Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

6 Tips Menjelaskan Kematian Orangtua pada Anak, Jujur Saja

ilustrasi berbicara dengan anak (pexels.com/Kampus Production)
ilustrasi berbicara dengan anak (pexels.com/Kampus Production)
Intinya sih...
  • Anak di bawah 10 tahun belum memahami konsep kematian dengan jelas, sehingga kehilangan orangtua bisa menimbulkan rasa kehilangan yang amat besar dalam dirinya.
  • Membohongi anak mengenai realitas orangtuanya sudah berpulang hanya akan makin menyakitinya suatu saat nanti, lebih baik memberitahu kebenarannya sekalipun pahit.
  • Perbedaan dalam kehidupan setelah kematian orangtua perlu dibicarakan secara terbuka dengan anak untuk membantu mereka mempersiapkan diri dan mengurangi rasa gelisah.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Anak yang masih berusia di bawah 10 tahun sering kali belum memahami konsep kematian dengan jelas. Sayangnya, kehilangan orangtua baik salah satu atau keduanya bisa terjadi kapan saja. Termasuk saat anak masih sangat kecil. Peristiwa ini akan menimbulkan rasa kehilangan yang amat besar dalam dirinya.

Masalah berikutnya, makin muda usia anak ketika orangtuanya berpulang makin rendah pula kemampuannya mengutarakan perasaan. Ini bikin anak bisa menyimpan luka lebih dalam dan lama dibandingkan orang dewasa. Ia boleh jadi tampak ceria di hari pemakaman ayah atau ibunya.

Akan tetapi, kebingungan dan lukanya baru tampak beberapa hari kemudian. Ia mulai menyadari bahwa ayah atau ibunya tidak ada lagi di rumah. Pembicaraan tentang kematian salah satu atau kedua orangtuanya tak mungkin terus dihindari. Justru lebih cepat topik ini dibicarakan lebih baik. Meski tak mudah, kematian orangtuanya tidak perlu ditutupi dari anak. Berikut enam tipsnya.

1. Jangan melakukan kebohongan putih

ilustrasi berbicara dengan anak (pexels.com/Keira Burton)
ilustrasi berbicara dengan anak (pexels.com/Keira Burton)

Kebohongan putih artinya tindakan berbohong yang dimaksudkan untuk kebaikan anak. Misalnya, kamu gak mau anak terpukul mengetahui ayah atau ibunya sudah meninggal dunia. Saat anak bertanya mana ayah atau ibunya, dirimu mengatakan ia hanya sedang bekerja jauh. 

Jawaban seperti ini kerap dianggap lebih aman bagi psikis anak sekaligus mudah dikatakan daripada membicarakan kenyataan. Akan tetapi, membohongi anak mengenai realitas orangtuanya sudah berpulang hanya akan makin menyakitinya suatu saat nanti. Tidak seorang pun senang mengetahui dirinya dibohongi.

Apalagi terkait orang yang paling disayanginya. Andai pun kamu bisa membohongi anak, dia malah mungkin syok ketika orang lain di sekitarnya memberitahukan mengenai kebenaran tersebut. Beri tahu kebenarannya sekalipun pahit daripada anak mengetahuinya dari orang lain. Jika ia mendengar kenyataan dari orang lain, bisa-bisa menurunkan kepercayaannya padamu. 

2. Menjelaskan arti meninggal dunia dan penyebabnya

ilustrasi berbicara dengan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)
ilustrasi berbicara dengan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Anak mungkin sudah beberapa kali mendengar tentang kematian. Namun, makna sesungguhnya masih sangat samar. Apalagi kematian ayah atau ibunya merupakan pengalaman pahit pertama dalam hidupnya. Maka ia perlu memperoleh penjelasan terkait kematian.

Katakan pada anak bahwa meninggal dunia digunakan untuk menyebut kematian yang terjadi khusus pada manusia. Akan tetapi, semua makhluk hidup termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan juga bisa mati. Kematian pada tanaman misalnya, karena lama tidak disiram sehingga kering lalu mati. Pada binatang dan manusia, kematian dapat disebabkan oleh sakit atau kecelakaan.

Jelaskan pula penyebab ayah atau ibunya wafat. Kecelakaan dan penyakit tidak perlu ditutupi. Namun, jangan katakan seandainya ayah atau ibunya bunuh diri. Bunuh diri masih merupakan topik yang terlalu berat untuk dipahami anak. Ketika dia telah dewasa dapat diberi tahu tentang cerita yang sesungguhnya. Namun, untuk saat ini cukup katakan antara sakit atau kecelakaan. Begitu pula apabila orangtuanya menjadi korban pembunuhan.

Lain seandainya anak telanjur tahu mengenai tindakan bunuh diri orangtuanya atau kasus pembunuhan yang menimpanya. Mungkin ia mengetahui dari berita, orang-orang di sekitarnya, atau bahkan menjadi saksi peristiwa. Dalam situasi begini, kamu bisa membicarakan tentang kondisi mental orangtuanya yang kurang stabil. Atau, tindakan kejam orang lain. Garis bawahi bahwa perbuatan bunuh diri orangtuanya atau tindakan sadis orang lain itu tidak boleh ditiru.

3. Juga perbedaan yang terjadi setelah orangtua meninggal

ilustrasi berbicara dengan anak-anak (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi berbicara dengan anak-anak (pexels.com/cottonbro studio)

Setiap kematian akan memunculkan perbedaan dalam kehidupan orang-orang terdekatnya. Apalagi ayah atau ibu yang meninggal dunia. Tentu anak terdampak langsung. Ini pula yang kerap membuat anak menjadi lebih menyadari ketiadaan orangtuanya. Bukan pada saat orangtua dimakamkan.

Di tengah rasa gelisah anak menghadapi perbedaan dalam kesehariannya, kamu perlu membicarakannya secara terbuka. Sampaikan bahwa sekarang ayah atau ibunya tidak bisa lagi bermain bersamanya. Ia juga tak lagi diantar ke sekolah oleh orangtuanya yang sudah meninggal dunia.

Kalau biasanya keperluan anak diurus sepenuhnya oleh ayah atau ibunya yang kini telah tiada, maka sekarang kamu atau orang lain yang akan melakukannya. Di samping itu, anak juga perlu belajar lebih mandiri. Membicarakan perbedaan yang niscaya terjadi selepas salah satu atau kedua orangtuanya meninggal dunia membuat anak punya gambaran hari-harinya mendatang. Ia mampu mempersiapkan diri.

4. Minta anak untuk selalu mendoakan orangtua dan alasannya

ilustrasi berbicara dengan anak (pexels.com/Barbara Olsen)
ilustrasi berbicara dengan anak (pexels.com/Barbara Olsen)

Anak sekarang tidak bisa lagi bertemu dengan ayah atau ibunya yang sudah berpulang. Tentu ia sering merasa sangat rindu dan memikirkan segala tentang orangtuanya. Rasa kangennya seakan-akan berada di jalan buntu. Bantu anak buat mencari jalan keluar atas kegelisahan, yaitu dengan mengajaknya berdoa.

Katakan bahwa untuk saat ini dan di masa-masa mendatang hanya doa yang akan menjembatani kerinduannya pada orangtua. Ayah atau ibunya memerlukan doa anak supaya tenang di surga. Doa juga akan menghindarkannya dari melupakan orangtua. 

Anak bakal terus mengingat ayah atau ibunya, tetapi dengan rasa sakit yang makin berkurang. Setelah beberapa kali kamu mendampingi anak dalam berdoa, minta ia melakukannya sendiri kapan pun teringat pada orangtua. Anak mungkin bertanya apakah dia boleh berdoa untuk meminta orangtua kembali?

Katakan bahwa anak cukup minta Tuhan menempatkan ayah atau ibunya di surga. Sebab tidak ada tempat yang lebih baik dari itu. Meski anak menyayangi ayah atau ibunya dan sebaliknya, tak ada rasa sakit di surga seperti yang dialami orangtuanya selama di dunia. 

5. Meyakinkan anak bahwa semuanya akan baik-baik saja

ilustrasi berpelukan (pexels.com/Anastasia Shuraeva)
ilustrasi berpelukan (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Makin dekat hubungan anak dengan ayah atau ibunya yang meninggal, makin tinggi pula kecemasannya. Misalnya, ibu yang setiap hari mengurusnya berpulang. Anak menjadi cemas gak ada lagi orang yang memandikannya, membuatkannya makanan, dan sebagainya. 

Ayah harus membuat anak percaya bahwa dirinya juga mampu melakukan tugas-tugas itu seperti ibunya. Demikian juga sebaliknya kalau ayah yang berpulang. Hilangnya sosok pencari nafkah utama dalam keluarga bisa bikin anak yang sudah mengerti hal ini khawatir akan kelanjutan sekolahnya.

Ibu perlu menegaskan pada anak bahwa masa depannya baik-baik saja. Ayah meninggalkan tabungan dan ibu akan bekerja buat memperjuangkan masa depannya. Semua kalimat di atas tentu harus diikuti dengan pembuktian. Anak bakal kembali cemas bila kenyataannya ayah tidak bisa mengurusnya atau ibu mengalami kesulitan keuangan.

6. Dorong anak agar lebih terbuka

ilustrasi ibu dan putrinya (pexels.com/Vincent Tan)
ilustrasi ibu dan putrinya (pexels.com/Vincent Tan)

Anak yang terlihat ceria dan gak rewel sepeninggal ayah atau ibunya tak bermakna baik-baik saja. Boleh jadi ia hanya belum tahu cara mengutarakan sesuatu. Dapat pula anak melihat orang-orang dewasa di sekitarnya sedang sibuk dan sering menangis. 

Dia gak mau membuat suasana lebih merepotkan. Jika ia banyak bertanya apalagi menangis, jangan-jangan nanti malah dimarahi. Maka dirimu perlu mendorong anak supaya lebih terbuka. Minta anak untuk menanyakan apa pun yang ingin diketahuinya seputar orangtuanya yang baru meninggal.

Demikian juga bila anak merasa sedih, takut, atau tidak nyaman. Kamu bisa memancing anak dengan menanyakan respons guru dan teman-temannya di sekolah setelah orangtuanya meninggal. Sebab apa pun yang dikatakan oleh mereka dapat sangat memengaruhi psikis anak.

Kehilangan ayah atau ibu di usia dini tentu gak diharapkan oleh siapa pun. Anak juga dapat berduka seperti orang dewasa. Akan tetapi, percakapan mengenai orangtuanya yang meninggal dunia tetap perlu dilakukan. Jangan bersikap seakan-akan tak terjadi apa-apa padahal anak tidak lagi bisa menemukan ayah atau ibunya di rumah. Bicarakan rasa kehilangan itu justru biar kalian dapat saling menguatkan melalui ujian hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us