Comscore Tracker

Kebun Belajar Rumah Tumbuh, Ciptakan Desa yang Ramah Anak

Belajar menjadi lebih bermanfaat untuk sekitar

Kulon Progo, IDN Times - Banyak yang bilang bahwa kota menawarkan lebih banyak mimpi dan kesempatan untuk orang-orang yang ingin sukses. Padahal sejatinya, desa adalah akar dari generasi hebat dengan sejuta kemampuan. Hal inilah yang ingin ditunjukkan oleh Kebun Belajar Rumah Tumbuh di Kamal, Karangsari, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Bayuarga Damar dan keempat kawannya sebagai penggagas komunitas ini ingin menciptakan desa yang ramah anak melalui serangkaian kegiatan yang tidak hanya mendidik, tapi juga menghibur. Tidak ada siapa yang jadi guru di sini, karena semua adalah murid. Ini karena Kebun Belajar Rumah Tumbuh menjadikan kata-kata Ki Hajar Dewantara sebagai moto bersama, yaitu:

“Semua orang adalah murid, semua orang adalah guru, dan semua tempat adalah sekolah.”

Baca Juga: Eri Sulap Rongsokan Motor Jadi Replika Robot Puluhan Juta

1. Sempat vakum, Kebun Belajar Rumah Tumbuh kembali dengan inti belajar yang lebih terarah

Kebun Belajar Rumah Tumbuh, Ciptakan Desa yang Ramah AnakKebun Belajar Rumah Tumbuh, Kulon Progo (instagram.com/kebunbelajar.rumahtumbuh)

“Belajar bareng anak-anak sebenarnya sudah lama, sejak saya masih SMP tahun 2009. Awalnya mengajari anak-anak SD kelas 1, tapi kemudian aku SMK dan kuliah jadi vakum lama.” kata Bayu kepada IDN Times saat menceritakan awal terbentuknya kegiatan yang disebutnya sinau bareng ini, Kamis (11/11/2021).

Pada saat masih SMP itu, Bayu yang merupakan warga asli Kamal sering ditemani teman satu sekolah, Adi namanya.

Pada beberapa tahun terakhir, ia merasa sayang jika harus meninggalkan kebiasaan belajar bersama anak-anak di desanya. Sampai kemudian ia mengajak teman-teman lain yang sevisi untuk memulai kembali dan diberi nama Kebun Belajar Rumah Tumbuh.

Bayu menyebutkan acuan yang selama ini digunakan oleh Kebun Belajar Rumah Tumbuh adalah belajar dengan memiliki konteks. Menurutnya, orang akan mau belajar jika ia tahu kenapa ia harus belajar hal tersebut.

2. Diisi dengan kegiatan diskusi PR hingga life skill yang menyenangkan

Kebun Belajar Rumah Tumbuh, Ciptakan Desa yang Ramah AnakKebun Belajar Rumah Tumbuh, Kulon Progo (instagram.com/kebunbelajar.rumahtumbuh)

Menyadari keterbatasan para mentor yang juga memiliki kesibukan lain, Kebun Belajar Rumah Tumbuh setiap bulannya diadakan dua kali, yaitu pada minggu pertama dan minggu ketiga. Pada minggu pertama diisi dengan mengerjakan tugas atau PR dari sekolah masing-masing.

Uniknya, di sini tugas dan PR anak-anak akan didiskusikan bersama. Bagi yang masih kelas 1 SD, anak-anak kelas 5 dan 6 yang akan jadi guru. Sementara anak-anak kelas 5 sampai 6 yang menjadi pembimbing adalah anak-anak yang sudah SMP. Jadi di sini benar-benar semua belajar bersama dan dipandang sebaya.

Baru pada minggu ketiga kegiatan diisi dengan senang-senang.

“Di Kebun Belajar Rumah Tumbuh kan materi yang kami berikan bukan formal seperti di sekolah. Lebih ke life skill. seperti contohnya kemarin ada materi membuat jasuke (makanan yang terbuat dari jagung, susu, keju), herbarium, es krim menggunakan toples yang mana bisa jadi bekal mereka untuk wirausaha,” ungkap Fiihaa Mayyasya, salah satu mentor.

3. Pandemik tak bikin kegiatan berhenti, justru ikut didukung orang tua dan warga sekitar

Kebun Belajar Rumah Tumbuh, Ciptakan Desa yang Ramah AnakKebun Belajar Rumah Tumbuh, Kulon Progo (instagram.com/kebunbelajar.rumahtumbuh)

Menyelenggarakan kegiatan di tengah pandemi memang gak mudah. Selain harus selalu lapor Dukuh sampai RT dan RW, menjaga protokol kesehatan kepada anak-anak juga jadi tantangan. Para mentor tidak henti-hentinya mengingatkan anak-anak untuk tetap pakai masker, jaga jarak, dan rajin mencuci tangan.

Untungnya, kegiatan ini justru didukung oleh semua pihak termasuk orang tua dari anak-anak yang mengikuti Kebun Belajar Rumah Tumbuh. “Para orang tua ini kan jenuh juga melihat anaknya di rumah terus. Dan salah satu healing yaitu buat bertemu teman dan bermain bersama di sini,” tambah Bayu.

Salah satu usaha mentor di Kebun Belajar Rumah Tumbuh untuk mengingatkan anak-anak bahayanya Covid-19 dan bagaimana cara mengantisipasi penyakit ini juga telah dilakukan. Mereka melakukan Zoom Meeting dengan salah satu teman dokter yang pernah terpapar COVID-19 dan disaksikan anak-anak secara langsung.

Kesulitan yang dirasakan oleh mentor tidak hanya karena adanya pandemik, tapi juga keseriusan anak-anak untuk mau rutin datang belajar bersama. “Jumlah anak-anak yang datang tiap kegiatan tidak tetap. Kadang bisa datang semua, kadang yang datang hanya 1-3 orang. Jadi keseriusan peserta masih naik turun,” kata Fiihaa menambahkan.

Baca Juga: Fachri Kenalkan Kulon Progo lewat Oleh-oleh Cokelat Makaryo

4. Bertahan dari hasil menjual sayuran hidroponik

Kebun Belajar Rumah Tumbuh, Ciptakan Desa yang Ramah AnakKebun Belajar Rumah Tumbuh, Kulon Progo (instagram.com/kebunbelajar.rumahtumbuh)

Saat ditanya perihal pembiayaan, Bayu mengatakan bahwa kegiatan di sana berasal dari penjualan sayur hidroponik.

“Yang membuat kita (Kebun Belajar Rumah Tumbuh) bertahan hidup, untuk beli peralatan atau bahan-bahan belajar adik-adik, dari kakak-kakak mentor yang bikin kebun sayur hidroponik. Adik-adik itu juga ikut menanam dan mengurus tanamannya. Hasil penjualan panen dimasukkan kas untuk kebutuhan belajar,” kata Bayu.

Sayuran yang mereka tanam yaitu jenis selada. Dalam sekali panen mereka bisa mendapatkan 6 sampai 8 kilogram yang berasal dari 157 lubang. Sayur-sayur ini kemudian dijual kepada salah satu katering yang ada di Kapanewon Wates. Anak-anak yang belajar di sini juga tidak diperkenankan membayar iuran apa pun.

5. Peran media sosial hanya sebatas tempat dokumentasi anak-anak

Kebun Belajar Rumah Tumbuh, Ciptakan Desa yang Ramah AnakKebun Belajar Rumah Tumbuh, Kulon Progo (instagram.com/kebunbelajar.rumahtumbuh)

Kegiatan belajar bareng yang diadakan di Kebun Belajar Rumah Tumbuh selalu diabadikan dan diunggah di akun Instagram mereka, @kebunbelajar.rumahtumbuh. Buat para mentor, akun Instagram ini dibuat hanya untuk dokumentasi setiap kegiatan.

Ada tujuan lain yang mulia di balik itu. Bayu mengatakan setiap foto yang diunggah pasti disertai dengan caption story telling punya tujuan penting. Yaitu supaya mereka yang ingin membentuk komunitas seperti Kebun Belajar Rumah Tumbuh, tapi tidak tahu harus mulai dari mana, bisa melihat atau menyontek dari sana.

Namun dari media sosial juga, komunitas ini makin dikenal sehingga mulai banyak yang datang berminat dari mentor tambahan di sini. Meski beberapa yang datang masih sebatas teman, tentu tidak menutup kemungkinan ada yang tertarik dan bergabung menjadi bagian Kebun Belajar Rumah tumbuh, yang entah sebagai murid atau mentor.

6. Ingin komunitasnya jadi bermanfaat bagi banyak orang

Kebun Belajar Rumah Tumbuh, Ciptakan Desa yang Ramah AnakKebun Belajar Rumah Tumbuh, Kulon Progo (instagram.com/kebunbelajar.rumahtumbuh)

Saat ditanya harapan ke depan soal Kebun Belajar Rumah Tumbuh, Bayu dan Fiihaa sama-sama tak ingin muluk-muluk berharap. Buat Fiihaa, semoga kegiatan yang selama ini dilakukan bisa menjadi manfaat untuk anak-anak maupun orang tua peserta. Tak jauh beda, Bayu hanya ingin para mentor di sini sibuk menanam ilmu. Ia sadar bahwa perihal 'hasil dan tumbuhnya’ seseorang bukan ranah manusia, tapi Tuhan.

Namun keduanya juga berharap semakin banyak desa yang memiliki sanggar belajar seperti ini. Apalagi mengingat anak-anak sekarang yang kekurangan materi non formal untuk menunjang masa depan.

Dari Kebun Belajar Rumah Tumbuh kita belajar bahwa desa wisata tak selalu harus berorientasi pada banyaknya pengunjung yang datang dan viral, tapi bagaimana cara membawa masyarakatnya lebih berdikari, terlebih anak-anak tumbuh di sana. Semoga ilmu yang diberikan para mentor di sini mengalir seperti air, sampai pada anak-anak, dan kelak merekalah yang membangun desanya jadi lebih baik.

Baca Juga: Sotowiyah, Komunitas Bersepeda yang Gemar Berburu Soto 

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya