Comscore Tracker

Mitos-Mitos Soal COVID-19 Ini Masih Dipercaya Meski Tak Benar

WHO nyatakan perang lawan misinformasi COVID

Di saat pandemik COVID-19 masih belum tahu kapan akan berakhirnya, informasi menyesatkan seputar penyakit itu masih saja ada. Celakanya, misinformasi itu masih dipercaya sebagian besar orang.

Menurut Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, misinformasi lebih berbahaya dari SARS-CoV-2 karena menyebar lebih luas dan lebih cepat via internet. Misinformasi dan SARS-CoV-2 adalah kombinasi yang amat mematikan untuk diri sendiri dan orang l

Kondisi itu, kata Ghebreyesus, membuat dunia kini tidak hanya berperang melawan penyakit, melainkan juga misinformasi. "Kita tidak hanya melawan epidemik, tetapi juga 'infodemik'," kata Ghebreyesus, pada Februari 2020 lalu.

Lalu bagaimana cara mengetahu informasi mengenai COVID-19 itu benar atau salah? Paling mudah adalah dengan mencari tahu informasi terlebih dulu dan jangan main asal percaya saja.

Berikut ini lima hoaks yang masih dipercaya di masyarakat, jadi jangan dipercaya atau disebarluaskan lagi jika tidak ingin kena batunya.

Baca Juga: 1 Warga Kulon Progo Positif Tertular Pedagang Ikan Asin dari Purworejo

1. "Katanya", vitamin D mencegah penularan SARS-CoV-2

Mitos-Mitos Soal COVID-19 Ini Masih Dipercaya Meski Tak Benaresc-asia.com

Begitu pemerintah mengumumkan kasus COVID-19 pertama kali di Indonesia, warga kemudian beramai-ramai berjemur di bawah sinar matahari. Langkah itu sebenarnya bagus, tetapi di balik ramainya masyarakat berjemur di bawah matahari pagi, terdapat misinformasi yang cukup berbahaya, yaitu vitamin D dapat mencegah masuknya SARS-CoV-2.

Berdasarkan penelitian pada 6 Mei 2020 berjudul "The role of vitamin D in the prevention of coronavirus disease 2019 infection and mortality" oleh para peneliti Inggris, masyarakat dunia percaya bahwa vitamin D dapat mencegah penularan SARS-CoV-2.

Menurut penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa terdapat korelasi antara rendahnya kadar vitamin D dengan tingginya angka penularan SARS-CoV-2 dan kematian yang diakibatkan oleh COVID-19. Kesimpulan yang diambil, banyak mengonsumsi suplemen vitamin D dianggap mencegah penularan SARS-CoV-2.

Hal tersebut kemudian dibantah oleh ulasan cepat (rapid review) yang dirilis oleh Centre for Evidence-Based Medicine di bawah naungan University of Oxford pada 1 Mei 2020.

"Kami tidak menemukan bukti klinis hubungan (pencegahan) COVID-19 dengan vitamin D," sebut Joseph Lee, salah satu peneliti dari Centre for Evidence-Based Medicine.

Mereka juga mengungkap bahwa tidak ada hubungan konkret antara vitamin D dengan COVID-19.

Mitos-Mitos Soal COVID-19 Ini Masih Dipercaya Meski Tak BenarUnsplash/Jake Givens

Sebuah riset gabungan berjudul "Vitamin D and SARS-CoV-2 virus/COVID-19 disease", yang dilakukan pada Mei 2020, peneliti dari AS, Belgia, Inggris, dan Irlandia mengungkapkan bahwa pernyataan tersebut hanya berdasarkan dugaan semata.

"Imbauan (konsumsi suplemen vitamin D dosis tinggi sebagai strategi pencegahan terhadap COVID-19) tidak didukung oleh penelitian terkait terhadap manusia saat ini, melainkan lebih didasarkan pada spekulasi terhadap mekanisme terduga," papar studi yang diterbitkan pada jurnal BMJ Nutrition, Prevention & Health tersebut.

Meskipun suplemen vitamin D memang berguna untuk tubuh, konsumsi secara berlebih tanpa saran dokter malah menjadi "senjata makan tuan", terlebih bagi mereka yang memiliki rekam jejak medis yang bermasalah.

Dilansir dari situs Healthline, kelebihan vitamin D bisa menyebabkan:

  • Gagal ginjal,
  • Keropos tulang,
  • Sembelit hingga diare,
  • Dan kadar kalsium berlebih dalam darah yang menyebabkan pusing, mual, serta hilangnya nafsu makan.

2. Sama dengan vitamin D, seng "katanya" juga mencegah penyebaran SARS-CoV-2

Mitos-Mitos Soal COVID-19 Ini Masih Dipercaya Meski Tak Benarmindd.org

Misinformasi lain yang masih banyak dipercaya adalah soal zat seng yang bisa mencegah COVID-19. Zat seng memang berkontribusi besar pada daya tahan tubuh manusia. Berdasarkan kesimpulan tersebut, peneliti dari Jerman, Rusia, dan Yunani menyatakan bahwa zat seng dapat mencegah penyebaran SARS-CoV-2 dan dapat digunakan sebagai terapi untuk COVID-19!

Penelitian tersebut dituangkan pada 14 April 2020 berjudul "Zinc and respiratory tract infections: Perspectives for COVID‑19" pada jurnal International Journal of Molecular Medicine. Setelah melakukan eksperimen in vitro, para peneliti melihat bahwa ion zat seng mencegah kinerja enzim yang menjadi dalang penyebaran SARS-CoV-2.

Namun, adalah misinformasi jika menganggap seng dapat mencegah COVID-19. Kenapa? Toh, pada akhirnya, para penelitinya saja mengatakan bahwa tidak ditemukan bukti klinis bahwa zat seng berfungsi selayaknya hipotesis mereka.

Memang, sebuah makalah pada April 2020 berjudul "COVID-19: is there a role for immunonutrition, particularly in the over 65s?" oleh dua peneliti dari Inggris, Emma Derbyshire, Ph.D. (ahli gizi), dan Joanne Delange, Ph.D. (ahli biokimia), menyatakan bahwa asupan zat seng mencegah pneumonia pada anak-anak dan menjaga imun orang dewasa.

Namun, saat ditanya apakah zat seng dapat mencegah penularan virus secara umum, baik Derbyshire dan Delange sama-sama ragu.

"Uji coba masa kini... masih belum dapat menentukan kemanjuran suplemen zat seng," tulis Derbyshire dan Delange.

Baca Juga: 6 Mitos Virus Corona Paling Heboh yang Sempat Beredar, Ini Faktanya!

3. Vitamin C dapat menyembuhkan SARS-CoV-2

Mitos-Mitos Soal COVID-19 Ini Masih Dipercaya Meski Tak BenarDokumentasi Pribadi

Apakah vitamin C bisa dijadikan senjata ampuh untuk menangkal COVID-19? Berdasarkan  pendapat peneliti dari Tiongkok, jawabannya "BISA DONG!"

Menurut penelitian pada April 2020 berjudul "A new clinical trial to test high-dose vitamin C in patients with COVID-19", peneliti dari University of Otago, New Zealand, Anitra C. Carr, merekam eksperimen pemberian asupan vitamin C dosis tinggi secara intravena untuk para pasien COVID-19 bergejala parah di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok Tengah.

Hasilnya belum dapat dipastikan hingga akhir September 2020. Dari situ saja, kita sudah seharusnya menyadari kalau berita ini bukanlah solusi untuk COVID-19.

Mengomentari eksperimen tersebut, penjelasan para ahli kesehatan dan gizi dari Linus Pauling Institute di bawah naungan Oregon State University, AS, terdengar pesimis.

Meskipun asupan vitamin C dosis tinggi secara intravena dapat mengurangi gejala COVID-19 pada pasien, kecil kemungkinan vitamin C dapat digunakan untuk mencegah penularan SARS-CoV-2 secara umum.

Selain minimnya studi terkait, para ahli memperingatkan bahwa “pemberian vitamin C secara intravena tidak sama dengan mengonsumsi suplemen vitamin C” karena suplemen tidak meningkatkan kadar vitamin dalam darah setinggi pemberian secara intravena.

Hasilnya? Efek samping yang mengganggu seperti keram perut dan diare dapat mengintaimu sewaktu-waktu. Para peneliti mengiyakan bahwa suplemen vitamin C mampu mendongkrak sistem imun. Tetapi, konsumsi secukupnya!

4. Diet keto dapat menyembuhkan COVID-19

Mitos-Mitos Soal COVID-19 Ini Masih Dipercaya Meski Tak Benarunsplash.com/Ella Olsson

Tak hanya asupan vitamin, diet juga disebut mampu memerangi penyebaran SARS-CoV-2 secara umum. Diet tersebut adalah diet keto, diet yang rendah lemak dan karbohidrat.

Kenapa diet dikatakan bisa mencegah virus corona? Terdapat dua penelitian utama yang memicu misinformasi ini:

  • "Ketogenic Diet: A Role in Immunity?" pada Maret 2020 oleh Andrea C. Pardo dari Chicago, AS, dan
  • "Keto-diet for Intubated Critical Care COVID-19 (KICC-COVID19)" dari Johns Hopkins University pada April 2020.

Pada penelitian pertama, hasilnya dianggap tidak relevan karena eksperimen dilakukan terhadap hewan bukan terhadap manusia. Jadi, hasilnya bisa saja berbeda saat dilakukan terhadap manusia.

Pada penelitian kedua, manfaat intervensi formula ketogenik terhadap pasien COVID-19 yang diintubasi dengan mengurangi peradangan masih dicari tahu.

Intervensi tersebut mengharuskan pemberian formula ketogenik yang dirancang khusus secara enteral. Perawatan dari Johns Hopkins University tersebut akan menjadi prosedur pilihan terakhir bagi mereka yang dalam kondisi kritis.

Mitos-Mitos Soal COVID-19 Ini Masih Dipercaya Meski Tak BenarParenthoodmedia.com

Namun, perlu dicatat tidak ada penelitian terkait mengenai manfaat diet keto terhadap pencegahan SARS-CoV-2 dan perawatan COVID-19!

Justru, diet keto yang tidak terkontrol bisa membuka celah untuk peningkatan kadar kolesterol dalam darah. Selain kolesterol, menurut situs Medical News Today, diet keto yang dipaksakan dapat menyebabkan:

  • Gejala flu,
  • Pusing,
  • Mual, dan
  • Perubahan tekanan darah.

5. Obat herbal dapat menyembuhkan COVID-19

Mitos-Mitos Soal COVID-19 Ini Masih Dipercaya Meski Tak Benarfreepik.com/Imykola

Kemudian yang mungkin paling dipercaya khasiatnya adalah mengonsumsi obat herbal bisa menyembuhkan COVID-19. Informasi itu didasarkan pada sebuah pernyataan pada April 2020 oleh seorang pejabat Tiongkok, yang dilansir dalam penelitian dari Tiongkok pada 15 Mei 2020 berjudul "Use of herbal drugs to treat COVID-19 should be with caution" yang dimuat dalam The Lancet.

Pejabat tersebut menyatakan bahwa kapsul Lianhuaqingwen dan biji Jinhuaqinggan dapat menyembuhkan COVID-19 bergejala ringan dan pemberian Xuebijing secara intravena dapat menyembuhkan COVID-19 bergejala parah.

Penulis penelitian tersebut, Yinchang Yang dari The Second Affiliated Hospital of Zhejiang University School of Medicine, Tiongkok, mengingatkan bahwa pembaca perlu berhati-hati saat membaca tulisan tersebut.

"Sejauh ini, tidak ada uji klinis yang telah diulas secara sejawat (peer review) dan dilaporkan dalam jurnal bertaraf internasional terhadap khasiat obat herbal. Persetujuan yang didasarkan pada percobaan in vitro dan data klinis anekdotal mungkin akan menyebabkan beberapa konsekuensi yang mengkhawatirkan," tulis Yang.

Yang menuliskan bahwa bahan-bahan herbal yang dimuat dalam penelitian tersebut bisa saja tidak efektif dan memiliki efek samping yang berbahaya untuk individu tertentu. Selain itu, Yang mengatakan bahwa hubungan mekanisme tubuh dan obat herbal masih remang-remang dan tidak aman karena minimnya tes klinis terhadap manusia.

Itulah lima mitos mengenai COVID-19 dan SARS-CoV-2 yang masih membandel dan tetap beredar bebas di masyarakat awam. Apakah kamu pernah mendengar mitos-mitos tersebut?

Jika iya, jangan dipercaya dan disebarkan. Demi kebaikanmu dan orang lain juga!

Dunia masih mencari tahu informasi mengenai COVID-19 dan SARS-CoV-2, vaksin, serta obatnya. Jika kamu ingin membantu, bantulah dengan tidak mempercayai dan menyebarkan hoaks atau misinformasi, jaga kebersihan diri, serta mengikuti himbauan pemerintah. Bersama, kita pasti bisa melewati COVID-19!

Baca Juga: 13 Mitos Virus Corona yang Salah Kaprah, Jangan Terlalu Mudah Percaya!

Topic:

  • Febriana Sintasari

Berita Terkini Lainnya