Comscore Tracker

Ditiru Bukit Algoritma, Ini 11 Masalah yang Terjadi di Silicon Valley

Masalah-masalah yang menaungi Silicon Valley tak sepele

Silicon Valley menjadi kiblat dari teknologi dunia. Kawasan ini menaungi perusahaan-perusahaan raksasa di bidang internet, media sosial, hingga mobil listrik. Indonesia bahkan berambisi membuat "Silicon Valley"-nya sendiri, yang dinamai Bukit Algoritma. 

Kawasan ini mungkin menjadi tempat impian para inovator dan perusahaan startup. Namun, di balik kemegahannya, ternyata ada banyak masalah yang terjadi di kawasan ini. Seperti apakah masalah-masalah yang dialami Silicon Valley?

1. Gaji besar tidak sebanding dengan biaya hidup yang tinggi

https://www.youtube.com/embed/YLbnvwKZUGw

San Francisco Chronicle melaporkan, pada 2019 rata-rata gaji tahunan karyawan Google sebesar 250 ribu dolar AS. Namun, kawasan Silicon Valley juga terkenal dengan biaya hidupnya yang tinggi. Upah tinggi itu tak sebanding dengan pengeluarannya.

Seperti yang dijelaskan Business Insider, sewa tempat tinggal di Silicon Valley sangat mahal, bahkan beberapa pekerja teknologi harus tinggal di dalam van. 

Menurut Payscale, biaya hidup di Silicon Valley sebenarnya 100 persen lebih tinggi daripada rata-rata di tingkat nasionalnya. Seperti yang dikutip The New York Times, pemerintah federal mengklasifikasikan sebuah keluarga beranggotakan empat orang yang berpenghasilan hingga 117.400 US dolar sebagai keluarga yang berpenghasilan rendah.

2. Ageisme sangat lazim di Silicon Valley

https://www.youtube.com/embed/xDphVJS9Aos

"Move fast and break things" adalah moto Facebook sejak lama. Seperti yang dikatakan salah satu pendiri dan pemodal ventura Sun Microsystems, Vinod Khosla pada tahun 2011, melalui The Washington Post: "Orang yang berusia di bawah 35 tahun adalah orang yang bisa membuat perubahan," dan "orang yang berusia di atas 45 tahun buntu dalam menciptakan ide-ide baru." Silicon Valley terkenal karena diskriminasi terhadap usia.

Lebih dari 28 persen tuntutan hukum terkait diskriminasi usia diajukan kepada pengusaha di Silicon Valley dibanding yang berkaitan dengan ras, menurut Menlo Partners Staffing. Mereka mensurvei pekerja teknologi, di mana 80 persen karyawan di atas usia 40 tahun khawatir dengan karier mereka. Dan 68 persen generasi Baby Boomers enggan melamar pekerjaan karena usia mereka.

Ageisme begitu lazim dalam budaya Silicon Valley sehingga banyak pria (dunia teknologi secara masif didominasi pria) menghabiskan banyak uangnya untuk mencari solusi tersebut. Misalnya, ada peningkatan sebanyak 325 persen pria melakukan operasi atau perawatan seperti, "Brotox," dalam lima tahun terakhir. Seperti yang dikatakan ahli bedah plastik Dr. Larry Fan kepada San Francisco Chronicle, "Mereka merasa seperti didiskriminasi." 

3. Misoginisme di Silicon Valley

https://www.youtube.com/embed/QyDbRaaXEvc

Faktanya, sebuah tim yang terdiri dari enam orang wanita memprogram ENIAC (Electronic Numerical Integrator And Computer), atau komputer elektronik serbaguna pertama.

Menurut jurnalis Emily Chang dari Vanity Fair, pada tahun 60-an dan 70-an, banyak perusahaan teknologi yang membutuhkan programmer handal, bahkan sebuah perusahaan mengontrak dua psikolog untuk menentukan siapa yang bisa menjadi pemrogram terbaik. Persentase gelar ilmu komputer untuk perempuan pun merosot dari hampir 40 persen menjadi kurang dari 20 persen saat ini. 

Dari asal-usul seksisme ini, industri teknologi di Silicon Valley seolah-olah mengubah rupanya menjadi misoginis. Dominasi teknologi terhadap kaum pria menciptakan diskriminasi terhadap kaum wanita, serta menyulitkan wanita untuk bersaing dalam dunia teknologi. Hal itu mengkodifikasi ketidakseimbangan gender. 

4. Fasilitas menyenangkan dengan mengorbankan lebih banyak waktu dan pikiran

https://www.youtube.com/embed/Vkawh2kiAYQ

Perusahaan teknologi melengkapi fasilitas karyawan mereka dengan cara yang unik dan agak berlebihan. Karyawan Google Mountain View bahkan bisa menikmati meja biliar, arena boling, game arcade retro, lapangan bola voli, potong rambut gratis, pijat gratis, dan makanan gourmet gratis, seperti yang dilaporkan Business Insider.

Seperti yang diungkapkan Dan Lyons, penulis Lab Rats: How Silicon Valley Made Work Miserable for the Rest of Us, yang dikutip Wharton School of Business, fasilitas ini sebenarnya menipu para karyawan. Menurutnya, karyawan akan dialihkan oleh semua hal menyenangkan di tempat kerjanya dengan mengurangi kesempatan untuk mendapatkan promosi, keamanan kerja, atau perawatan kesehatan.

Seperti yang dikatakan pewawancara Wharton, "Beberapa perusahaan ingin karyawan mereka bekerja selama 16 jam dalam sehari. Oleh sebab itu mereka memasukkan banyak kesenangan, sehingga mereka dapat istirahat di kantor dan tidak jauh dari meja mereka." 

5. Persaingan berat di bidang teknologi dan siasat cerdik perusahaan

Ditiru Bukit Algoritma, Ini 11 Masalah yang Terjadi di Silicon Valleyindeed.com

Kesuksesan di dunia teknologi adalah hal yang paling sulit diraih, karena 90 persen startup mengalami kegagalan. Seperti dilansir Investopedia, hanya ada 25 persen bisnis yang mampu bertahan selama 15 tahun atau lebih. Banyak CEO dan pendiri menulis permintaan maaf kepada publik atas kegagalan perusahaan mereka di industri teknologi.

"Sembilan dari 10 startup gagal," jelas Fortune. Menurut KQED, perusahaan menghindari pembayaran tunjangan seperti cuti karena sakit atau tunjangan kesehatan bagi pekerja kontrak merupakan hal yang umum di Silicon Valley.

Baca Juga: 5 Cara Cek Kecepatan Internet lewat Situs Web, Simple!

6. Budaya homogen di Silicon Valley 

Ditiru Bukit Algoritma, Ini 11 Masalah yang Terjadi di Silicon Valleytripsavvy.com

CNBC melaporkan hasil survei tahun 2018 yang mengungkapkan bahwa beberapa startup terbesar Silicon Valley, seperti Google, Twitter, dan Facebook, nyatanya memiliki kurang dari tiga persen pekerja teknologi berkulit hitam. Menurut TechRepublic, 83 persen eksekutif teknologi berkulit putih, lebih dari 50 persen karyawan Google dan Apple berkulit putih, dan kurang dari setengah jumlah orang kulit hitam dan Hispanik yang bekerja di bidang teknologi, dibandingkan di negara-negara ekonomi swasta lainnya. 

Pemimpin hak-hak sipil, Jesse Jackson, mengeluhkan minimnya keberagaman ini di Silicon Valley sejak lebih dari 20 tahun yang lalu. Kabar baiknya, saat ini perusahaan teknologi lebih banyak mempekerjakan minoritas yang kurang terwakili, karena TechRepublic melaporkan bahwa keberagaman justru memberikan pendapatan tambahan bagi industri TI sebesar 400 miliar US dolar setiap tahun.

7. Diskriminasi terhadap orang India oleh orang India pula

Ditiru Bukit Algoritma, Ini 11 Masalah yang Terjadi di Silicon Valleyndtv.com

Sistem kasta India, jelas BBC, membagi umat Hindu menjadi kelompok hierarkis berdasarkan karma (kerja) dan dharma (kata dalam bahasa Hindi untuk agama, tetapi di sini artinya kewajiban).

Empat kasta utama bercabang menjadi puluhan ribu sub-kasta, umumnya dikategorikan berdasarkan pekerjaan, dengan urutan kekuasaan dan tatanan sosial yang cukup ketat. Seseorang tidak dapat menikah di luar kasta atau pekerjaannya atau hidup di antara kasta yang lebih tinggi, dan orang itu harus selalu tunduk pada seseorang dari kasta yang lebih tinggi. 

Meskipun ilegal di India selama beberapa dekade, namun negara ini masih didominasi oleh prasangka kasta, dan banyak orang India yang bermigrasi ke Silicon Valley membawa prasangka kasta tersebut.

LA Times melaporkan pada tahun 2020 bahwa perusahaan Cisco Systems, khususnya dua insinyur India yang bekerja di sana, dituntut oleh regulator negara bagian California. Tuduhannya diikuti oleh laporan di The Wire bahwa hampir 70 persen orang India dari kasta rendah mengalami diskriminasi di tempat kerja di Amerika. 

8. Silicon Valley terkontaminasi limbah beracun

Ditiru Bukit Algoritma, Ini 11 Masalah yang Terjadi di Silicon Valleyrevealnews.org

Environmentalisme adalah faktor utama dari banyak hal yang terjadi di Silicon Valley, mulai dari pusat data energi bersih 100 persen milik Apple hingga Tesla. Sering kali, perusahaan teknologi berada di garis depan terkait energi yang lebih bersih, lebih efisien, dan ramah Bumi. Di sisi lain, Silicon Valley justru berada di tempat pembuangan limbah beracun.

Silicon Valley terletak di Santa Clara County, di mana banyak situs federal yang superfund—daerah yang sangat tercemar. Bahkan, FBI harus menanganinya secara khusus dibandingkan daerah lain di negara tersebut, dan menurut Quartz, totalnya ada 23. Zat berbahaya ini terkubur di tanah di seluruh wilayah Silicon Valley, berupa polutan dan bahan kimia yang tertinggal dari limbah chip silikon dan semikonduktor yang dibangun di sana selama ledakan manufaktur dari pertengahan 1960-an hingga pertengahan 1980-an. 

Google dan NASA memiliki kampus di Silicon Valley, bersama dengan sekolah, rumah, taman, dan bisnis yang dipenuhi jutaan orang, yang berada di atas limbah beracun. Federica Armstrong, seorang fotografer yang tinggal di Santa Clara County, mendokumentasikan situs-situs superfund California. "Kebanyakan orang di sana tampaknya tidak menyadari zat bahaya tersebut," katanya kepada The New York Times. "Sering kali, bahkan situs Superfund asing bagi mereka." 

9. Infrastruktur Silicon Valley ternyata sangat buruk

Ditiru Bukit Algoritma, Ini 11 Masalah yang Terjadi di Silicon Valleybizjournals.com

Meskipun dipenuhi beberapa gedung perkantoran paling keren dan terhijau di dunia, dan sebagian besar orang terpintar dan terkaya di dunia, Silicon Valley dianggap memiliki infrastruktur yang sangat buruk. San Jose Inside melaporkan pada tahun 2020 bahwa lebih dari 60 persen jalan di San Jose dinyatakan berkualitas "buruk" oleh regulator federal.

Banyak jalan dan trotoar yang membutuhkan perbaikan. Tahun 2019, pemerintah kota mengumumkan rencana untuk memperbaiki jalan perumahan sepanjang 1.490 mil selama sembilan tahun ke depan. Selain itu, menurut Silicon Valley Business Journal, lalu lintas Silicon Valley menjadi yang terburuk kelima di negara itu, bahkan penduduk San Francisco harus kehilangan nyawanya rata-rata 78 jam setahun. 

Menurut artikel San Francisco Chronicle 2018, San Francisco memiliki beberapa angkutan umum yang paling lambat, paling rawan rusak jika dibandingkan dengan beberapa area metro terbesar di negara tersebut.

Bus hanya melaju dengan kecepatan 2 mph lebih lambat dari biasanya, dan sistem kereta api kota melaju 5 mph lebih lambat. Selain lambat, angkutan umum San Francisco sering mengalami kerusakan sehingga berada di urutan paling bawah untuk transportasi yang paling rawan bermasalah. 

10. Upaya ketat untuk menjaga keamanan perusahaan

Ditiru Bukit Algoritma, Ini 11 Masalah yang Terjadi di Silicon Valleyinc.com

Ratusan miliar dolar investasi mengalir ke Silicon Valley, dan produk yang mereka buat di sana dapat bernilai miliaran juga. Seperti yang dijelaskan PBS, Silicon Valley merupakan kekayaan intelektual paling berharga di dunia. Dan ia menjadi target mata-mata dari negara seperti China dan Rusia.

Oleh sebab itu, menjaga keamanan perusahaan sangatlah penting. Namun, banyak perusahaan teknologi menggunakan protokol anti-spionase untuk memata-matai, dan menghukum karyawan mereka sendiri jika dinyatakan bersalah atau melanggar. 

Seorang karyawan Facebook menunjukkan kepada The Guardian bahwa kontrak yang ditandatanganinya memuat persetujuan agar perusahaan bisa memantau dan merekam aktivitas media sosialnya, termasuk akun Facebook pribadinya, serta email, panggilan telepon, dan penggunaan internet.

11. Bunuh diri menjadi masalah utama di Silicon Valley 

https://www.youtube.com/embed/lJ7AnC0XdNg

Silicon Valley mendapat julukan tragis sebagai salah satu ibu kota bunuh diri di dunia. California Management Review melaporkan, dalam satu dekade terakhir, tingkat bunuh diri tumbuh empat kali lipat lebih tinggi di sekolah menengah atas di Palo Alto daripada tingkat rata-ratanya di nasional.

Kombinasi toksik dari stereotip dunia teknologi terkait persaingan yang ketat, dan ekspektasi yang sangat tinggi terhadap dolar mendorong banyak penduduk Silicon Valley untuk bunuh diri, terutama setelah seseorang gagal di usia muda. 

Silicon Valley juga sedang dilanda lonjakan kasus bunuh diri terkait Covid yang sama seperti yang dilihat sebagian besar dunia. The National Disaster Distress Helpline melaporkan bahwa terjadi peningkatan panggilan darurat sebanyak 900 persen antara Mei 2019 dan Mei tahun 2020, menurut San Jose Spotlight, dan orang yang dibawa ke rumah sakit di kawasan Silicon Valley naik berlipat ganda antara Februari dan Mei pada tahun 2020. 

Meski memiliki hal-hal yang menakjubkan, Silicon Valley tak lepas dari masalah pelik yang meliputinya. 

Baca Juga: Bagaimana Nasib Pesawat yang Sudah Tak Beroperasi? Ini Jawabannya!

Artikel ini pertama kali ditulis oleh Amelia Solekha di IDN Times Community dengan judul Tak Selalu Jadi Impian, Begini 11 Kekacauan di Silicon Valley 

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya