Comscore Tracker

Polisi Sebut Pelaku Bom Medan adalah Lone Wolf, Apa Artinya? 

Ada beberapa aksi lone wolf di Indonesia

Jakarta, IDN Times - Pelaku bom unuh diri di Markas Polresta Medan diketahui berinisial RMN berusia 24 tahun. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, mengatakan, identitas pelaku ditemukan dari hasil sidik jari yang ditemukan tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System, RMN masih berstatus seorang pelajar/mahasiswa yang juga lahir di Medan.

"Dugaan sementara pelaku adalah lone wolf. Pengembangan nanti akan sangat ditentukan oleh tim di lapangan. Hasil olah TKP masih didalami Labfor dan Densus 88," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (13/11).

Polisi juga berhasil mengamankan beberapa barang bukti yang digunakan sebagai bahan peledak.

"Kemudian ada sejumlah paku cukup banyak dalam berbagai ukuran. Kemudian ada irisan kabel, nanti akan didalami. Ada potongan kabel juga cukup besar kemudian ada tombol switch on-off," ujar Dedi.

Lantas, apa maksud dan asal usul istilah lone wolf dalam aksi terorisme?

Baca Juga: Tangkap Terduga Teroris di Cikarang, Polisi Selidiki Kaitan Bom Medan

1. Pelaku terorisme lone wolf melakukan secara mandiri dan umumnya anak muda

Polisi Sebut Pelaku Bom Medan adalah Lone Wolf, Apa Artinya? (Ilustrasi) IDN Times/Arief Rahmat

Sesuai namanya "lone", penyerangan jenis ini dilakukan atas inisiatif sendiri, tidak terikat jaringan atau kelompok teroris lain. Mereka menyerang dengan pemahaman sendiri, survei target sendiri, dan bahkan merakit bom atau alat penyerangan pun sendiri. Pelaku teror perorangan ini umumnya adalah anak muda. 

Dikutip dari Antara, menurut pengamat terorisme Ansyaad Mbai mengatakan kelompok lone wolf berpikir bahwa aksi kelompok atau jaringan akan lebih mudah dideteksi aparat keamanan, dibandingkan melakukan aksi sendirian.

2. Pelaku teror lone wolf umumnya terbentuk dari internet

Polisi Sebut Pelaku Bom Medan adalah Lone Wolf, Apa Artinya? (Ilustrasi) IDN Times/Arief Rahmat

Para pelaku teror perorangan yang disebut sebagai lone wolf ini memiliki paham sendiri yang diperoleh dari internet, dengan berbagai propaganda kelompok radikal-teroris.

Ansyaad mengatakan kelompok radikal menjerat pengikutnya dengan doktrin atau meracuni pemikiran seseorang, seperti melalui tayangan video aksi yang menindas dan membantai kelompok radikal yang mengaku sebagai umat muslim.

Dimulai dari timbul rasa empati, membuat seseorang menjadi radikal dengan sendirinya, dan termotivasi menjadi seorang lone wolf.

3. Pelaku terorisme lone wolf di Medan bukan yang pertama kali di Indonesia

Polisi Sebut Pelaku Bom Medan adalah Lone Wolf, Apa Artinya? (Ilustrasi) IDN Times/Sukma Shakti

Pelaku terorisme lone wolf di Medan nyatanya sudah pernah terjadi di Indonesia sebelumnya. Sedikitnya ada tiga aksi lone wolf yang pernah terjadi, yaitu penyerangan terhadap Mapolresta di Solo, penyerangan gereja di Medan, dan penyerangan polisi di Tangerang. 

Bom bunuh diri yang terjadi di Mapolrestabes Medan belum diketahui penyebabnya. Namun menurut Ketua Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Pendeta Albertus Patty kejadian lone wolf bisa saja karena luka batin akibat peristiwa tertentu, yang membuat kemarahan dan balas dendam terhadap orang tertentu atau karena putus asa terhadap tekanan sosial ekonomi.

4. Istilah lone wolf dipopulerkan sejak akhir 1990-an

Polisi Sebut Pelaku Bom Medan adalah Lone Wolf, Apa Artinya? (Ilustrasi) IDN Times/Arief Rahmat

Kepala Departemen Pengetahuan dan Penelitian Akademi Kepolisian Belanda sekaligus Pakar Studi Terorisme di Universitas Leiden Profesor Edwin Bakker dalam tulisannya berjudul Mencegah Teror Lone Wolf menyebutkan, istilah lone wolf dipopulerkan pada akhir 1990-an oleh supremasi kulit putih Tom Metzger dan Alex Curtis sebagai bagian dari dorongan kepada sesama rasis, untuk bertindak sendiri karena alasan keamanan taktis ketika melakukan kejahatan kekerasan.

Seperti dikutip dari researchgate.net, Bakker menyebut lone wolf istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan bentuk kekerasan politik yang serupa atau sebanding meliputi "perlawanan tanpa pemimpin", "terorisme individu", dan "terorisme lepas".

Definisi lain dari Burton dan Stewart dalam esai Stratfor mereka mendefinisikan satu-satunya pelaku sebagai "seseorang yang bertindak sendiri tanpa perintah dari atau bahkan koneksi ke suatu organisasi. Mereka menekankan perbedaannya dengan sel tidur, yang beroperasi menyusup ke masyarakat atau organisasi yang ditargetkan dan kemudian tetap tidak aktif sampai suatu kelompok atau organisasi memerintahkan mereka mengambil tindakan.

"Sebaliknya, lone wolf adalah seorang agen yang berdiri sendiri yang pada dasarnya tertanam dalam masyarakat sasaran dan mampu melakukan aktivasi diri kapan saja," kata Bakker.

Namun, dengan menekankan tidak adanya koneksi dengan jaringan atau organisasi yang lebih luas, Burton dan Stewart mengabaikan hubungan ideologis yang mungkin dimiliki individu dengan jaringan atau organisasi lain, baik melalui kontak pribadi atau konten inspirasional di internet.

Meskipun beberapa lone wolf telah dikaitkan dengan jaringan yang lebih besar (bawah tanah), seperti Baruch Goldstein (yang telah dikaitkan dengan Kach) dan Timothy McVeigh (yang telah dikaitkan dengan beberapa kelompok sayap kanan), mereka memutuskan, merencanakan dan melakukan bertindak sendiri, alih-alih mengikuti instruksi dari beberapa struktur komando hierarkis.

"Dalam pandangan kami, definisi terorisme lone wolf harus diperluas untuk mencakup individu yang terinspirasi oleh kelompok tertentu, tetapi yang tidak di bawah perintah orang lain, kelompok atau jaringan. Mereka mungkin anggota jaringan, tetapi jaringan ini bukan organisasi hierarkis dalam arti kata klasik," tulis Bakker, yang dibantu Sejarah Hubungan Internasional dan Tata Kelola Global di Universiteit Utrecht, Belanda, Beatrice de Graaf dalam tulisannya.

https://www.youtube.com/embed/40M0ADpl_xk

Baca Juga: Mantan Teroris Ali Fauzi: Pelaku Bom Medan Tak Paham Perencanaan

Topic:

  • Febriana Sintasari
  • Yogie Fadila

Berita Terkini Lainnya