Comscore Tracker

Pemain Indonesia di Klub Bosnia Buka Puasa Pukul 8 Malam

Pandemik membuat Miftah tak bisa salat tarawih

Jakarta, IDN Times -Sejumlah pemain Indonesia kini memperkuat klub di luar negeri baik itu di Eropa maupun Asia.

Salah satu pemain Indonesia yang bermain di luar negeri adalah Miftah Anwar Sani, yang memperkuat FK Sloboda Tuzla, Bosnia. Miftah Anwar Sani, telah menjalani puasa selama hampir sebulan di Bosnia. Banyak cerita menarik yang dialami oleh Miftah selama berpuasa di sana dan menjalani kehidupannya sebagai pemain profesional.

Menurut Miftah, berpuasa di Bosnia harus pintar dalam mengatur asupan makanan. Sebab, jam puasa di Bosnia lebih lama ketimbang Indonesia yang cuma 13 jam.

"Kalau di Bosnia, puasanya 17 jam. Lumayan lama. Makanya harus pintar mengatur asupan makanan. Kalau makan nasi kan cepat lapar. Jadi diatasi dengan roti, pasta, ya saya tambah saja porsinya," kata Miftah kepada IDN Times.

Baca Juga: Miftah Anwar Sani, dari Persita hingga Tembus Kompetisi Eropa

1. Terbantu iklim

Pemain Indonesia di Klub Bosnia Buka Puasa Pukul 8 MalamMiftah Anwar Sani. (Dok. Persita).

Miftah mengakui iklim di Bosnia yang lebih sejuk sangat membantunya. Setidaknya, dia jadi tak cepat haus saat harus menjalani ibadah puasa bersamaan dengan kewajibannya berlatih serta bermain.

Kondisi itu membuat ibadah puasa Miftah berjalan lancar, tak ada yang bolong satu pun.

"Ya, itu sangat membantu jadi tak gampang haus, sejuk ke arah dingin kan. Pelatih sih tahu saya puasa. Karena, ada juga beberapa pemain yang puasa pula," kata Miftah.

2. Kultur yang beda jadi tantangannya

Pemain Indonesia di Klub Bosnia Buka Puasa Pukul 8 MalamMiftah Anwar Sani. (Dok. Persita).

Selama berkarier di Eropa, Miftah mengakui kendalanya hanyalah kultur yang berbeda. Meski komunitas muslim di Bosnia cukup besar, restoran hingga kedai kopi buka seperti hari normal.

Maka dari itu, suasana ramadan di Bosnia terasa seperti hari biasa, tak ada yang spesial.

"Kultur yang beda, selain jam puasa lebih lama. Lingkungan di Indonesia kan mendukung. Tapi, kalau di sini, kedai kopi dan restoran buka. Lihat orang-orang minum kopi pagi hari. Ada sih yang puasa, lumayan banyak muslimnya, sekitar 40 sampai 50 persen. Tapi, situasinya seperti normal. Jadi, itu tantangannya," ujar Miftah.

3. Tak bisa tarawih ke masjid selama pandemik COVID-19

Miftah menjelaskan saat pandemik COVID-19, beribadah selama ramadan juga cukup terbatas di Bosnia. Miftah tak bisa menjalankan salat tarawih di masjid, karena memang ada jam malam yang diberlakukan selama pandemik COVID-19.

Selain itu, jarak masjid dengan kediaman Miftah cukup jauh. Sedangkan, jam buka puasa di Bosnia adalah pukul 20.00.

"Magrib baru jam 8 malam. Isya sudah jam 9 malam. Ada pembatasan aktivitas, masuknya jam 9 malam. Jadi, saya tak bisa ke luar rumah buat salat tarawih. Sahur pun saya beli. Pulang latihan, beli makanan buat buka dan sahur. Saya tak bisa masak, cuma goreng telur. Oh iya, sama masak mi," ujar pria 25 tahun tersebut.

Baca Juga: Arhur Irawan Dipanggil Masuk Timnas Indonesia, Warganet Heboh

Topic:

  • Febriana Sintasari

Berita Terkini Lainnya