Comscore Tracker

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?

Sosial media berpengaruh terhadap tren minum kopi 

Sekitar tahun 1980an hingga awal tahun 2000an, tradisi minum kopi hanya dilakukan orang diarung-warung kecil. Biasanya warung kecil hanya mempunyai dua menu: kopi pahit dan kopi susu sebagai variasi. 

Lambat laun, saat ini tradisi minum kopi seperti sebuah tradisi. Bahkan variasi kopi pun mulai bertambah. Gak lagi menyeduh kopi tubruk, melainkan espresso shot dengan campuran susu UHT menggantikan SKM. Tak ketinggalan tambahan gula aren, brown sugar, maupun sirup rasa-rasa.

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Sukma Mardya Shakti

Dikemas cantik dalam gelas plastik, kopi susu kekinian gak cuma memanjakan lidah dengan rasa, tapi juga rupa. Meski kopi susu ini berbeda dengan akarnya, toh secara hakikat minuman kekinian ini tetaplah olahan susu dan kopi.

Hanya saja, melihat kopi susu kekinian akhirnya tumbuh menjadi sangat masif dan digandrungi jadi topik menarik untuk dikulik. Sebenarnya apa yang menyebabkan minat masyarakat terhadap kopi susu kekinian begitu tinggi? 

Karena itulah, IDN Times membuat survei sederhana untuk menggali pandangan dan perilaku konsumen terhadap minuman hits ini. Survei melibatkan 386 koresponden di enam kota besar di Jawa-Bali dengan rentang usia <18 tahun hingga >28 tahun.

Beberapa hal unik kami temui selama prosesnya yang bisa menjadi sudut pandang baru terhadap kopi susu kekinian. Simak ulasannya di bawah ini ya!

1. Tren kopi yang meledak akibat dipromosikan Presiden Jokowi

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?Youtube.com/Presiden Joko Widodo

Kedai Kopi Tuku yang disebut-sebut sebagai pionir kopi susu kekinian pertama berdiri pada tahun 2015 di Cipete, Jakarta Selatan. Namun, namanya mencuat pesat sejak orang nomor wahid di Indonesia, Presiden Joko Widodo, menyambanginya pada tahun 2017.

Mungkin sejak saat itu, satu per satu nama merek es kopi susu bermunculan, entah berupa kedai atau pun sepetak booth. Tak terpusat di Jakarta saja, penyebarannya sudah merambah ke penjuru Nusantara.

Belum jelas ada berapa total jumlahnya, yang jelas kedai-kedai baru terus bermunculan. Variasi-variasi menunya pun tak henti dikembangkan.

Baca Juga: Malioboro Coffee Night #3 Bakal Ramaikan Hari Jadi Kota Yogyakarta

2. Kopi susu kekinian penyumbang terbanyak di kalangan penikmat kopi Indonesia

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Dewi Suci

Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) menyebutkan konsumsi kopi orang Indonesia saat ini sekitar 1,4 kilogram per kapita. Sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, jumlah ini terbilang rendah dibandingkan tetangganya, Singapura dan Malaysia.

Konsumsi kopi Singapura mencapai empat kilogram, dan Malaysia sebesar lima kilogram. Meski demikian, pertumbuhan konsumsi kopi di Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata.

International Coffee Organization (ICO) menyebutkan konsumsi kopi Indonesia sejak tahun 2000-an meroket hingga 174 persen pada 2016. Melihat hasil tersebut, tak heran jika perkembangan industri kopi begitu melesat.

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Sukma Mardya Shakti

Ditambah lagi kemunculan kopi susu kekinian dengan segmen yang lebih khusus, tapi juga paling luas, yakni golongan menengah. Mereka ini punya dilema karena enggan ke warung kopi, tapi juga tak sanggup mengonsumsi specialty coffee secara rutin karena harganya menguras kantong.

Gak berlebihan kalau kopi susu kekinian akhirnya membuat permintaan kopi di Indonesia jadi semakin tinggi. Hal ini selaras dengan hasil survei kami, sekitar 41,7 persen koresponden mengonsumsi kopi susu kekinian kurang dari tiga kali sebulan; 32,1 persen membelinya 3-5 kali sebulan; 14 persen memesan kopi susu 6-9 kali; dan 12,3 persen membeli kopi lebih dari sembilan kali setiap bulannya.

Sebanyak 45,3 persen dari total koresponden menyisihkan bujet Rp51-150 ribu untuk membeli kopi susu. Di urutan kedua, 40,2 persen orang menyisihkan bujet kurang dari Rp50 ribu; selanjutnya 9,3 persen orang memiliki bujet Rp151-300 ribu per bulan; dan 5,2 persen orang rela mengeluarkan bujet di atas Rp300 ribu. 

3. Selain nge-tren, memang apa sih hebatnya kopi susu kekinian?

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Reza Iqbal

Ketika ditanya soal seberapa suka koresponden dengan kopi susu kekinian, sebanyak 55,7 persen orang menjawab suka dan 28,8 persen orang menjawab sangat suka. Artinya, dari sampel acak yang kami pilih, lebih dari 80 orang persen orang mengaku doyan minum kopi susu kekinian.

Alasannya pun beragam. Mayoritas menjawab suka mengeksplorasi dan komparasi rasa (37,8 persen); sekitar 34,7 persen orang mengaku memang pecinta kopi; serta 14,5 persen orang hanya merasa penasaran karena kopi susu sedang nge-tren atau viral. Sedangkan, 13 persen sisanya memilih jawaban lain, di antaranya karena harganya murah dan lebih praktis.

"Suka kopi kekinian soalnya mereka mostly konsepnya take away. Sementara coffee shop, kita ke sana kebanyakan cuma buat nongkrong dan akhirnya lebih milih tempatnya," ujar foodies asal Surabaya, Vicky Yuwono, kepada IDN Times, akhir Agustus lalu.

Alasan-alasan tersebut membuktikan kalau kopi susu memang memiliki nilai sebagai minuman yang layak jadi "primadona" dan dikonsumsi sehari-hari. Apalagi, kopi saat ini seakan sudah menjelma sebagai kebutuhan.

Seperti pendapat Ninassi Mutaqiin misalnya. Pecinta kopi satu ini merasa kopi susu kekinian membawa udara segar bagi para penikmatnya. "Secara rasa, lebih suka kopi susu kekinian, karena mereka punya varian rasa yang unik-unik, tapi harganya rasional, di bawah Rp50 ribu," ujarnya.

4. Kopi susu kekinian ternyata menjadi primadona di kalangan pekerja dan mahasiswa

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Reza Iqbal

Pekerja swasta menduduki peringkat teratas sebesar 47,9 persen. Uniknya, mahasiswa ada di peringkat kedua dengan jumlah 35,5 persen. 

Data ini dirasa cukup masuk akal, karena memang harga kopi susu kekinian bisa dijangkau semua kalangan. Dibandingkan harus membeli kopi di gerai speciality coffee yang bisa tiga kali lebih mahal.

Orang yang sebatas suka kopi dan hanya butuh dorongan kafein, tentu bakal jadi fans loyal kopi susu ini. Namun, bukan berarti para penyuka dan pecinta kopi sejati (bukan kopi susu kekinian) tak cocok menikmatinya.

Ninassi Mutaqiin salah satunya. Ia mengaku cukup sering mengonsumsi kopi susu, sehingga rela mengalokasikan bujet sekitar Rp300-400 ribu per bulan. "Bisa 3-4 kali sepekan, jadi 12-16 kali lah ya sebulan," ungkapnya. 

Pecinta kopi lainnya, Ade Husni, mengungkap preferensinya terhadap kopi susu. Mudah didapat, rasanya lebih variatif, dan bisa pamer di media sosial karena kemasannya bagus jadi alasan utamanya. "Sekaligus bisa membantu perekonomian," kata Ade.

Pria 24 tahun itu menilai harga kopi susu sudah sepadan dengan kualitas yang didapat. "Kalau memang murah, ya sudah sesuai."

5. Merek es kopi susu paling ngena di masyarakat

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Sukma Mardya Shakti

Konsep dasar minuman ini hampir seluruhnya sama, yakni perpaduan espresso dan susu UHT. Biasanya ada tambahan pemanis berupa gula aren atau brown sugar.

Pembeda didapat dari permainan takaran bahan dan variasi tambahan. Apakah lebih dominan pahit kopinya, creamy dari susunya, atau manis dari gula arennya? Biasanya juga diberi bahan tambahan, seperti regal, boba, jelly, mousse, cincau, puding, dan sebagainya.

Meski demikian, konsumen loyal kopi susu kekinian seakan punya "bendera" masing-masing dan cenderung loyal pada satu merek tertentu. Seperti hasil pendapat koresponden berikut.

Kopi Janji Jiwa menduduki peringkat atas dengan 23,6 persen; Kulo dengan 19,4 persen; Kopi Kenangan dengan 14,2 persen; Kopi Soe sekitar 3,9 persen; dan Jokopi sebesar 2,6 persen. 

Sedangkan, 57,6 persen lainnya memiliki merek kopi susu favoritnya sendiri. Sejumlah nama merek kopi susu yang hits masuk dalam pilihan mereka meliputi Awal Cerita, Pukul Satu Kopi, Fore, Kopi Tuku, Sagaleh, dan sebagainya.

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Reza Iqbal

Sebagai seorang foodies, Vicky Yuwono cukup sering mencicipi aneka produk es kopi susu kekinian. Karena itu, ia bisa menentukan merek favoritnya dengan mudah, karena punya banyak pembanding.

"Brand A bikin varian B, terus diikutin sama semua brand. Sementara, brand B bikin varian baru, terus diikutin sama brand lain lagi. Akhirnya aku punya semacam jagoan sendiri-sendiri. Misal brand A, aku belinya cuma produk ini aja, brand B beli yg ini," katanya.

Lain halnya dengan Fauzi Firmansyah, ia mengaku tidak hobi icip-icip karena merasa cukup puas dengan beberapa merek kopi susu langganannya. "Gara-gara rasanya yang mirip-mirip, akhirnya setiap kopsus baru yang gak punya keunikan, aku mikir ngapain nyoba kalau emang rasanya sama?"

6. Validasi status sosial lewat secangkir kopi

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Sukma Mardya Shakti

Bisa dibilang arti kopi di Indonesia itu bias dan maknanya bisa luas. Gak lagi sekadar minuman, kopi menjelma kebutuhan, gaya hidup, sampai-sampai "validasi status" seseorang, terutama di ranah media sosial.

Betapa unggahan secangkir kopi artisan dengan background  hanya tanaman monstera saja mampu menciptakan kesan estetik dan elegan. Atau secangkir kopi hitam sederhana, tapi difoto saat senja.

Seluruh aspek soal kopi rasanya jadi konten yang istimewa. Sama seperti saat munculnya kopi susu kekinian. Imej baru minuman yang sama sekali berbeda dari fitrah kopi susu konvensional ini begitu menyedot perhatian. Mengunggah foto kopi susu ke media sosial seolah jadi cara mengukuhkan diri sebagai pihak yang melek tren alias hype abis.

Bukan mengada-ada, dari data yang kami himpun, sebanyak 50,3 persen orang pernah mengunggah kopi yang dibelinya, meski jarang. Sebanyak 14 persen orang sering mengunggah foto kopi yang mereka beli, dan 2,3 orang selalu mengunggah hasil "perburuannya."

Itu artinya, sekitar 66,6 persen orang mengunggah kopi susu kekinian demi konten media sosial, sedangkan 33,4 persen orang mengaku tidak pernah mengunggahnya.

Alasannya bervariasi. Yang mengunggah karena kemasannya lucu atau Instagramable ada 25,5 persen; yang ingin review rasanya secara jujur sebanyak 21,8 persen; yang memilih sekadar untuk konten tren sekitar 13 persen; sedangkan sisanya 39,7 persen tidak pernah mengunggahnya.

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Reza Iqbal

Sebagai seseorang yang aktif di media sosial, Ruth Christian kerap melibatkan kopi dalam konten kesehariannya, karena hampir setiap hari ia mengonsumsi kopi. "Gue akan nge-post kayak pas working time dan pas lagi beli kopi, tapi kalau khusus nge-post soal kopi kekinian atau review gitu, sih enggak," kata Ruth.

Senada dengan Ruth, Meifi Nandya punya alasan spesifik saat memutuskan mengunggah kopi kekinian ke akun media sosialnya. "Aku sih kalau posting gak sering, paling satu-dua kali. Kalau posting pun lebih karena tempat kafenya yang Instagramable, bukan karena kopinya," tutur Meifi.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Es Kopi Susu Lokal Terbaik di Jakarta, Kamu Sudah Coba?

7. Pengaruh sosial media untuk kelangsungan bisnis es kopi susu

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Reza Iqbal

Apa pun alasannya, kecenderungan konsumen untuk mengunggah gambar kopi ke sosial media berdampak signifikan terhadap bisnis kopi susu kekinian. Kualitas rasa memang penting, tapi memastikan sebuah brand punya konsep menjual dan menarik lebih penting lagi. Mulai dari nama merek yang unik atau bernada indie, sampai desain plastic cup yang kece dan layak masuk Insta Story

Pemilik Pesen Kopi, Reinukky Abidharma, sekaligus perintis kopi susu kekinian lokal di Malang ini menuturkan pendapatnya. "Dari dulu kita memang tumbuhnya dari review Instagram," ucapnya.

Kata dia, banyak cara dilakukan untuk mendapatkan ruang "marketing gratis". Sehingga, mereka mengeluarkan segala kreativitas dan inovasi agar pembeli rela mengunggah kopinya di media sosial, tanpa paksaan. Beberapa caranya seperti mengubah desain cup yang lebih menarik.

Salah satu owner Jokopi, Rafdiarif Prayoda, juga mengungkapkan hal serupa. Menurut dia, media sosial punya peran yang amat penting dalam kelangsungan tren kopi susu ini.

"Pengguna media sosial juga ikut membantu memperkenalkan produk, sehingga bikin Jokopi lebih ramai," ujar Rafdiarif.

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Dewi Suci

Nyatanya, strategi tersebut memang terbukti efektif menggaet pelanggan baru, meski belum tentu menghasilkan pelanggan loyal. Merry Wulan salah satunya. Dia mengaku mudah penasaran dan ingin mencoba es kopi susu karena postingan Instagram orang lain.

"Aku gampang tergoda buat nyobain minuman atau makanan baru. Nyobain kopi susu baru, karena memang belum pernah coba dan penasaran sama rasanya. Dari situ, aku bisa menemukan mana es kopi susu terenak yang bakal aku sering pesan nantinya," ucap wanita 29 tahun itu.

Vicky Yuwono juga menceritakan pengalamannya tergoda mencicipi suatu brand hanya karena sedang naik daun, meski ekspektasinya tak terpenuhi. "Pernah jadi kayak ketipu sama branding-nya, sudah heboh banget, terus pas coba ternyata biasa aja," ucapnya. 

Lain halnya dengan Galih Pramuwidya yang merasa tak pernah terpengaruh dengan postingan media sosial. Alasannya, kopi susu kekinian rata-rata punya rasa dan varian yang sama atau mirip. Dia menegaskan, "Kalau pun pengin nyoba ya karena ada varian yang sesuai selera, nah ini yang bikin penasaran, bukan karena mereknya."

8. Akankah kopi susu kekinian bertumbuh atau justru berlalu?

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Reza Iqbal

Sebagian orang cukup skeptis dan menyatakan tren kopi susu gaul ini lahir hanya karena momentum, sehingga bisa disejajarkan dengan tren minuman kekinian yang sudah lebih dulu ada dan juga duluan sirna.

Seolah jadi rahasia umum kalau tren makanan dan minuman yang punya embel-embel "viral" dan "kekinian" biasanya cepat menguap keberadaannya. Sebut saja susu segar sirup dengan aneka rasa, es kepal Milo, cheese tea, hingga jus mangga jumbo.

Namun, kopi susu ini punya keadaan yang lebih unik. Sejatinya, kopi merupakan komoditi yang sudah ada sejak lama dan lumrah dikonsumsi masyarakat Indonesia. Pamor kopi tidak pernah redup, hanya trennya saja yang berubah.

Mulai dari kopi joss yang menggunakan arang, lalu kemunculan kedai kopi artisan, kedai specialty coffee, kemudian booming kedai kopi Instagramable, hingga es kopi susu kekinian dapat panggung. Ibarat kata, ruh berupa kopi tidak pernah hilang, ia hanya berpindah tubuh mengikuti zaman. 

Cakraningrat Handaru, seorang karyawan swasta, menganggap kopi susu bakal panjang umur, karena sudah ada sejak dulu dan akan terus berkembang. "Cuma ini lagi terekspos karena harganya murah, enak, dan demand-nya lagi tinggi banget," kata Cakra.

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Dewi Suci

Pemilik Caturra Espresso sekaligus pengamat industri perkopian, Kevin Soewondo, belum dapat memastikan apakah tren kopi susu bertahan lama atau tidak. "Tapi kalau secara pribadi, sepertinya tidak, kemungkinan bisa bertahan 1-2 tahun lagi."

Nanti setelah itu, kata dia, pihak-pihak franchise yg kontraknya habis akan memutuskan melanjutkan bisnis atau tidak. Kalau banyak yang tidak melanjutkan dan tutup, maka trennya bisa jadi turun.

Sedikit bertentangan dengan Kevin, sebagai pecinta kopi, Fauzi Firmansyah menganggap kopi susu kekinian ini punya peluang bertahan. "Mungkin mereka yang sudah punya identitas dan siap bersaing saja yang bisa survive," katanya.

Marketing Sensa Koffie Bali, Andra Pradana, berpendapat tren kopi susu tak akan hilang, hanya saja menurun. Sebab, orang-orang sudah minum kopi sejak zaman dulu. "Jadi dalam bentuk apapun, orang bakal tetap minum kopi, meski animonya gak sebesar sekarang," katanya.

Sebagai specialty coffee, Sensa pun sempat tergoda mengikuti tren varian kopi susu kekinian. "Tapi, kami harus ingat visi awal. Ya buktinya so far masih oke, meski gak sebesar kopi susu," ucap Andra.

Menurut pria 26 tahun itu, meski nantinya tren kopi susu menurun, persentasenya bakal lebih besar dibanding specialty coffee. Pasalnya, pasar kopi susu lebih luas dan bisa jadi gerbang masuk orang-orang yang gak biasa minum kopi jadi ikutan membeli.

Kata Andra, persentase perbandingan popularitas kopi susu bakal tetap unggul 80 persen dibanding specialty coffee. "Karena specialty coffee ini, kan memang niece market ya, jadi segmented banget," ujarnya.

9. Hal-hal yang bikin kopi susu kekinian tak ditinggalkan fans

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Sukma Mardya Shakti

Vicky Yuwono menjelaskan butuh inovasi yang fresh untuk mempertahankan bisnis perkopian, gak saling latah mengikuti varian satu sama lain.

Ninassi Mutaqiin mendetailkan faktor-faktor yang bisa membuat sebuah kopi susu bertahan lebih lama. Di antaranya seperti pemilihan tempat strategis dan nyaman, harga terjangkau di bawah Rp30 ribu, pelayanan cepat, aktif promosi di media sosial, serta selalu berinovasi dalam segala hal.

Ade Husni menambahkan branding, marketing, dan taste jadi kunci utama kelangsungan bisnis, termasuk kopi susu. Saat ditanya jenis kopi susu yang bakal disukai banyak orang, Ade menjawab, "Kopi susu yang dicampur dengan sesuatu yang baru, misal regal, santan, atau lainnya."

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Dewi Suci

Sebagai pelaku bisnis, pemilik Pesen Kopi, Reinukky Abidharma, selalu memerhatikan perilaku konsumen. "Kami menyuguhkannya sesuai dengan selera (pelanggan)," ucapnya.

Dia mengungkapkan menu dan rasa yang lebih "girly" jadi salah satu pembeda dengan kedai lainnya. Di antaranya seperti Red Velvet, Taro, Charcoal dan Cotton Candy. "Menariknya, kami juga punya kopi yang ditambahkan dengan cream cheese."

Hampir senada dengan Reinukky, pemilik Caturra Espresso dan Katuai Kopi, Kevin Soewondo, menjelaskan diferensiasi produk berperan sangat penting untuk membuat bisnis bertahan lama. Hal tersebut bergantung pada komitmen manajemen untuk tidak menurunkan kualitas dan menaikkan harga seenaknya.

"Kadang ngomong sih enak, tapi praktiknya... hehehe," ujar Rei, sapaan akrabnya.

10. Di tengah gempuran kopi susu kekinian, nyatanya banyak orang masih menjagokan specialty coffee

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?instagram.com/rezaiqbal

Bisa jadi ada 80 persen koresponden yang gemar minum kopi susu kekinian, tapi tak seluruhnya mengaku puas dengan kualitas minuman yang mereka beli. Ada 57,8 persen menjawab selalu puas, tapi 42,2 persen lainnya menjawab tidak.

Pengisian survei bermuara pada satu pertanyaan akhir, pilih kopi susu atau ngopi di coffee shop? Herannya, sebanyak 51,1 persen dari mereka menjawab selalu puas dengan kopi susu kekinian, tapi justru memilih specialty coffee. Sedikit lebih banyak dibanding mereka yang memilih kopi susu kekinian, yakni 48,9 persen.

Salah satu koresponden, Meifi Nandya memaparkan alasannya. Wanita yang berprofesi sebagai fotografer dan desainer grafis ini kerap bekerja di lapangan secara mobile dan memilih coffee shop sebagai workspace, sekaligus suntikan moodboster.

"Sebenarnya aku suka beli di coffee shop, soalnya kopi susu itu rasanya gak strong. Tapi kalau ngopi di sana setiap hari, anak sultan kali aku ini hahaha," kata dia sembari tertawa. "Makanya aku tetap beli kopi susu kekinian, tapi paling 2-3 kali per bulan, itu pun kalau lagi di kantor."

Galih Pramuwidya juga berpendapat sama. Meski sama-sama suka keduanya, tapi ia lebih prefer coffee shop dengan specialty coffee, karena kopinya lebih "asli." Katanya, "Tempatnya juga lebih luas."  

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Dewi Suci

Pecinta kopi lainnya, Dini Pramita, beralasan kopi susu kekinian tidak menawarkan sesuatu yang lebih dari segi rasa. "Kalau coffee shop, meski rasa kopinya sama kayak kopsus kekinian, aku bisa duduk lama-lama di situ sambil kerja, dan kalau memang kopinya enggak banget, masih ada pilihan minuman lain," tutur Dini.

Berbeda dengan pemilik akun foodies @nyameal.ah, Feflin Alses, sama-sama suka keduanya, baik coffee shop maupun kedai kopi susu kekinian. "Selama tempatnya cozy dan enak dibuat ngobrol," katanya. "Apalagi kalau ada open kicthen gitu, jadi bisa melihat proses pembuatan kopinya."

Dari segi pelaku bisnis, Andra dari Sensa Koffie Bali, menyatakan tantangan coffee shop dengan specialty coffee cukup banyak. Salah satunya mengenalkan dan membuat orang mau minum kopi item.

"Jadi kita harus pelan-pelan, makanya biasanya tetap ada menu kopi susu. Yang tadinya gak minum kopi jadi penasaran kan, akhirnya pengin cobain kopi item juga," tuturnya.

11. Perkembangan tren kopi berikutnya

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?IDN Times/Reza Iqbal

Konsep coffee on the go  bisa dibilang memang lebih praktis dan memudahkan kita untuk menikmati kopi. Namun, hal ini bisa dibilang menghilangkan interaksi antara pelanggan dengan pelanggan, maupun pelanggan dengan barista yang biasa kita lakukan di coffee shop dengan bar terbuka.

Konsumen pun nyatanya masih mendambakan tempat yang nyaman untuk ngopi, meski bukan kopi spesialis. "Lebih bisa menikmati yang ada tempat duduknya, kayak bisa buat sekalian kerja gitu," ungkap Fauzi sebagai penikmat kopi.

Hampir sama dengan Fauzi, Ruth Christian mengungkapkan alasan serupa. Menurutnya, tempat yang nyaman jadi salah satu alasan kenapa ia lebih suka ke coffee shop, meski juga gak pernah absen beli kopi susu kekinian.

"Gue bisa bilang fifty-fifty sih, tapi hampir setiap hari ngopi. Tapi mostly gue meeting sama klien di coffee shop, gak mungkin kan meeting-nya di kopi susu kekinian? Kalau kopi susu gue selalu pesan di aplikasi online."

Usaha Kopi Susu Kekinian: Hanya Tren atau Benar-Benar Dibutuhkan?Istimewa

Salah satu pecinta kopi susu kekinian, Riezky B. Andreansyah, berharap tren ini tak pudar atau bahkan menghilang seperti kuliner-kuliner viral sebelumnya. Karena menurut dia, kopi susu sukses jadi teman asyik buat beraktivitas sehari-hari atau pun nongkrong, apalagi harganya murah dan praktis. Bisa ditemukan dengan mudah dan gampang dibawa-bawa, sekali pun saat kegiatan di luar lapangan.

"Semoga selalu ada inovasi supaya terus diminati, kualitas jangan turun, tapi harga jangan naik hehehe," tutur pria 27 tahun asal Surabaya itu.

Dengan adanya fenomena ini, sekarang banyak brand mengubah, bahkan menambah fasilitasnya demi memenuhi keinginan pasar. Di antaranya, membuka outlet dengan tempat duduk selayaknya kafe. Salah satunya seperti yang dilakukan Pesen Kopi.

"Kedai Pesen Kopi ada yang besar dan kecil. Untuk kedai yang besar, orang akan lebih lama nongkrong. Sedangkan, kedai kecil banyak yang take away. Buat yang take away, sekitar 50 persen itu dari delivery order," kata Reinukky Abidharma selaku owner.

Perkembangan di dunia perkopian memang selalu menjadi sesuatu yang seru untuk ditunggu. Sama halnya dengan kemunculan kopi susu kekinian yang sebenarnya sudah lama ada, tetapi keviralannya tidak pernah kita duga. Jadi sudah minum kopi susu kekinian, belum hari ini?

TIM PENYUSUN: PUTRIANA CAHYA, PRILA AROFANI, REZA IQBAL, DEWI SUCI

INFOGRAFIS: SUKMA MARDYA SHAKTI, SIANTITA NOVAYA

Baca Juga: Millennials Kecanduan Pesan Antar Makanan, Hemat Waktu atau Malas?

Topic:

  • Febriana Sintasari

Just For You