Comscore Tracker

Ahli Paparkan Potensi Gempa Pemicu Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa

Gempa megathrust tersebut diperkirakan bermagnitudo 8,8

Yogyakarta, IDN Times - Pakar Tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko memperkirakan gempa megathrust dengan magnitudo 8,8 berpotensi terjadi di selatan Pulau Jawa.

Gempa ini dapat memicu gelombang tsunami dengan ketinggian mencapai 20 meter di sepanjang pantai tersebut.

1. Apa indikator terjadinya gempa megathrust ini?

Ahli Paparkan Potensi Gempa Pemicu Tsunami 20 Meter di Selatan JawaIDN Times/Arief Rahmat

Widjo Kongko menyebutkan, megathurst ini muncul di sepanjang selatan Jawa sampai ke arah Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal inilah yang menjadi indikator munculnya gempa besar tersebut.

“Ada segmen-segmen megathrust di sepanjang selatan Jawa hingga ke Sumba di sisi timur dan di selatan Selat Sunda. Ada potensi gempa megathrust dengan magnitudo 8,5 hingga 8,8,” katanya di Yogyakarta, Rabu (17/7), seperti yang dikutip dari Antara.

Gempa bermagnitudo cukup besar ini berpotensi munculnya gelombang tsunami. Kata Widjo, jika dilihat dari permodelan, gelombang tsunami ini berpotensi memiliki ketinggian 20 meter, dan bisa merendamkan daratan sejauh sekitar tiga hingga empat kilometer.

Baca Juga: Gempa Berturut-turut dan Air Laut Surut Jadi Pertanda Tsunami

2. Gelombang tsunami diperkirakan tiba ke daratan 30 menit pascagempa

Ahli Paparkan Potensi Gempa Pemicu Tsunami 20 Meter di Selatan JawaIDN Times/Sukma Sakti

Widjo melanjutkan, ketika gempa besar itu terjadi, maka gelombang tsunami akan tiba dalam waktu sekitar 30 menit. Apabila Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan dini pascagempa itu dalam waktu lima menit, maka warga hanya punya waktu sekitar 25 menit untuk melakukan evakuasi.

3. Cilacap hingga Jawa Timur rawan terkena dampak gelombang tsunami yang cukup panjang

Ahli Paparkan Potensi Gempa Pemicu Tsunami 20 Meter di Selatan JawaIlustrasi tsunami (elheraldoslp.com.mx)

Cilacap hingga ke Jawa Timur adalah daerah paling berpotensi terkena dampak gelombang tsunami yang cukup panjang. Berdasarkan catatan, gempa besar di selatan Pulau Jawa yang menimbulkan gelombang tsunami pernah terjadi pada tahun 1994 di Banyuwangi dengan magnitudo 7. Ada juga gempa bermagnitudo 6,8 hingga menyebabkan tsunami pernah terjadi di Pangandaran pada tahun 2006 lalu.

“Gempa 1994 tidak ada catatan terjadi tsunami di DIY. Tetapi pada tahun 2006 ada catatan terjadi tsunami di selatan DIY. Tapi jangkauannya tidak melebihi Gumuk Pasir di Parang Kusumo,” ujarnya.

Meskipun demikian, dari hasil penelitiannya, ia meyakini pernah terjadi gempa megathrust magnitudo 9 di selatan Pulau Jawa. Keyakinan ini temukan saat mengukur umur radioaktif dari beberapa unsur yang timnya temukan di Lebak banten dan Bali.

“Umur radioaktif dari unsur-unsur yang kami temukan di Lebak Banten dan Bali memiliki umur yang sama. Artinya, pernah ada tsunami di selatan Jawa karena gempa dengan magnitudo besar,” ungkapnya.

4. BMKG punya prosedur empat tahap untuk menyampaikan peringatan dini kepada warga

Ahli Paparkan Potensi Gempa Pemicu Tsunami 20 Meter di Selatan JawaIDN Times/Arief Rahmat

Sementara itu Supervisor Pusat Gempa Regional VII BMKG DIY, Nugroho Budi Wibowo, mengungkapkan BMKG akan mengeluarkan peringatan dini terjadi tsunami usai gempa besar, yang disampaikan dalam empat tahap.

Pertama, informasi awal yang berisi parameter gempa. Kedua, peringatan dini yang sudah dilengkapi dengan estimasi waktu tiba tsunami sesuai permodelan yang dilakukan. Umumnya peringatan dini tahap kedua ini disampaikan kurang lebih 10 menit pascagempa.

“Atau tergantung update sinyal yang masuk ke sistem,” jelasnya.

Tahap ketiga adalah peringatan dini yang disampaikan 60 menit sejak gempa. Hingga peringatan dini tahap empat adalah penyampaian untuk mengakhiri informasi kepada warga.

Sejauh ini, pihaknya hanya memantau gempa bermagnitudo di bawah 5 yang terjadi 15 sampai 30 kali setiap bulan di wilayah selatan Jawa. Seperti Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.

“Kami memang hanya memantau gempa dengan magnitudo hingga 5. Gempa dengan magnitudo lebih besar menjadi tanggung jawab Pusat Gempa Nasional. Jumlah kejadiannya pun masih normal. Tidak ada anomali aktivitas gempa di selatan Jawa dalam beberapa bulan terakhir,” terang Nugroho.

Baca Juga: ACT Salurkan Bantuan bagi 300 KK Korban Gempa Maluku Utara

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya