Comscore Tracker

Diklaim Lebih Unggul, Epidemiolog  Pertanyakan Vaksin Nusantara  

Pemerintah diminta untuk hati-hati dalam pengembangan vaksin

Jakarta, IDN Times - Klaim Vaksin Nusantara yang dapat memberikan antibodi seumur dipertanyakan seorang epidemiolog dari Universitas Griffith, Brisbane, Australia, Dicky Budiman menyatakan pemerintah jangan cepat mengklaim berlebihan Vaksin Nusantara. Pasalnya, klaim itu sangat tidak masuk akal. 

"Ini logikanya di mana? Masyarakat itu gak bodoh, apalagi generasi Z dan kaum terdidik, mereka pasti paham dan mempertanyakan (klaim tersebut)," kata Dicky ketika dihubungi oleh IDN Times melalui telepon pada Jumat (19/2/2021). 

Dicky Budiman menambahkan inovasi tidak mungkin akan muncul instan. Kemampuan dan riset itu butuh waktu berpuluh-puluh tahun.  "Jadi, Indonesia gak bisa mengklaim sebagai negara pertama di dunia (menggunakan teknologi sel dendritik untuk membuat vaksin). Yang ada, nanti malah diketawain dunia," kata dia lagi. 

Selain itu, Dicky Budiman mengingatkan pemerintah agar dalam menangani pandemik, tidak fokus mengedepankan kebijakan ekonomi. Dalam penanganan pandemik, kebijakan harus didasari data sains yang sudah terbukti. Maka, tak heran meski sudah setahun berada dalam kondisi pandemik, tak perbaikan situasi di Tanah Air. 

"Kan semua tidak scientific proven, mau yang tes napas (GeNose) atau vaksin nusantara ini," ungkapnya. 

Baca Juga: Ini Awal Mula DPR Tahu soal Vaksin Nusantara yang Digagas Terawan

1. IDI minta agar peneliti menunjukkan data bahwa vaknus bisa ciptakan antibodi seumur hidup

Diklaim Lebih Unggul, Epidemiolog  Pertanyakan Vaksin Nusantara  Petugas kesehatan menyuntikan vaksin COVID-19. ANTARA FOTO/Jojon

Pendapat senada disampaikan Ketua Satuan Tugas (Satgas) COVID-19, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban. Ia mempertanyakan data untuk mendukung klaim bahwa vaksin nusantara bisa ciptakan antibodi bagi manusia seumur hidup. 

"Jika bicara klaim tentu harus dengan data. Harus dengan evidence based medicine. Jangan membuat publik bingung," cuit Zubairi melalui akun media sosialnya pada Jumat (19/2/2021). 

Menurut Zubairi, saat ini para ahli belum bisa menjawab berapa lama durasi antibodi yang terdapat di dalam vaksin COVID-19 buatan Sinovac Biotech, Moderna atau Pfizer. 

"Sekali lagi, saya mendukung upaya eradikasi, seperti vaksin. Tapi, perlihatkan kepada publik datanya. Biar tidak gaduh. Vaksin influenza saja bertahan kurang lebih setahun karena dipengaruhi mutasi virusnya," katanya. 

Dokter senior itu justru mempertanyakan motif dari klaim berlebihan vaksin nusantara. 

2. Teknologi sel dendritik digunakan untuk mengobati kanker

Diklaim Lebih Unggul, Epidemiolog  Pertanyakan Vaksin Nusantara  Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Vaksin Nusantara dikembangkan menggunakan teknologi sel dendritik. Teknologi ini biasanya digunakan bagi pengobatan pasien kanker. 

Hanya, kata Dicky, ada salah kaprah di ruang publik mengenai vaksin tersebut. Ia mengatakan teknologi sel dendritik dikenalkan kali pertama oleh perusahaan farmasi, Aivita Biomedical di Amerika Serikat. Perusahaan farmasi itu semula mencoba untuk mengembangkan vaksin COVID-19 dengan sel dendritik namun batal karena membutuhkan biaya yang tinggi. 

"Tetapi, sekarang seolah terbentuk opini dan kampanye teknologi sel dendritik ditemukan oleh Pak Terawan. Dalam dunia ilmiah tidak boleh seperti itu. Etikanya dilanggar," ujar Dicky. 

"Bila secara etis aja sudah dilanggar, bagaimana dunia akan percaya," katanya. 

 

Baca Juga: Lama Gak Muncul, Terawan Inisiasi Vaksin Nusantara untuk COVID-19

3. Vaksin Nusantara diklaim berikan antibodi seumur hidup melalui 1 suntikan

Diklaim Lebih Unggul, Epidemiolog  Pertanyakan Vaksin Nusantara  Ilustrasi Vaksin (IDN Times/Arief Rahmat)

Vaksin Nusantara yang diinisiasi oleh mantan Menteri Kesehatan, dr. Terawan Agus Putranto diklaim memiliki beberapa keunggulan dibanding vaksin COVID-19 lainnya. Keunggulan Vaksin Nusantara itu hanya dengan satu suntikan bisa meningkatkan daya tahan tubuh dan menghasilkan antibodi yang berlaku seumur hidup.

Klaim keunggulan Vaksin Nusantara itu dikemukakan Wakil Ketua Komisi IX DPR, Emanuel Melkiades Laka Lena setelah mendengar dari peneliti ketika meninjau pelaksanaan uji klinis Vaksin Nusantara yang dilakukan di RSUP dr. Kariadi, Semarang, Jawa Tengah pada Selasa, 16 Februari 2021. 

"Menurut peneliti itu, dia (Vaksin Nusantara) punya potensi sekali disuntik untuk sekali seterusnya. Jadi, karena antibodi itu dilatih untuk mengenali COVID-19 dan itu disuntikan di dalam sel darah, (vaksin) itu punya kemampuan untuk mengenali Sars-CoV-2 seumur hidup," ujar Melki yang dihubungi oleh IDN Times melalui telepon pada Kamis, 18 Februari 2021. 

Ditambahkan anggota DPR dari fraksi Partai Golkar itu sel dendritik masih bisa mengenali virus corona meski nantinya mereka akan bermutasi. Namun, ia menggarisbawahi klaim itu masih harus dikaji oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).  "Kalau klaim ini benar dan terbukti, berarti vaksin ini mantap juga," katanya. 

 

Topic:

  • Febriana Sintasari

Berita Terkini Lainnya