Comscore Tracker

Raras Racik Minyak Atsiri, Wanginya Sampai ke Luar Negeri

Khasiatnya beragam dengan harga terjangkau

Sleman, IDN Times - Produk UMKM asli Yogyakarta kini banyak yang kian dilirik secara nasional maupun internasional, salah satunya adalah Giriwangi Essential Oil. Giriwangi Essential Oil adalah home industri minyak atsiri asal Sleman yang sudah dimulai sejak tahun 1990-an oleh Maria Susana Hartanti. Perempuan yang kerap disapa Raras itu kini dengan suaminya telah menciptakan lebih dari 100 produk dengan berbagai bahan, juga untuk berbagai manfaat.

Kepada IDN Times Jogja pada Jumat (03/06/2022), Raras mengatakan Indonesia adalah negara yang kaya dengan tanaman yang bisa dihasilkan sebagai minyak atsiri. Untuk itu, asalkan mau kreatif dan melakukan riset, Indonesia bisa menjadi negara penghasil essential oil yang berkualitas nomor satu.

Baca Juga: Geliat Thrifting di Jogja, Berubah dari Cari Merek ke Gaya

1. Berawal dari budidaya daun nilam, kemudian menjadi produsen minyak atsiri

Raras Racik Minyak Atsiri, Wanginya Sampai ke Luar NegeriIlustrasi daun nilam (doktor.pertanian.uma.ac.id)

"Awal saya tertariknya itu tahun 1997 atau 1998, saya baca ada yang dijuluki emas hijau, ternyata itu daun nilam. Itu kemudian dibilang kalau minyak nilam dari Indonesia itu terbaik. Kemudian ada teman saya mengajak budidaya nilam," ungkap Raras menceritakan awal mula perjalanannya sebagai pembuat minyak atsiri.

Lantas ia dan teman belajar dari kelompok petani nilam yang berasal dari wilayah Turi, Sleman dan menyewa sebuah lahan untuk menjajal budidaya tanaman nilam. Tak langsung dijadikan minyak, Raras awalnya menjadi pemasok daun nilam bagi pembuat minyak sampai di satu titik ia merasa kurang mantap jika hanya sebagai pemasok nilam.

"Seiring berjalannya waktu, sambil belajar penyulingan, sambil mengumpulkan modal, baru tahun 2005 mencoba merancang alat untuk menyuling" tambahnya. Sayangnya, tak lama setelah perancangan itu, Yogyakarta diguncang gempa yang membuat Raras harus berhenti sesaat. Dan di tahun 2008, ia dan sang suami baru benar-benar memulai Giriwangi.

2. Rasa penasaran membuat Raras banyak mencoba berbagai tanaman dan metode

Raras Racik Minyak Atsiri, Wanginya Sampai ke Luar NegeriAlat penyuling minyak milik Giriwangi Essential Oil (IDN Times/Dyar Ayu)

"Kebetulan suka penasaran, tanaman ini keluar minyaknya atau gak. Kalau gak, memang gak ada (kandungan minyak). Nah, berarti harus dengan cara lain, bukan penyulingan, tapi ekstraksi," ujar Raras yang merupakan seorang sarjana pertanian. Ia lalu menerangkan bahwa penyulingan dan ekstraksi adalah hal yang berbeda.

Jika ekstraksi, tanaman membutuhkan bantuan dari bahan lain untuk mengeluarkan minyaknya. Berbeda dengan penyulingan, yaitu hanya menggunakan bahan baku yang memang sejak awal mengandung minyak.

Dari kemampuannya ini Raras beberapa kali diundang sebagai dosen tamu. Misalnya seperti LPP Yogyakarta untuk memberikan ilmu menyoal tanaman nilam dan juga di UGM saat membuka jurusan S2 baru yaitu Teknologi Pengolahan Minyak Atsiri.

3. Tak hanya minyak, ratusan produk lain juga sudah diciptakan

Raras Racik Minyak Atsiri, Wanginya Sampai ke Luar NegeriProduk milik Giriwangi Essential Oil (IDN Times/Dyar Ayu)

"Dulu kami juga jual bibit-bibit tanaman, seperti nilam, akar wangi, pokoknya yang bisa disuling." Cerita Raras yang memang semasa mudanya sudah berjiwa wirausaha. Raras dan suami tidak hanya berjualan minyak dan bibit, tapi juga berbagai produk seperti sabun, parfum, bahkan krim rambut yang tentu saja berbahan alami.

Pada tahun 2008 Raras pernah diliput menyoal alat penyulingan yang dibuat sendiri bersama suami oleh salah satu majalah khusus tanaman terkenal di Indonesia. Dan dari sana, beberapa kali Raras justru dimintai membuat alat penyulingan juga.

"Berjualan minyak atsiri 'kan gak seperti berjualan kacang goreng. Jadi saya pikir, bahannya ada banyak, jadi saya bikin sabun, sampo, pokoknya semua dari ujung kaki ke ujung rambut ya ada."

Baca Juga: Ren Florist Buktikan Pasangan Bisa Profesional Jalankan Usaha

4. Mendapatkan bahan baku dari petani yang berasal dari berbagai kota di Indonesia

Raras Racik Minyak Atsiri, Wanginya Sampai ke Luar Negeriilustrasi serai (thespruceeats.com)

Untuk menghasilkan minyak-minyak atsiri tersebut, Raras mengambil bahan baku yang berasal dari petani yang ada di Yogyakarta juga beberapa di luar kota. "Kami ambil dari petani plasma, ada yang di Gunungkidul, Kulon Progo. Yang di luar kota ada, Jawa Timur, Jawa Barat juga ada."

Sementara untuk wilayah luar Jawa, seperti Kalimantan, Raras dan suami mengambil bahan baku yang khusus seperti gaharu. Sementara yang di Jawa Barat mereka mengambil akar wangi, untuk wilayah bagian timur khusus untuk bahan baku buah-buahan lokal dan jamu.

Raras tidak setiap hari melakukan penyulingan. Tergantung dengan permintaan, jumlah stok produk, atau saat ada petani yang panen. Misalnya untuk daun nilam, kayu putih, dan serai satu kali penyulingan setidaknya membutuhkan satu kuintal bahan baku. Sementara minyak yang dihasilkan dari proses penyulingan ini hanya satu persennya. Namun ini menjadi bukti bahwa minyak yang dihasilkan oleh Giriwangi benar-benar tanpa campuran apa pun dan berkualitas.

5. Sering dinilai mahal, membuat minyak atsiri tidak murah dan tidak sebentar

Raras Racik Minyak Atsiri, Wanginya Sampai ke Luar NegeriProduk milik Giriwangi Essential Oil (IDN Times/Dyar Ayu)

Sayangnya, masih banyak yang menilai produk-produk buatan Giriwangi mahal. Padahal jika melihat kualitas yang dihasilkan dan tanpa campuran bahan kimia apa pun, justru bisa dibilang sangat terjangkau. Inilah yang ingin diedukasi oleh Raras dan suami bahwa untuk membuat essential oil yang bermutu, membutuhkan proses yang cukup panjang dan bahan baku alami.

Sebut saja saat menyuling daun nilam yang maksimal membutuhkan waktu delapan jam, pala yang memakan waktu lebih dari 20 jam, malah saat menyuling gaharu membutuhkan waktu sampai 2 hari non-stop. Kisaran harga Rp25 ribu sampai ratusan ribu tergantung jenis kandungan dan ukuran yang dipatok oleh Giriwangi masih ini cukup terjangkau.

Penilaian ini disebabkan oleh merek-merek baru yang mematok harga lebih murah, tapi kualitasnya jauh dibanding bikinan Giriwangi. "Saya itu di marketplace kalah. Padahal kita benar-benar minyak murni dan kadang bingung, kok bisa pada jual murah-murah ya?" Kata Riris sambil tertawa.

Namun setelah merasakan minyak murah asal beli di tempat lain dengan buatan Giriwangi, bisa dibuktikan sendiri kalau produk rumahan tersebut memang sesuai harga. Mulai dari aroma, kekentalan cairan yang berbeda, dan efek yang dirasakan setelah pemakaian membuktikan kalau produk dari Giriwangi memang bukan kaleng-kaleng.

6. Tak sekadar wangi, minyak buatan Raras juga bisa jadi obat

Raras Racik Minyak Atsiri, Wanginya Sampai ke Luar NegeriGiriwangi Essential Oil bersama GKR Bendara (instagram.com/giriwangijogja)

"Sejauh ini yang paling diminati ya untuk healing, membantu meredakan stres. Ya di dalamnya ada lavender untuk menenangkan, ada pala, ya pokoknya yang menenangkan," terang Raras.

Ia dan suami kerap mendapatkan permintaan untuk membuat minyak yang sebelumnya belum pernah dicobanya. Ada juga permintaan minyak khusus untuk kasus tertentu seperti batuk atau parkinson.

"Pernah ada dokter yang minta dibuatkan minyak bawang. Ya memang ada di pasaran, tapi 'kan gak tahu minyak bawang benar atau bukan, atau cuma bawang putih direndam air atau bawang digoreng." Kata Raras lagi. pesanan yang datang ke Raras bukan hanya datang dari perorangan saja, tapi juga hotel-hotel di Yogyakarta dan tempat spa, baik untuk minyak aromaterapi sampai body massage.

Raras juga menyampaikan asal penyimpanannya benar, essential oil tidak memiliki masa kedaluwarsa.

"Kalau essential oil itu sebenarnya gak ada masa expired-nya. Kecuali kalau dimasukkan bahan kimia, dicampur-campur bahan yang lain, ya itu yang bikin expired," ungkapnya.

Giriwangi Essential Oil kini tengah mengurus izin BPOM untuk memudahkan peredarannya. Namun bahkan sejak jauh-jauh hari, pelanggan minyak buatan Raras tak hanya datang dari dalam negeri, tapi luar negeri. Mulai dari Jepang sampai Arab Saudi sudah jadi jangkauannya.

Maka dari itu, harapan Raras dan suami sederhana saja. Masyarakat bisa segera sadar bahwa produk UMKM Indonesia banyak yang jauh lebih berkualitas daripada buatan luar, dengan harga terjangkau.

Baca Juga: Berdayakan Teman Tuli, Sunyi Coffee Jogja Tak Sekadar Bisnis

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya