Comscore Tracker

Peringati Sumpah Pemuda, Millennial Diajak Nyemplung ke Sungai

Jadi momentum Millennial peduli lingkungan sungai

Sleman, IDN Times - Untuk kedua kali, komunitas-komunitas pegiat sungai yang bergabung dalam Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS) bersama warga bantaran sungai menggelar peringatan Sumpah Pemuda di Sungai Kuning.

Menurut Ketua FKSS, AG Irawan, peringatan sebelumnya pada 2016 di sungai yang sama. Dan untuk tahun ini, puluhan pemuda pemudi generasi Millennial dari Karang Taruna "Parikesit" Desa Wedomartani dan Pramuka Saka Kalpataru Sleman memperingati bersama lintas generasi dari pegiat sungai dan warga dengan nyemplung di sungai, tepatnya di bawah jembatan Dam Sungai Kuning, Dusun Sempu, Desa Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman Rabu (28/10/2020) pagi.

“Semua warga lintas generasi dan lintas teritori harus bersatu, berkomitmen bergerak dalam pelestarian alam,” kata Irawan saat dihubungi IDN Times, 28 Oktober 2020 malam.

Upacara yang dipimpin Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Dwi Anta Sudibya diikuti 14 komunitas sungai dengan total 98 orang peserta. Pemilihan Sungai Kuning, menurut Irawan karena keasrian sungai, vegetasi, dan ikan-ikan lolal di lokasi dam tersebut masih terjaga.

Baca Juga: Antisipasi Dampak La Nina: Bersih-bersih Sungai hingga Pasang EWS 

1. Ada pengucapan Ikrar Sungai Sleman dalam peringatan Sumpah Pemuda

Peringati Sumpah Pemuda, Millennial Diajak Nyemplung ke SungaiPeringatan Sumpah Pemuda di Dam Sungai Kuning, Sleman, 28 Oktober 2020. Dokumen FKSS

Tak hanya membaca naskah Sumpah Pemuda oleh perwakilan dari karang taruna, upacara bendera tersebut juga diwarnai dengan pembacaan sejumlah ikrar. Meliputi Tri Satya oleh Pramuka Saka Kalpataru serta Ikrar Sungai Sleman oleh komunitas sungai. Begini bunyi Ikrar Sungai Sleman yang terdiri dari tiga poin itu.

Kami pegiat sungai Sleman berjanji menjaga sungai terbebas dari sampah dan limbah yang mencemari.

Kami pegiat sungai Sleman berjanji memelihara mata air untuk kehidupan

Kami pegiat sungai Sleman berjanji merawat tumbuhan dan hewan pendukung kelestarian eksosistem sungai

Ikrar tersebut dibuat FKSS pada 2018. Irawan mengisahkan, kelahiran ikrar tersebut berawal dari tindakan sejumlah pihak yang mengancam kelestarian lingkungan sungai. Seperti maraknya pendirian warung dan resto di pinggir sungai yang membuang limbah ke sungai. Juga penebaran benih ikan nila dan ikan invasif lainnya ke sungai. Pohon-pohon di pinggir sungai yang berfungsi untuk menyimpan air, seperti gayam, beringin, pule, aren, maupun bambu untuk menahan longsor juga berkurang.

2. Pencemaran sungai juga akibat aturan yang izinkan pembuangan limbah ke sungai

Peringati Sumpah Pemuda, Millennial Diajak Nyemplung ke SungaiKegiatan bersih sungai di Kali Buntung, Ngemplak, Sleman, 11 Oktober 2020. Dokumen FKSS

Sementara dalam siaran pers yang diterima IDN Times, 28 Oktober 2020 malam, Dwi Anta menyampaikan amanat upacara yang mengajak generasi muda untuk peduli lingkungan sungai. Lantaran banyak sungai yang kian tercemar. Pencemaran pun tak hanya disebabkan perilaku warga yang membuang sampah ke sungai.

“Tapi juga ada aturan yang mengizinkan sejumlah usaha membuang limbahnya ke sungai," ungkap Dwi.

Seperti aturan dalam Peraturan Daerah Sleman Nomor 4 Tahun 2007 tentang Izin Pembuangan Limbah yang mengizinkan pembuangan limbah usaha ke media air, seperti sungai meskipun harus memenuhi sejumlah persyaratan.

“Padahal pemantauan saluran buangan limbah, lemah,” ungkap Irawan.

Pasal 1 ayat 3 disebutkan, pembuangan air limbah adalah pembuangan air limbah ke media air melalui outlet (tempat pembuangan setelah melalui proses pengolahan). Dwi menilai perlu keterlibatan masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan sungai.

"Jika melihat ada industri atau unit usaha yang membuang limbah atau sampahnya ke sungai, segera lapor kami," imbuh Dwi tegas.

Di sisi lain, Dwi mengakui sejumlah titik sungai masih bersih, seperti di Dam Sungai Kuning di Sempu. Air yang jernih menjadikan ikan-ikan sungai hidup bebas tanpa terganggu limbah dan sampah. Momentum Sumpah Pemuda, menurut dia memberi pengingat pada kita semua, khususnya generasi muda.

“Generasi Millennial bersatu merawat dan melindungi sungai dari beragam polutan pengganggu," imbuh dia.

3. Ikan wader dan melem jadi indikator kelestarian lingkungan

Peringati Sumpah Pemuda, Millennial Diajak Nyemplung ke SungaiKegiatan menebar ikan wader dan melem di Sungai Kuning, Sleman, 28 Oktober 2020. Dokumen FKSS

Usai upacara, kemudian dilanjutkan kegiatan bersih Sungai Kuning sepanjang 800 meter. Sekaligus menebar 200 bibit ikan wader dan melem. Irawan menjelaskan, pemilihan dua jenis ikan tersebut karena merupakan ikan asli sungai. Ikan-ikan itu berkembang biak dengan bertelur. Kemudian telur-telur ikan itu diletakkan di dinding bebatuan.

“Kalau ikan nila, kami larang ditebar di sungai,” kata Irawan.

Ikan nila bukanlah ikan asli sungai. Melainkan jenis ikan asing yang invasif alias Invasive Alien Species (IAS). Ikan-ikan jenis ini mempunyai karakter merusak ekosistem yang ada. Jika disebarkan di dalam ekosistem sungai, maka ikan nila akan memakan telur-telur dari ikan-ikan asli sungai.

“Ikan asli sungai menjadi indikator kelestarian lingkungan sungai dan tingkat pencemarannya,” imbuh Irawan.

4. Millennial diajak mengelola wisata sungai

Peringati Sumpah Pemuda, Millennial Diajak Nyemplung ke SungaiSuasana sarasehan usai peringatan Sumpah Pemuda di tepi Sungai Kuning, Sleman, 28 Oktober 2020. Dokumen FKSS

Acara ditutup dengan sarasehan yang diikuti semua peserta dengan duduk di tepi sungai beralaskan rerumputan. Anak-anak muda menyampaikan keinginan yang sama agar lingkungan sungai tetap bersih dan asri.

“Tempat ini membuat kami kian akrab dan cinta lingkungan,” kata pegiat Sungai Adem dari Desa Girikerto, Kapanewon Turi, Ivan.

Perwakilan Karang Taruna “Parikesit”, Restu Wahyuni berkeinginan menjadikan bantaran sungai yang masih asri itu menjadi kampung karang taruna. Alasannya, itu berguna untuk kegiatan anak-anak muda dalam melestarikan alam.

Kondisi lingkungan sungai yang asri juga menarik minat pengelola Wisata Ledok Blotan, Abdullah Lubis untuk terus mengelola lingkungan pinggir di daerahnya. Lantaran wisata pinggir sungai ternyata banyak peminatnya.

“Jika bisa dikelola warga, khususnya anak-anak muda setempat, lebih pas. Gak perlu bingung cari kerjaan ke luar kota,” imbuh Abdullah.

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DI Yogyakarta, Krido Suprayitno, yang juga hadir dalam acara tersebut menyatakan dukungannya atas gerakan pelestarian sungai yang dimotori generasi Millennial ini.

"Kami akan dukung pemanfaatan lahan kas desa yang dikelola karang taruna setempat," ucap Krido. 

Baca Juga: Dua Gending Baru dari Keraton Yogyakarta untuk Rayakan Sumpah Pemuda 

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya