com/ irwan zahuri)

Intinya sih...

  • Warga Desa Gedangan, Gunungkidul gelar doa bersama sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan menyambut Idul Fitri
  • Slametan Arioyo mempererat hubungan antarwarga serta menunjukkan rasa tanggung jawab dan kekompakan dalam menjaga tatanan sosial masyarakat
  • Tradisi slametan Arioyo merupakan upaya melestarikan warisan leluhur, mempererat hubungan antarwarga, dan menyambut hari Raya dengan suasana gembira
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah sebulan berpuasa, warga Desa Gedangan, Gunungkidul, menggelar doa bersama sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan. Ini adalah tradisi menyambut Idul Fitri yang juga berfungsi memperbaiki tatanan sosial masyarakat.

Slametan Arioyo tak sekadar kegiatan keagamaan, tapi sekaligus sarana mempererat hubungan antarwarga. Keakraban makin terasa saat warga berkumpul melakukan doa bersama menjelang Lebaran. Mari, telusuri lebih dalam tentang tradisi ini.

1.Slametan untuk mencapai kesejahteraan

ilustrasi orang bersepeda (unsplash.com/ Dikaseva)

Sebuah tradisi keagamaan yang mencerminkan kehidupan harmoni di suatu lingkungan masyarakat. Dalam buku Mistisisme Jawa: Ideologi di Indonesia, Mulder menjelaskan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mencapai keadaan slamet. Maka, agar terwujud demikian, perlu keterlibatan warga.

Kehadiran penduduk setempat menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk saling menguatkan hubungan baik. Tradisi ini juga menunjukkan bahwa warga sekitar menghargai dan memahami aturan-aturan yang berlaku, sehingga mampu menjadi individu yang berbudaya dan beradab. Masyarakat yang kompak menjunjung tinggi norma masyarakat, maka untuk selamat dan sejahtera bisa lebih mudah terwujudnya.

Warga berkumpul di ruang dan waktu yang sudah disepakati, serta datang dengan tujuan yang sama. Saling menyapa dan berinteraksi tanpa membeda-bedakan status sosial, tingkatan ekonomi, maupun keyakinan beragama. Semangat, toleransi, dan kesediaan warga hadir secara sukarela inilah yang jadi salah satu penunjang kesejahteraan masyarakat.

2.Slametan Arioyo menjadi kegiatan rutin masyarakat Gunungkidul

ilustrasi masyarakt doa bersama (pexels.com/ Asmari dotsemarang)

Desa Gedangan, Gunungkidul rutin menggelar slametan menjelang Lebaran, yang dikenal sebagai slametan Arioyo. Dilansir dari laman Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, tradisi ini digelar dalam bentuk doa bersama.

Dulunya, doa dalam slametan ditujukan kepada roh leluhur dan belum berkaitan dengan Idul Fitri. Seiring masuknya ajaran Islam dan semakin berkembangnya pemahaman masyarakat desa, kini doa-doa dalam slametan ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan dilakukan untuk menyambut hari-hari besar, salah satunya Lebaran.

Hingga kini, tradisi tersebut dipertahankan sebagai upaya melestarikan warisan leluhur, dan mempererat hubungan antarwarga setempat.

3. Kegiatan slametan Arioyo

ilustrasi nasi tumpeng (unsplash.com/ Inna Safa)

Slametan Arioyo digelar pada malam menjelang Perayaan Idul Fitri. Selepas solat Maghrib warga mendatangi salah satu rumah penduduk yang dijadikan tempat slametan. Berbeda dengan kenduri biasanya, pada slametan Arioyo warga hadir membawa makanan sendiri-sendiri yang diletakkan di atas tampah beralas daun pisang.

Isi makanan beragam seperti ketupat yang jadi khas Lebaran, tumpeng, gudangan, kue apem, ayam ingkung, dan lainnya. Setiap hidangan melambangkan doa dan ungkapan syukur atas berkah dan kesehatan selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, serta harapan baik lainnya. Ritual doa yang sekaligus simbol persatuan warga dalam suasana gembira menjelang hari Raya.

4.Peran aktif masyarakat membawa kebaikan untuk bersama

ilustrasi pertemuan antarwarga (unsplash.com/ Fadhelife Photography Stock Photo Indonesia)

Rukun menjadi nilai utama dalam kehidupan sosial Jawa. Franz Magnis Suseno dalam bukunya Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, menjelaskan bahwa kerukunan memang menuntut kerelaan tertentu, namun akhirnya menghasilkan kebahagiaan dan mendatangkan banyak kebaikan untuk semua pihak.

Di tengah kesibukan warga menyiapkan segala kebutuhan menjelang Lebaran, tetap bisa meluangkan waktu sejenak untuk menghadiri slametan. Kepedulian dan kekompakan warga mampu membentuk tatanan sosial semakin baik.

Ketika setiap individu dalam masyarakat memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab menjaga kerukunan, maka damai dan sejahtera begitu terasa. Jika suatu saat ada yang mengalami musibah, warga punya empati untuk bergotong royong memberi bantuan. Ini adalah fondasi dalam membangun komunitas yang harmonis.

Slametan Arioyo mendekatkan setiap individu pada Yang Maha Kuasa, tradisi menyambut hari yang fitri ini perlu terus lestari karena dalam kegiatannya sekaligus upaya menjaga kesejahteraan bersama. Selamat, bahagia, sentosa hidupnya.

Editorial Team