Comscore Tracker

Kisah Para Guru di DIY, Berjuang Mengajar di Tengah Pandemik Corona

Belajar di rumah secara online memiliki tantangan tersendiri

Yogyakarta, IDN Times - Sudah sebulan sejak pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) di rumah diberlakukan pada 23 Maret 2020. Kebijakan ini diambil oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) demi memutus rantai penularan virus corona.

Para guru dan siswa pun mau tak mau harus beradaptasi terhadap KBM gaya baru yang mungkin tidak pernah dilakukan sebelumnya. Simak cerita para guru di DIY selama menjalani KBM daring berikut ini.

Baca Juga: Belajar di Rumah, Siswa Mengeluh Tugas Sekolah Menumpuk

1. Para guru harus menyesuaikan dengan cara mengajar baru

Kisah Para Guru di DIY, Berjuang Mengajar di Tengah Pandemik CoronaChandra bersama para siswanya saat HUT Yogyakarta - Dok. pribadi Chandra Adhi Putra

Belajar di rumah secara online yang diterapkan sejak 23 Maret ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Ada beberapa kendala yang ditemui para guru, terutama kendala perubahan cara dalam menyampaikan materi.

Selfie Widya Kumalasari, guru yang mengajar siswa kelas II SD Negeri 1 Bantul ini salah satunya. Dia mengatakan bahwa salah satu kendala adalah masalah jaringan saat mengajar secara online melalui video call atau melangsungkan kuis online dengan platform online berbasis web.

Begitu juga dengan Chandra Adhi Putra, seorang guru kelas III salah satu sekolah dasar negeri di Kota Yogyakarta yang tak ingin disebutkan nama sekolahnya.

Chandra mengaku kendala utama dalam melakukan kegiatan belajar di rumah selama pandemik ini adalah tidak semua orangtua siswa memiliki smartphone yang mumpuni untuk melakukan belajar secara online, sehingga di awal dia sempat memberikan tugas mingguan kepada siswa sambil melakukan pemantauan melalui orangtua di grup WhatsApp.

Chandra dan Selfie sama-sama memberikan materi dengan membuat video penjelasan dan dikirimkan ke orangtua. Namun Chandra juga membuat materi dan tugas secara cetak yang diambil ke sekolah seminggu sekali jika orangtua siswa tidak memiliki smartphone untuk dikirimi video materi.

2. Orangtua berperan penting untuk menyukseskan kegiatan belajar di rumah

Kisah Para Guru di DIY, Berjuang Mengajar di Tengah Pandemik CoronaPara siswa Chandra sedang belajar di rumah - Dok. pribadi Chandra Adhi Putra

Tak hanya guru saja yang harus menyesuaikan, namun orangtua siswa juga turut menyesuaikan untuk menyukseskan kegiatan belajar di rumah.

Selfie dan Chandra sama-sama mengatakan bahwa terkadang orangtua masih kebingungan dalam meneruskan materi ke siswa melalui video yang sudah mereka buat.

"Mayoritas orangtua siswa saya buruh, jadi untuk menjelaskan materi ke anaknya sendiri pasti mengalami kesulitan meskipun sudah dibuatkan ringkasan materi dan video penjelasan," ungkap Chandra saat dihubungi IDN Times, Rabu (22/4).

Selain itu Chandra juga menjelaskan bahwa pemantauan kegiatan belajar siswa selama di rumah juga menjadi masalah karena smartphone yang menjadi alat komunikasi satu-satunya bagi dirinya dengan siswa adalah milik orang tua yang mayoritas masih harus bekerja selama pandemik corona, sehingga baru bisa melakukan laporan pemantauan kegiatan belajar menjelang malam setelah pulang bekerja.

"Bisa dikatakan seluruh orangtua atau wali di kelas saya dari golongan menengah ke bawah sehingga mereka tetap harus bekerja meskipun kondisi pandemi seperti saat ini. Jadi ketika orangtua mereka bekerja, baru akan melaporkan kegiatan belajarnya setelah menjelang malam," ucap Chandra.

Chandra memberi keleluasaan waktu bagi para siswanya untuk melakukan kegiatan belajar sesuai dengan jam berapa orangtua masing-masing siswa berada di rumah atau sesuai kemandirian siswanya belajar sendiri.

Sedangkan Selfie memilih memberi materi atau tugas kepada siswanya di malam hari, sehingga orangtua siswa yang masih harus bekerja bisa memberikan materinya ke anak sebelum berangkat kerja pada keesokan harinya.

"Pemberian tugas saya berikan malam hari kemudian di hari berikutnya pukul 21.00 terakhir pengumpulan tugas pada hari tersebut. Saya berikan di malam hari sebelumnya karena banyak orangtua siswa yang harus bekerja di pagi hari, sehingga sebelum berangkat bekerja siswa sudah mendapatkan tugas dan orangtua dapat menjelaskannya terlebih dahulu," ucap Selfie, Rabu.

3. Tak jarang orangtua kewalahan mendampingi anaknya belajar di rumah

Kisah Para Guru di DIY, Berjuang Mengajar di Tengah Pandemik CoronaDok. pribadi Chandra Adhi Putra

Orangtua yang diharapkan ikut berperan memantau anak dalam belajar di rumah ternyata juga memiliki tantangan tersendiri.

Seperti kebanyakan orangtua siswa di sekolah tempat Chandra yang tak sempat memantau anak belajar karena masih harus bekerja, menjadikan siswa ada yang dititipkan ke rumah kakek dan neneknya agar mereka bisa terpantau belajar dan tidak keluyuran pergi bermain.

Selfie pun mengakui hal yang sama, salah satu keluhan orangtua siswa adalah anaknya yang sudah bosan di rumah dan harus merayu agar anaknya mau melanjutkan proses belajar di rumah. Sehingga hal ini menjadi kreativitas masing-masing guru agar siswa tidak bosan belajar di rumah.

"Orangtua sudah mulai kewalahan mendampingi siswa, karena ada yg ngeyel tidak mau mengerjakan (harus merayu siswa)," ucap Selfie.

4. Tugas yang banyak ternyata bukan pilihan para guru untuk memaksimalkan belajar di rumah

Kisah Para Guru di DIY, Berjuang Mengajar di Tengah Pandemik CoronaDok. pribadi Selfie Widya Kumalasari

Para guru tidak serta merta memberikan banyak tugas kepada para siswanya agar siswa bisa rajin belajar. Selfie dan Chandra sama-sama menganggap bahwa pemberian tugas yang banyak tidak efektif dilakukan untuk siswa dalam belajar di rumah.

"Kegiatan pemberian tugas yang saya berikan tidak sebanyak ketika di dalam kelas karena menurut saya kurang efektif," ucap Selfie.

Selfie juga mengatakan sejak awal pihak sekolah sudah membuat kesepakatan agar tugas tidak diberikan terlalu banyak kepada siswa. 

Senada dengan Selfie, Chandra pun memilih mengutamakan kualitas tugas daripada kuantitasnya.

"Untuk di sekolah kami penugasan diutamakan kualitas bukan kuantitasnya. Penugasan yang banyak tentu akan jadi kendala juga bagi orangtua dalam mengarahkan dan menemani siswanya untuk belajar," ungkap Chandra.

5. Program belajar di rumah dari TVRI bisa membantu namun ada kekurangan

Kisah Para Guru di DIY, Berjuang Mengajar di Tengah Pandemik CoronaDok. pribadi Chandra Adhi Putra

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim, membuat kebijakan baru dengan menggunakan saluran TVRI untuk memberi materi belajar di rumah.

Selfie mengungkapkan bahwa di hari pertama pembelajaran melalui TVRI ini, anak-anak sangat bersemangat. Namun di hari kedua anak-anak seperti menyepelekan karena materi yang disampaikan tidak menarik untuk mereka. Tapi masih ada anak-anak yang selalu mengikuti pembelajaran di TV dengan sendirinya tanpa harus ada arahan dari guru.

Sedangkan Chandra berusaha memaksimalkan program ini untuk membantu orangtua agar mengurangi beban kuota internet yang dikeluhkan orangtua karena harus mengunduh video materi dari guru atau membuka video materi dari YouTube.

"Siswa sangat senang meskipun hanya 30 menit, tapi membuat siswa lebih mudah memahami materi dengan bantuan gambar kartun dan penjelasan daripada hanya membaca ringkasan," ucap Chandra.

Namun baik Selfie maupun Chandra sama-sama menyayangkan model penyampaian materi di TVRI yang digabung untuk beberapa kelas sekaligus, yaitu kelas 1 sampai 3 SD dan kelas 4 sampai 6 SD, sehingga anak-anak mau tidak mau harus mengikuti juga materi yang tidak sesuai kelasnya. 

"Jika diadakan kegiatan tersebut alangkah baiknya dibuat per jenjang kelas, jadi untuk materi bisa tersampaikan sesuai ekspektasi guru," ucap Selfie memberi saran program belajar di rumah melalui TVRI ini.

Selfie dan Chandra adalah gambaran bagaimana para guru berusaha agar ilmu tetap tersampaikan ke anak-anak dengan berbagai usaha dan metode yang dilakukan meskipun pandemik corona menghantui. Semoga semangat belajar anak-anak saat belajar di rumah bisa menjadi energi tersendiri bagi para guru untuk terus memberi ilmu siswa-siswanya.

Baca Juga: Repotnya Orangtua Work from Home Saat Bimbing Anak Belajar di Rumah

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya