Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

5 Kesalahan Umum saat Mencatat Materi Belajar, Bikin Bingung

ilustrasi menulis (pexels.com/Ylanite Koppens)

Kamu pasti sudah tahu bahwa mencatat adalah salah satu kunci sukses dalam belajar. Dengan mencatat, kamu bisa mengingat dan memahami informasi lebih baik, dan juga mempersiapkan diri untuk ujian atau tugas.

Tapi, apakah kamu yakin bahwa cara kamu mencatat sudah benar? Atau malah kamu sering melakukan kesalahan-kesalahan yang bisa merusak prestasi kamu? Jangan sampai deh! Berikut adalah 5 kesalahan umum saat mencatat materi belajar yang sering dilakukan oleh banyak orang, dan bagaimana cara mengatasinya. Simak baik-baik ya!

1. Menulis seperti menyalin buku

ilustrasi belajar (unsplash.com/Cathryn Lavery)

Salah satu kesalahan mencatat yang paling umum adalah menulis kalimat yang terlalu panjang dan detail, seperti menyalin buku atau materi sumber. Kamu mungkin berpikir bahwa dengan menulis semua informasi, kamu tidak akan kehilangan apa pun. Tapi, sebenarnya ini malah bikin kamu kehilangan banyak hal!

Menulis terlalu banyak bisa membuat kamu kehilangan fokus dan konsentrasi saat belajar. Kamu juga bisa melewatkan poin-poin penting atau ide-ide utama yang seharusnya kamu catat. Belum lagi, nanti saat kamu mau mengulang catatan, kamu akan bingung dan lelah membaca catatan yang panjang dan berantakan.

Daripada menulis kalimat yang panjang dan detail, lebih baik kamu menggunakan template untuk mencatat. Template adalah format catatan yang sudah disiapkan sebelumnya, yang bisa membantu kamu mencatat dengan ringkas, terstruktur, dan komprehensif.

2. Mencatat tanpa aturan

ilustrasi menulis (pexels.com/Louis Bauer)

Kesalahan mencatat lainnya adalah mencatat tanpa aturan atau struktur yang jelas. Kamu mungkin suka mencatat di mana saja dan kapan saja, tanpa memperhatikan tanggal, judul, subjudul, atau poin-poin penting. Kamu juga mungkin suka menulis ide-ide secara acak tanpa menghubungkannya dengan materi sumber. Ini bisa membuat catatan kamu menjadi berantakan dan sulit dipahami.

Mencatat tanpa aturan bisa membuat kamu kesulitan menemukan informasi yang kamu butuhkan saat belajar atau ujian. Kamu juga bisa kehilangan gambaran besar tentang materi yang kamu pelajari, dan tidak bisa menghubungkan antara informasi.

Salah satu cara untuk membuat catatan lebih terorganisir adalah dengan selalu menyertakan tanggal pada catatan kelas. Ini akan membantu kamu mengurutkan catatan secara kronologis dan memudahkan pengorganisasian.

3. Mencatat lalu melupakan

ilustrasi menulis (unsplash.com/Kelly Sikkema)

Kesalahan mencatat berikutnya adalah mencatat lalu melupakan. Kamu mungkin berpikir bahwa dengan mencatat saja sudah cukup untuk belajar dan mengingat informasi. Padahal, mencatat hanyalah langkah awal dalam proses belajar. Kamu juga perlu mengulang catatan secara berkala untuk memperkuat ingatan dan pemahaman kamu.

Mencatat lalu melupakan bisa membuat informasi yang sudah kamu catat hilang dari ingatan kamu. Kamu juga bisa lupa dengan konsep-konsep atau ide-ide utama yang seharusnya kamu kuasai. Ini bisa berdampak buruk pada prestasi kamu.

Mengulangi catatan adalah cara yang ampuh untuk memindahkan informasi dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang. Kamu bisa menggunakan berbagai cara untuk mengulangi catatan, seperti:

  • Membaca catatan dengan keras;
  • Menjelaskan catatan dengan kata-kata kamu sendiri;
  • Membuat ringkasan atau mind map dari catatan;
  • Membuat flash card atau kuis dari catatan;
  • Mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan dari catatan.

4. Mencatat tanpa menyesuaikan gaya belajar

ilustrasi menulis (unsplash.com/Melanie Deziel)

Kesalahan mencatat yang sering diabaikan adalah mencatat tanpa menyesuaikan gaya belajar. Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda, dan catatan harus disesuaikan dengan gaya tersebut. Beberapa orang lebih suka belajar dengan visual, beberapa dengan audio, dan beberapa dengan kinestetik. Jika kamu mencatat dengan cara yang tidak cocok dengan gaya belajar kamu, kamu mungkin tidak bisa mendapatkan manfaat maksimal dari catatan kamu.

Mencatat tanpa menyesuaikan gaya belajar bisa membuat kamu bosan dan tidak tertarik dengan materi yang kamu pelajari. Kamu juga bisa kesulitan memahami dan mengingat informasi yang ada di catatan kamu.

Untuk mengetahui gaya belajar kamu, kamu bisa melakukan tes online atau mengamati bagaimana kamu belajar paling baik. Setelah kamu mengetahui gaya belajar kamu, kamu bisa menggunakan catatan yang sesuai dengan gaya tersebut. Misalnya:

  • Jika kamu seorang pembelajar visual, kamu bisa menggunakan warna, simbol, diagram, gambar, atau grafik untuk mencatat.
  • Jika kamu seorang pembelajar audio, kamu bisa merekam suara catatan kamu, mendengarkan rekaman tersebut, atau membacanya dengan keras.
  • Jika kamu seorang pembelajar kinestetik, kamu bisa menggunakan gerakan tangan, gestur, atau aksi untuk mencatat.

5. Mencatat hal-hal yang tidak penting

ilustrasi menulis (unsplash.com/Kenny Eliason)

Kesalahan mencatat terakhir adalah mencatat hal-hal yang tidak penting. Hal-hal yang tidak penting adalah hal-hal yang tidak berkaitan dengan tujuan belajar kamu, seperti:

  • Detail-detail kecil atau tidak relevan;
  • Informasi yang sudah kamu ketahui atau mudah diingat;
  • Opini-opini pribadi atau tidak berdasar;
  • Informasi yang tidak jelas atau salah.

Jika kamu mencatat hal-hal yang tidak penting ini, kamu bisa membuang-buang waktu dan energi. Kamu juga bisa membuat catatan menjadi penuh dengan informasi yang tidak berguna dan mengganggu proses belajar.

Dengan menghindari kesalahan-kesalahan ini, kamu bisa membuat catatan yang lebih efektif dan bermanfaat untuk belajar. Kamu juga bisa meningkatkan pemahaman dan ingatan kamu terhadap materi yang kamu pelajari. Jadi, tunggu apa lagi? Mulai sekarang, perbaiki cara kamu mencatat dan rasakan perbedaannya! Selamat mencoba!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us