Comscore Tracker

Pasien COVID-19 Naik, DPRD DIY: Pemda Harus Siapkan Shelter Khusus OTG

Kabar bohong soal COVID-19 pengaruhi kepatuhan publik

Yogyakarta, IDN Times - Dua hari berturut-turut, kasus positif COVID-19 di DIY melampaui rekor. Angka 64 dan 67 dimungkinkan masih terus bertambah pada hari-hari ke depan.

Wakil Ketua DPRD DIY dari Fraksi PKS Huda Tri Yudiana menyebutkan, angka tersebut melonjak setelah tes massal masif dilakukan sekaligus menunjukkan terjadinya transmisi lokal yang masif juga.  

“Kapasitas rumah sakit di DIY dikhawatirkan akan overload dan tidak mampu lagi, jika tidak disikapi dengan cepat dan taktis,” kata Huda melalui siaran pers yang disampaikan pada Sabtu (1/8/2020).

Huda mendesak rumah sakit lapangan segera diaktifkan untuk mengantisipasi banyaknya tambahan kasus positif COVID-19.

Baca Juga: [UPDATE] 2 Agustus 2020: DIY Tambah 19 Kasus Positif COVID-19

1. Pemerintah tiap kabupaten kota diminta menyediakan shelter untuk pasien tanpa gejala

Pasien COVID-19 Naik, DPRD DIY: Pemda Harus Siapkan Shelter Khusus OTGRumah Sakit Lapangan Khusus COVID-19 Bantul. IDN Times/Daruwaskita

Mayoritas kasus adalah konfirmasi positif tanpa gejala (confirm asymptomatic) alias orang tanpa gejala (OTG). Dalam kondisi darurat, mereka bisa dirawat di shelter atau penampungan yang tidak memerlukan fasilitas medis sebagaimana rumah sakit.

“Jadi segera aktifkan shelter untuk merawat OTG. Jangan sampai OTG dipulangkan dan diminta isolasi mandiri,” kata Huda.

Langkah karantina mandiri untuk OTG, menurut Huda membuat pasien tidak terkontrol. Tidak menutup kemungkinan pasien justru bisa menyebarkan virus tanpa kendali. Sementara perawatan OTG di rumah sakit berbiaya mahal. Selain itu, juga mengakibatkan kapasitas rumah sakit penuh.

“Yang bergejala dan perlu mendapat perawatan malah tidak dapat tempat,” kata Huda.

Perawatan OTG di shelter ini harus mendapat pengawasan khusus, termasuk peningkatan daya tahan tubuh. Jika ada yang keluhan gejala, pasien langsung bisa dirawat di rumah sakit.

Persoalannya, belum semua pemerintah kabupaten kota di DIY memiliki shelter untuk merawat OTG. Tercatat baru dua daerah yang sudah menyediakan shelter, yaitu asrama haji di Sleman serta gedung balai desa dan rumah sakit lapangan di Bantul.

“Saya minta Dinas Kesehatan DIY segera berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten kota untuk siapkan lokasi shelter, seiring dengan gerakan swab massal,” kata Huda.

2. Perlu penambahan kapasitas bed di rumah sakit

Pasien COVID-19 Naik, DPRD DIY: Pemda Harus Siapkan Shelter Khusus OTGIlustrasi pasien COVID-19. ANTARA FOTO/REUTERS/Lucy Nicholson

Di sisi lain, keterbatasan kapasitas rumah sakit membuat pasien dengan gejala sakit sedang dan berat tidak bisa mendapatkan perawatan secara memadai. Kondisi pasien bisa menjadi lebih parah. Berdasarkan informasi yang dihimpun Huda, kapasitas RS yang disiapkan 320 bed dan masih menyisakan sekitar 100 bed kosong.

“Jadi harus bijak dan taktis dalam penanganannya. Apalagi jumlah kasus meningkat akhir-akhir ini,” kata Huda.

Salah satu solusinya adalah menambah kapasitas bed di tiap-tiap rumah sakit. Selain itu, kondisi saat ini harus menjadi warning untuk masyarakat agar taat protokol kesehatan.

“Tanpa ketaatan, semua upaya akan sia-sia,” kata Huda menegaskan.

3. Kabar bohong COVID-19 mengakibatkan turunnya kepatuhan masyarakat

Pasien COVID-19 Naik, DPRD DIY: Pemda Harus Siapkan Shelter Khusus OTGAksi aliansi masyarakat sipil Yogyakarta tentang ajakan warga agar patuh pada protokol kesehatan, 1 Agustus 2020. Dokumentasi masyarakat sipil

Tanda-tanda melemahnya kepatuhan publik terhadap protokol kesehatan akhir-akhir ini juga mendapat sorotan kelompok-kelompok masyarakat sipil di Yogyakarta. Seperti warga mulai jarang mengenakan masker di tempat umum dan mulai berkerumun.

Masyarakat sipil DIY dari berbagai elemen kemudian membentuk aliansi untuk bergotong-royong menjaga Yogyakarta. Ada lebih dari 20 lembaga yang bergabung dengan latar belakang aktivis, akademisi, jurnaliss, professional, dan mahasiswa.

“Sebelum pandemi ini nyata-nyata punah, masyarakat Yogyakarta harus terus mempertahankan kewaspadaan dengan menjaga sikap aja lena, aja sembrana (jangan terlena, jangan sembrono),” kata koordinator aliansi, Nurcholis Majid salam siaran pers tertanggal 1 Agustus 2020.

Nurcholis mengimbuhkan, gerakan tersebut bersifat terbuka dan non partisan. Dia berharap aliansi ini mampu berkontribusi untuk menggerakkan semangat gotong-royong antara elemen masyarakat, instansi pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, media massa, dan organisasi masyarakat sipil.

“Kami akan terus melakukan gethok-tular mengajak masyarakat Yogyakarta saling menjaga, pakai masker di ruang publik, rajin cuci tangan, menjaga jarak fisik, dan menghindari keramaian,” kata Nurholis.

Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Septiaji Eko Nugroho yang juga bergabung dalam aliansi menjelaskan aliansi ini juga berperan untuk memerangi infodemi, yaitu kabar bohong yang mengikuti pandemi COVID-19. Infodemi dinilai tidak kalah berbahaya dibanding virus corona itu sendiri.

Infodemi ditengarai menjadi salah satu penyebab turunnya ketidakpatuhan masyarakat. Bahkan di beberapa tempat memicu ketidakpercayaan dan intimidasi kepada tenaga kesehatan dan rumah sakit.

“Infodemi ini menimbulkan problem besar tidak hanya di Indonesia,” kata Septiaji.

Dia mencontohkan, seperti gelombang penolakan masker di Amerika hingga pembakaran tower 5G di Inggris yang diperparah dengan maraknya hoaks dan teori konspirasi. Indonesia pun kebanjiran infodemi berupa hoaks dan teori konspirasi dengan jumlah hampir 100 topik setiap bulan.

“Kami berjuang untuk memerdekakan masyarakat dari penyakit informasi ini supaya mereka bisa mengambil keputusan atas informasi yang benar,” jelas Septiaji.

Aliansi ini memasang banner besar dengan tema “Jaga Jogja, Aja Lena, Aja Sembrana” di Tugu Pal Putih Yogyakarta sebagai simbol dimulainya aksi aliansi pada 1-2 Agustus 2020.

4. Aksi edukatif agar pesepeda taat lalu lintas dan protokol kesehatan

Pasien COVID-19 Naik, DPRD DIY: Pemda Harus Siapkan Shelter Khusus OTGAksi Jogja Santun Bersepeda untuk mengajak pesepeda patuh aturan, 1 Agustus 2020. Dokumentasi aksi

Sementara sejumlah komunitas pesepeda di Yogyakarta pun turut bergerak untuk kembali mengingatkan publik akan bahaya COVID-19. Lewat gerakan Jogja Santun Bersepeda, mereka menggelar aksi edukatif pada 2 Agustus 2020 untuk merespons fenomena maraknya pesepeda saat ini.

Mereka menggelar aksi di sejumlah titik yang biasa menjadi area kumpul pesepeda, seperti perempatan Tugu Pal Putih Yogya, teteg Stasiun Tugu, dan perempatan titik nol kilometer.

Dalam aksi tersebut, mereka membagikan stiker berisi pesan keselamatan kepada pesepeda yang melintas. Misalnya stiker bertuliskan “Berhenti Saat Lampu Merah”, “Safety Riding, Gunakan Helm Saat Bersepeda”, juga sejumlah langkah yang harus dipatuhi sebelum bersepeda maupun ketika bersepeda.

Seperti untuk menghindari droplet, pesepeda mengenakan baju lengan panjang, bersarung tangan, kacamata, masker, serta membawa handsanitizer dan handuk kecil. Pesepeda diutamakan bersepeda sendirian. Jika berkelompok dibatasi 2-5 orang. Penggunaan masker ketika berhenti dan beristirahat, tetapi dilepas ketika tengah mengayuh sepeda.

Peserta aksi juga membawa banner yang bertuliskan ajakan untuk tertib dan santun bersepeda. Seperti banner dengan tulisan “Ngeblong Sosor Andhong”.

“Kami ingin mengajak para pengguna jalan, khususnya pesepeda untuk lebih santun dan mentaati peraturan lalu lintas ketika bersepeda di jalan raya,” kata Koordinator Aksi, A. Noor Arief melalui siaran pers yang diterima 1 Agustus 2020. 

Baca Juga: Jumlah Kasus Positif COVID-19 dari Klaster Koperasi di Sleman Jadi 34

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya