Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ketika Chef Cheong Membawa Jiwa Kuliner Penang ke Jantung Yogyakarta
Chef Chang Seng Cheong, Chef De Cuisine dari Penang Marriott Hotel, memimpin kru di Yogyakarta Kitchen Marriot Yogyakarta, Sabru (21/02/2026) (IDN Times/Yogie Fadila)
  • Chef Chang Seng Cheong dari Penang Marriott Hotel menghadirkan cita rasa kuliner Penang di Yogyakarta sebagai bentuk diplomasi rasa, memperkenalkan keberanian bumbu dan semangat kebersamaan khas kotanya.

  • Selama kunjungan, Chef Cheong terinspirasi oleh keotentikan sambal Indonesia yang dibuat dengan cobek batu.

  • Eksperimen rasa di Yogyakarta menghasilkan kejutan menarik ketika warga lokal justru meminta masakan lebih pedas, sementara menu andalan seperti Char Kuey Teow dan Ekor Asam Pedas jadi favorit pengunjung.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Aroma rempah perlahan menguar di sudut Yogyakarta Kitchen pada Sabtu (21/2/2026) sore, berpacu dengan waktu berbuka puasa yang kian dekat. Di tengah hiruk-pikuk persiapan iftar, Chef Chang Seng Cheong—Chef De Cuisine dari Penang Marriott Hotel—tampil tenang mengatur ritme dapurnya.

Kunjungannya ke Yogyakarta kali ini bukan sekadar singgah. Ia membawa sebuah misi diplomasi rasa: menghidangkan karya kuliner kota asalnya di tengah masyarakat lokal yang memiliki profil lidah yang sangat khas.

Bagi para foodies, Penang sudah lama diakui sebagai salah satu ibu kota kuliner terbaik di Asia. Namun, apa sebenarnya jiwa dari masakan Penang?

"Malaysia itu terdiri dari perpaduan dasar budaya Melayu, Tionghoa, dan India. Setiap negara bagian memiliki profil rempah yang berbeda," ungkap Chef Cheong saat membuka obrolan dengan IDN Times. Menurutnya, DNA dari masakan Penang terletak pada keberanian bumbu dan budaya kebersamaannya yang meleburkan batas etnis.

"Di Penang, kami yang Tionghoa bisa duduk santai bersama teman-teman Melayu di kedai Mamak, makan dan menonton bola bersama layaknya sebuah keluarga. Rasanya bercampur menjadi satu, penuh cita rasa, dan cenderung pedas," tambahnya.

1. Cerita di balik sebongkah 'Cobek Batu'

(IDN Times/Yogie Fadila)

Meski masakan Malaysia dan Indonesia berasal dari akar serumpun dengan bahan baku yang mirip—seperti bawang putih, bawang merah, cabai kering, dan serai—Chef Cheong menemukan kejutan kultural yang memikat hatinya selama berada di Indonesia. Salah satu yang paling membuatnya kagum adalah proses pembuatan sambal.

Jika di Malaysia sambal umumnya dibuat dengan metode ditumbuk yang menghasilkan profil rasa pedas-asam, di Indonesia, ia dibuat takjub oleh sebongkah alat dapur tradisional bernama cobek batu.

"Saya sangat menyukai sambal di sini yang digerus (uleg) perlahan menggunakan batu. Terasa sangat otentik," ceritanya bersemangat. "Bagi saya, hal itu memberikan sebuah raw factor—sebuah nilai orisinalitas di mana kita menyajikan sesuatu yang benar-benar segar untuk tamu. Ini adalah pelajaran berharga yang ingin saya bawa kembali ke dapur saya di Malaysia."

2. Ketika orang Jogja menolak yang manis-manis

(IDN Times/Yogie Fadila)

Membawa masakan Penang yang dominan pedas dan kaya rempah ke Yogyakarta—kota yang kuliner tradisionalnya terkenal legit dan manis—tentu menjadi tantangan tersendiri. Awalnya, Chef Cheong meracik strateginya dengan menurunkan tingkat kepedasan agar lebih ramah di lambung saat berbuka puasa.

Namun, kejutan menarik justru terjadi di lapangan. Niat hati ingin "berkompromi" dengan lidah lokal, masakan Chef Cheong malah diprotes karena kurang nendang.

"Pada hari pertama, saya membuat Sambal Udang Petai dengan rasa yang sedikit manis untuk menyesuaikan lidah orang sini. Ternyata, mereka justru bilang itu terlalu manis dan meminta agar dibuat lebih pedas!" gelaknya.

Dinamika dapur ini membuat pengalaman perdananya di Yogyakarta terasa menyenangkan. Meskipun ada sedikit perbedaan kosakata bahasa (seperti kata 'libur' yang di Malaysia disebut off day, atau kata 'prei' dalam bahasa Jawa), kolaborasi dengan staf lokal berjalan tanpa hambatan berarti.

3. Deretan menu yang wajib dicoba

Nasi Lemak disajikan dengan lauk Ekor Asam Pedas (IDN Times/Yogie Fadila)

Kamu yang ingin mencicipi langsung hasil kurasi rasa dari Chef Cheong, ada beberapa rekomendasi menu yang pantang dilewatkan dalam kunjungannya kali ini. Tentu saja, Penang Char Kuey Teow yang ikonik menjadi tajuk utama.

Namun, Chef Cheong sangat merekomendasikan tamu untuk mencicipi Ekor Asam Pedas (buntut sapi kuah asam pedas) yang kaya akan kaldu bumbu. Jangan lewatkan pula Sambal Udang Petai yang kini telah disesuaikan dengan 'request' pedas ala warga Jogja.

Sebagai penutup, ia menantang lidah pengunjung dengan Rojak (rujak) ala Malaysia. "Kalau di sini rujak identik dengan saus kacang dan kecap, rujak kami di Malaysia menggunakan shrimp paste (terasi udang) dengan taburan kacang dan wijen," pungkasnya.

Sebuah pengalaman gastronomi yang membuktikan bahwa makanan yang enak, dari belahan dunia mana pun, akan selalu menemukan cara untuk membuat penikmatnya bahagia.

Editorial Team