Waduh, Balita 3 Tahun di Gunungkidul Kecanduan Rokok

Ingin berobat tetapi terkendala biaya

Gunungkidul, IDN Times - ‎Seorang balita berusia tiga tahun di Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, mengalami kecanduan rokok. Jika tidak diberi rokok, ia akan mengamuk kepada kedua orangtuanya. Orangtua si bocah sendiri mengaku tak punya biaya untuk memberi pengobatan medis bagi sang anak.

Baca Juga: Keliling Kota Bawa Gir, 4 Remaja di Gunungkidul Diringkus Polisi 

1. Berawal dari kebiasaan sang anak memungut puntung rokok‎

Waduh, Balita 3 Tahun di Gunungkidul Kecanduan Rokokilustrasi puntung rokok (pexels.com/Basil MK)

Ibu dari si bocah pecandu rokok, ID (35), mengaku kebiasaan anaknya merokok berawal dari kegiatan memunguti puntung rokok di sekitar rumahnya. Kebiasaannya memungut puntung rokok berlangsung sejak beberapa bulan yang lalu.

"Awalnya tiga bulan yang lalu hanya memunguti puntung rokok, kemudian dinyalakan pakai korek. Setelah mengetahui bapaknya juga merokok akhirnya puntungnya diambil dan dimut, diisap (dalam keadaan menyala) itu terus berlanjut sampai mau Magrib pasti minta rokok," katanya, Selasa (22/3/2022).

2. Minta rokok ke orang yang lewat depan rumah

Waduh, Balita 3 Tahun di Gunungkidul Kecanduan Rokokilustrasi perokok (IDN Times/Arief Rahmat)

Sejak itu pula kata ID, dirinya selalu menyembunyikan korek yang ada di rumahnya. Demikian pula sang ayah, DW (36), saat ini tidak pernah merokok. Sebab jika ketahuan rokok pasti dimintai oleh anak.

"Kalau ayahnya pulang kerja pasti minta rokok. 'Bapak, bapak, pak rokok, pak rokok'," ucap ID menirukan suara anaknya.

Anaknya ternyata tidak hanya meminta rokok kepada ayahnya, tetapi juga kepada orang yang lewat di depan rumah. Kondisi itu membuat ID merasa malu dan terpaksa membeli rokok eceran untuk anaknya.

"Orang lewat depan rumah saja suka dimintai rokok. Jadi memanggilnya terus menerus. Sampai saya malu sama orang yang dimintai rokok anak saya," terangnya.

3. Sang bocah minta rokok‎ setiap menjelang Magrib

Waduh, Balita 3 Tahun di Gunungkidul Kecanduan Rokokilustrasi rokok (pixabay.com/realworkhard)

ID terpaksa memberi rokok. Jika tidak diberi rokok anaknya akan lemas dan baru beraktivitas ketika sudah diberi rokok. Apalagi menjelang Magrib pasti langsung meminta rokok dengan agresif.

"Pasti minta rokok jelang Magrib, kalau tidak diberi akan lemas. Kalau dikasih rokok ketawa dan enerjik. Kalau rokoknya kretek tidak mau, dilempar. Pernah pangkal rokok (filter) diberi cabai dibuang, katanya tidak enak," ucapnya.

"Ya kalau ada orang lewat ada bau rokok pasti langsung meminta, tapi yang jelas sebelum Magrib. Bapaknya saja tidak pernah bawa pulang rokok akhirnya," tambahnya lagi.

Ditanya tentang jumlah rokok yang dihabiskan dalam satu hari, ID mengaku tak tentu. Terkadang satu batang, namun kalau tidak diberi akan mengamuk.

"Kalau ngamuk nendang pintu dari kalsiboard hingga rusak. Kalau ndak, ya njambaki rambut saya dan membanting barang-barang lalu melempari batu," ungkapnya.

4. Tak punya biaya untuk berobat ke rumah sakit‎

Waduh, Balita 3 Tahun di Gunungkidul Kecanduan RokokIlustrasi rumah sakit. (IDN Times/Arief Rahmat)

Segala upaya pernah ditempuh agar anaknya lupa pada rokok karena banyak orang-orang yang lewat depan rumah meledek. Selain itu ID juga mengaku sempat membawa anaknya ke orang pintar namun hasilnya kata orang pintar itu jika merokok bukan kemauan dari anak.

"Kata orang pintar itu bukan kemauan anak saya. Takutnya ke paru-paru," tuturnya.

ID juga mengaku ingin sekali membawa anaknya ke rumah sakit untuk berobat namun terkendala biaya. Apalagi pekerjaan dari suami hanya buruh tambang batu putih yang hasilnya tak seberapa.

"Boro-boro ke rumah sakit, mau ke orang pintar lagi saja belum kesampaian. Berat bayar utang," katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Gunungkidul, Asti Wijayanti, pihaknya akan memberikan pendampingan kepada anak tersebut. Saat ini pihaknya bersama Puskesmas Ponjong sedang melakukan asesmen dengan mendatangi bocah tersebut.

"Untuk hasilnya nanti kami sampaikan. Yang jelas kami siap memberikan pendampingan kepada yang bersangkutan," katanya.‎

Baca Juga: Kuartal I 2022, 2 Pasien DBD di Gunungkidul Meninggal Dunia

Topik:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya