Comscore Tracker

Jepang Menyatakan Perang Lawan Penggunaan Plastik Sekali Pakai

Tak patuh aturan, akan dikenakan denda Rp65 juta 

Jakarta, IDN Times - Mulai April 2022, peralatan makan dan minum dari plastik tak lagi diberikan di Jepang. Berdasarkan UU yang disahkan oleh Diet, legislatif Jepang, bertujuan untuk mempromosikan penggunaan kertas dan alternatif kayu yang bisa terurai restoran, atau hotel. Jika tidak patuh, siap-siap membayar denda hingga 500 ribu yen (Rp65 juta).

Dilansir The Straits Times, diharapkan kebijakan ini akan meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan bisnis dan konsumen.

1. Perilaku warga terhadap penggunaan plastik mulai berubah

Jepang Menyatakan Perang Lawan Penggunaan Plastik Sekali Pakaiinstagram.com/valuearth

Sebuah survei yang dilakukan pemerintah mengungkap, regulasi itu telah mendorong perubahan perilaku. Sebelum kebijakan, hanya dua dari 10 orang yang menolak plastik di toserba, angkanya meningkat hingga tujuh dari 10 orang setelah kebijakan.

Pengecer diizinkan untuk menetapkan biaya mereka sendiri, yang biasanya berkisar antara tiga yen hingga 10 yen (Rp390-Rp1.300) per kantong plastik. Beberapa bisnis telah melangkah lebih jauh untuk mengenakan biaya kantong kertas, sebagai upaya mengurangi limbah.  

Perang melawan plastik dimulai ketika Jepang menetapkan tujuan iklim yang ambisius awal tahun ini. Negeri Sakura berencana untuk memangkas emisi gas rumah kaca dari sebesar 46 persen pada 2030, dibandingkan dengan 2013, dan berkeinginan mencapai emisi karbon nol pada 2050.


Baca Juga: Pengadilan Korsel Tolak Tuntutan Buruh ke Perusahaan Jepang

2. Kebijakan diapresiasi karena akan mengubah kebiasaan bisnis Jepang

Jepang Menyatakan Perang Lawan Penggunaan Plastik Sekali PakaiWarga Jepang menunggu lampu hijau di Shibuya Crossing. 9 Desember 2019 (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Data Institut Pengelolaan Sampah Plastik melaporkan, Jepang memproduksi hampir 10 juta ton plastik setiap tahun, sekitar 100 ribu ton terdiri dari sendok dan plastik sekali pakai.

Hiroaki Odachi dari Greenpeace Jepang mengatakan, meski Jepang telah lama mengklaim tingkat daur ulang plastik lebih dari 80 persen, namun hampir 60 persen plastik dibakar dengan proses "pemulihan panas" yang didefinisikan sebagai "daur ulang termal".

Menteri Lingkungan Shinjiro Koizumi menambahkan, undang-undang baru tidak menganggap “pemulihan panas” sebagai “daur ulang termal” karena emisi karbon yang terlibat. Itu berarti hanya seperempat dari sampah plastik di Jepang yang akan didaur ulang.

Regulasi baru juga mencakup pembuatan dan pengumpulan barang-barang plastik, sementara sistem baru akan mengesahkan plastik ramah lingkungan.  Perusahaan lokal akan diberi insentif dengan subsidi untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang plastik.

Koordinator global gerakan Break Free From Plastic, Von Hernandez, mengapresiasi kebijakan yang membebankan pajak atas sedotan dan peralatan plastik. Regulasi itu dinilai sebagai langkah kecil yang esensial.

"Untuk negara yang terkenal dengan pengemasan yang berlebihan dan boros serta membakar hampir semua yang ada di insinerator mereka, masih banyak yang harus dilakukan untuk menggerakkan perusahaan untuk mendesain ulang produk mereka dan cara pengirimannya ke konsumen," kata Hernandez.
 

3. Sejumlah perusahaan mengganti plastik

Jepang Menyatakan Perang Lawan Penggunaan Plastik Sekali PakaiPengunjung menenteng tas belanja saat mengunjungi Mall Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (1/7/2020) (ANTARA FOTO/ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Beberapa perusahaan sudah melakukan ancang-ancang meninggalkan bahan plastik sekali pakai. Jaringan supermarket Aeon mengemas ulang kebutuhan sehari-hari dan bahan-bahan ke dalam wadah yang dapat digunakan kembali.

All Nippon Airways (ANA) akan menggunakan serat tebu untuk wadah makanan dalam penerbangannya mulai Agustus tahun ini. Maskapai ini berharap dapat mengurangi sampah plastik sekali pakai sebesar 317 ton per tahun.

Nissin mendesain ulang kemasan mi cangkirnya untuk menghilangkan "segel penutup" yang terbuat dari plastik perekat. Langkah itu diprediksi menghemat 33 ton sampah plastik setiap tahun.

Baca Juga: PM Jepang Umumkan akan Gelar Pemilu Usai Olimpiade Tokyo

Topic:

  • Febriana Sintasari

Berita Terkini Lainnya