Comscore Tracker

Pameran Memorabilia Udin, Seni Menolak Lupa Kekerasan pada Jurnalis

Digitalisasi untuk merawat ingatan

Sleman, IDN Times - Gambar-gambar wajah mendiang Udin, pemilik nama lengkap Fuad Muhammad Syafruddin terpampang di Antologi Collaborative Space, Sleman selama 3-10 Mei 2021. Gambar berwujud poster warna-warni itu digantung dengan hanger di besi panjang gantungan baju. Untuk melihatnya lebih jelas, pengunjung tinggal menyibaknya seperti memilah-milih pakaian.

Poster itu adalah satu dari sekian bentuk benda yang dipamerkan untuk peringatan World Press Freedom Day atau Hari Kebebasan Pers Dunia. Pandemik COVID-19 tak mengendurkan semangat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta bekerja sama dengan Connecting Design Studio, IndonesiaPENA, dan Antologi Collaborative Space menggelar pameran bertajuk Memorabilia Wartawan Udin.

Baca Juga: Udin dan Nurhadi, Jurnalis Korban Kekerasan karena Meliput Korupsi

1. Menolak lupa, merawat ingatan

Pameran Memorabilia Udin, Seni Menolak Lupa Kekerasan pada JurnalisPameran Memorabilia Wartawan Udin di Sleman, 3 Mei 2021. (IDN Times/Pito Agustin Rudiana)

Ada 25 poster wajah Udin, 15 gambar digital kamera peninggalan Udin, 31 kliping artikel berita tentang Udin yang digitalisasi, juga 5 poster yang direspon seniman Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pelibatan seniman dalam proses advokasi pun bukan hal baru. Setidaknya, Koordinator Koalisi Masyarakat untuk Udin (K@MU), Tri Wahyu mengingat ada seniman pergerakan bilang, bahwa advokasi tanpa seni itu kering. Sentuhan seni bisa menyegarkan proses advokasi yang melelahkan.

“Sentuhan seni juga bisa memanjangkan napas perjuangan. Menolak lupa, merawat ingatan,” papar Tri Wahyu saat menjadi salah satu pembicara dalam diskusi pembukaan pameran di kafe itu, 3 Mei 2021 sore.

Pemilihan lokasi pameran di kafe yang biasa jadi tempat nongkrong kawula muda pun bukan tanpa alasan.

“Agar generasi muda juga tahu sejarah Udin ketika menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya,” imbuh Ketua AJI Yogyakarta, Shinta Maharani.

2. Digitalisasi benda hingga ingatan tentang Udin

Pameran Memorabilia Udin, Seni Menolak Lupa Kekerasan pada JurnalisPameran Memorabilia Wartawan Udin di Sleman, 3 Mei 2021. (IDN Times/Pito Agustin Rudiana)

Proses pengumpulan materi pameran berawal dari kediaman Marsiyem, istri mendiang Udin. Kurator pameran, Anang Saptoto melihat cukup banyak yang bisa didokumentasikan dalam bentuk digital. Barang-barang peninggalan Udin, kliping koran berita Udin, hingga keluarga Udin sendiri.

“Karena bicara Udin tak hanya tentang Udin. Tapi kompleksitas keluarga Udin,” kata Anang. Mengingat kekerasan yang dialami Udin tak hanya membunuhnya. Melainkan juga meruntuhkan semua aspek dalam keluarga dan relasi jurnalisme waktu itu.

“Jadi proses digitalisasinya harus bertahap. Tak semua bisa dicover,” kata Anang.

Tak hanya benda yang rentan tercecer dan hilang. Ingatan pun tak berumur pendek. Rencananya, usai mendigitalisasi benda, Anang juga akan mendokumentasikan ingatan-ingatan dari keluarga, teman, juga jaringan di sekitar Udin. Seperti ingatan mantan redaktur Bernas, Heru Prasetya yang mengedit tulisan-tulisan Udin masa itu.

“Ingatan Pak Heru yang berhubungan dengan Udin harus kami rekam dari A sampai Z. Yang penting maupun gak penting,” kata Anang.

3. Kisah kamera lawas Udin yang digudangkan dan dipamerkan

Pameran Memorabilia Udin, Seni Menolak Lupa Kekerasan pada JurnalisPameran Memorabilia Wartawan Udin di Sleman, 3 Mei 2021. (IDN Times/Pito Agustin Rudiana)

Marsiyem tak menyangka, kamera-kamera analog yang tak terpakai di rumahnya kini bisa berpindah ke sebuah kafe yang ditongkrongi anak-anak muda. Dan siapapun bisa memandang sepuasnya. Meski bukan dalam ujud kamera, melainkan sebatas gambar foto dari kamera-kamera itu yang dipajang dengan pigura kayu. Setidaknya generasi milenial tahu jenis-jenis kamera yang pernah dipakai mendiang Udin semasa bertugas.

“Kaget juga dengan idenya Mas Anang,” kata Marsiyem.

Kamera-kamera tahun 90-an itu milik Udin. Tak hanya digunakan untuk mendukung aktivitas jurnalistiknya ketika meliput di lapangan. Melainkan juga menunjang perekonomian keluarga kecilnya. Udin membuka studio foto yang diberi nama Studio Foto Krisna. Nama Krisna diambil dari nama anak sulung mereka.

“Karena banyak waktu luang tersisa sehingga buka studio foto. Hasilnya lumayan bisa menambah penghasilan,” kenang Marsiyem.

Pelanggannya datang untuk memesan pas foto. Untuk keperluan sekolah, kerja, KTP, dan banyak lagi.

“Juga dipakai Pak Udin untuk memotret gambar-gambar wartawan,” kata Marsiyem.

Selepas Udin meninggal karena dianiaya, studio foto itu masih sempat eksis. Marsiyem yang melanjutkan usahanya hingga pindah rumah kontrakan. Kini kamera-kamera itu digudangkan.

4. Napak tilas kasus Udin lewat aplikasi purwarupa

Pameran Memorabilia Udin, Seni Menolak Lupa Kekerasan pada JurnalisPameran Memorabilia Wartawan Udin di Sleman, 3 Mei 2021. (IDN Times/Pito Agustin Rudiana)

Yang terbaru adalah pelibatan IndonesiaPENA, sebuah platform penyimpanan arsip-arsip secara digital. Menurut direkturnya, Masduki, konsep itu mengadopsi platform yang sudah berkembang di Amerika Serikat dan Eropa yang menggarap projek-projek dari peristiwa humanis yang digitalisasikan.

“Dan case studies pertama produk purwarupa kami adalah kasus Udin. Bebas akses lewat indonesiapena.info,” kata Masduki yang berencana akan mengarsipkan peristiwa-peristiwa pelanggaran hak asasi manusia lainnya.

Ketika membuka laman itu, pengunjung tak hanya mendapatkan narasi penjelasan tentang kasus kematian Udin pada 16 Agustus 1996. Bahkan perkembangan advokasi kasus Udin per tahun dari 1996 hingga 2020 bisa diketahui setelah merekonstruksi data yang ada.

“Kalau dulu mengumpulkan data susah. Sekarang tinggal mengakses untuk mendapat kronologinya 24 tahun ini,” kata Masduki.

Laman itu juga menyuguhkan peta lokasi-lokasi yang berhubungan dengan kasus Udin. Peta itu terinspirasi dari peta wisata alternatif di Eropa. Ada 12 lokasi yang ketika diklik akan ada penjelasan kaitan nama lokasi dengan kasus Udin. Sebut saja Polres Bantul, Polda DIY, makam Udin, Sekretariat AJI Yogyakarta di Gejayan, Pengadilan Bantul, dan seterusnya.

“Jadi orang ke Yogyakarta tak hanya ke keraton. Bisa menelusuri lokasi sejarah kasus Udin dengan panduan aplikasi purwarupa ini. Sehari cukup,” papar Masduki. 

Baca Juga: Pengujian UU KPK, UII: Peran MK Tak Tampak sebagai Pengawal Konstitusi

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya