Ki Ageng Suryomentaram (ustjogja.ac.id)
Diceritakan dalam jurnal karya Mohamad Nur Hadiudin, Biografi Dan Pemikiran Ki Ageng Suryomentaram (2010): 2, meskipun beliau adalah sosok yang kaya dan memiliki nama besar, tapi ia merasa ada yang salah dengan kehidupannya dan terasa tak lengkap.
Menurut Ki Ageng Suryomentaram, kehidupan dalam keraton mengurungnya dan ia tak bisa melihat apa yang ada di luar hingga akhirnya memutuskan untuk kabur keluar keraton. Awalnya ia pergi ke pergi ke Cilacap dengan menyamar sebagai pedagang kain batik dan setagen atau ikat pinggang. Ia bahkan mengganti namanya menjadi Notodongso.
Berita kaburnya Ki Ageng Suryomentaram akhirnya terdengar oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Sang Sultan pun memerintahkan KRT Wiryodirjo dan RL Mangkudigdoyo untuk mencari dan memanggilnya kembali ke Yogyakarta. Saat itu, Ki Ageng Suryomentaram ditemukan di Kroya sedang bekerja sebagai penggali sumur.
Sekembalinya ke Keraton Yogyakarta, Suryomentaram menjual seluruh harta benda yang dimiliki. Menurutnya, hal yang menjadi alasan timbul rasa kecewa dan tidak puas pada dirinya adalah karena keberadaan harta benda. Seluruh isi rumah dilelang. Mobil dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada sopirnya.
Tak sampai sana saja, kuda pun dijual sementara hasil penjualannya diberikan kepada gamel atau perawat kuda. Pakaian-pakaiannya pun tak luput dibagi-bagikan kepada para pembantunya.
Saat Sri Sultan Hamengku Buwono VII dinobatkan sebagai raja pada tahun 1921, Suryomentaram yang bergelar sebagai pangeran berulang kali mengajukan permohonan berhenti dari kedudukannya sebagai pangeran. Akhirnya, permohonan tersebut dikabulkan dan Sultan memberikan uang f 75 per bulan sebagai tanda masih keluarga kraton.