Mencekamnya Mapolrestabes Surabaya Saat Didatangi Tamu Tak Diundang

#SetahunBomSurabaya Putri pelaku selamat dari ledakan

Tepat setahun lalu, lima ledakan bom mengguncang Surabaya dan Sidoarjo dan merenggut nyawa 28 orang, sedangkan puluhan luka-luka. Yang membuat miris, pelaku juga mengajak serta keluarganya dalam aksi mereka. Lewat pengakuan korban dan saksi, kami mencoba mengenang kembali kejadian memilukan tersebut. Dari kesaksian mereka, kita bisa menyimpulkan bahwa apapun dalihnya, terorisme adalah kejahatan kemanusiaan dan tak selayaknya mendapat tempat di manapun.

 

Surabaya, IDN Times - Usai menjalani apel pagi, Bipda Ahmad Muaffan Alaufa dan seorang rekannya yang tengah piket pagi itu segera mengambil tempat di pintu masuk Markas Polisi Resort Kota Besar Surabaya. Sementara, tiga anggota lainnya berjaga di dalam pos pemeriksaan.

Ia dan sang rekan harus menggunakan peralatan lengkap. Selain helm dan rompi anti peluru, mereka juga diwajibkan menenteng senjata laras panjang. Rentetan bom yang meledak di tiga gereja Surabaya dan rusun Sidoarjo menjadi perhatian pihak Polrestabes.

Sebaliknya, bagi anggota yang bertugas di lapangan, mereka diminta untuk tidak menggunakan pakaian dinas. "Status institusi saat itu Siaga 1. Jika biasanya pakaian semi dinas, selain yang jaga piket diminta berkostum sipil," ujar Muaffan saat berbincang dengan IDN Times, Kamis 2 Mei 2019. Instruksi ini dikeluarkan untuk menghindari adanya serangan terhadap polisi.

1. Dua motor melaju seperti terburu ke arah Mapolrestabes

Mencekamnya Mapolrestabes Surabaya Saat Didatangi Tamu Tak DiundangYouTube.com

Waktu menunjukkan pukul 08.45 WIB saat ia berbincang singkat dengan sang rekan. Isi pembicaraannya saat itu adalah soal serangan bom yang terjadi di tiga gereja. Namun, perbincangan mereka terhenti ketika dari jauh ia melihat ada dua motor menuju ke arahnya. "Saya sudah curiga ini bukan orang polres. Penampilannya bukan anggota," ujarnya pria 24 tahun ini.

Kecurigaannya bertambah lantaran sang pengemudi tak melempar teguran atau bahkan membuka helm. Dua motor itu juga terlihat mencari kesempatan masuk dengan menunggu mobil Avanza hitam mendahului mereka.

Meski sekilas, ia ingat betul sosok yang ada di atas motor tersebut. Motor pertama, kata Muaffan, dikendarai oleh seorang pria. Ia membonceng anak perempuan dan seorang pria. Di antara kedua penumpang itu ada sebuah kotak yang diduga bahan peledak.

2. Motor tersebut dikendarai Tri Murtiono dan keluarga

Mencekamnya Mapolrestabes Surabaya Saat Didatangi Tamu Tak DiundangDok. IDN Times/Istimewa

Belakangan diketahui, pengendara tersebut adalah Tri Murtiono. Ia adalah pria yang sempat memantau kondisi di Mapolda Jawa Timur saat Istighosah akbar sedang berlangsung sehari sebelumnya. Lantaran curiga, polisi melarangnya masuk ke acara. Tri pun akhirnya hanya duduk di trotoar depan Universitas Bhayangkara. Ia kemudian diduga juga melakukan pemantauan ke Mapolrestabes sebelum melakukan aksinya pada Senin pagi.

Sementara anak perempuan yang diapit Tri adalah putri paling kecilnya berinisial AA. Saat kejadian ia diketahui baru berumur 7 tahun.

Adapun motor belakang, kata Muaffan, dikendarai oleh seorang pria. Ia membonceng seorang perempuan bercadar yang diketahui merupakan Tri Ernawati, istri Tri Murtiono.

Kedua motor itu melaju seperti terburu-buru ke arah pos penjagaan. Muaffan pun mengangkat tangan. "Saya angkat tangan karena mau kasih teguran keras karena seperti nylonong, gak buka helm lagi," ujar anggota Satresnarkoba Polrestabes Surabaya ini.

Baca Juga: Ketika Pagi yang Ceria Berubah Jadi Duka di Gereja Santa Maria

3. Belum sempat ditanya, pelaku sudah meledakkan diri

Mencekamnya Mapolrestabes Surabaya Saat Didatangi Tamu Tak DiundangYouTube.com

Muaffan sempat menyentuh bagian depan motor Tri. Belum sempat ia menanyakan keperluan tamu tak diundang tersebut, ledakan terjadi. Seketika itu juga ia hampir kehilangan kesadaran. Yang ia lihat di detik pertama setelah ledakan hanya kepulan asap pekat.

"Saya baru sadar setelah ada di dalam ambulan. Saat itu saya satu ambulan dengan AA. Saya mendengar tangisnya sepanjang perjalanan," ujar Muaffan.

"Saya sempat meihat kondisi tubuh saya sudah penuh darah dan ceceran daging. Yang terpikirkan saat itu saya sudah meninggal. Kepala bagian belakang luka, gigi depan hancur," lanjut dia. Muaffan juga tak mengingat bagaimana ia kemudian bisa berada di ambulans.

4. Tubuh Muaffan tertimpa bangkai motor dan tubuh pelaku

Mencekamnya Mapolrestabes Surabaya Saat Didatangi Tamu Tak DiundangDok.IDN Times/Istimewa

Adalah Ipda Muhammad Khoirul Umam yang menolong Muaffan. Menurut Umam, saat itu Muaffan tertindih bangkai motor milik Tri Murtiono. Posisinya juga berada di bawah mayat para pelaku, termasuk tubuh AA. "Saya sempat memindahkan tubuh AA untuk menolong Muaffan. Saya kira AA sudah tewas," ujar Umam.

Selain karena diperkirakan sudah tewas, saat itu ia memilih tak menyelamatkan AA karena perintah atasan. "Fokus selamatkan yang masih hidup. Lagian masih ada bahan peledak, jadi kami diminta untuk menjauh," ujarnya. Umam mengaku melihat dada salah satu pelaku yang tak utuh masih terlilit bahan peledak.

Dibantu oleh beberapa anggota lain, ia pun mengangkat tubuh Muaffan menuju ke salah satu ruangan di Mapolrestabes. Tak hanya Muaffan, menurut Umam, seorang tukang parkir yang tergolek lemah juga dievakuasi. Lukanya bahkan lebih parah daripada Muaffan. "Soalnya gak pakai rompi, dia juga terpental dari posisi awalnya," ujarnya.

5. Sempat dikira sudah tewas, AA berdiri dan langsung dibopong AKBP Roni Faisal

Mencekamnya Mapolrestabes Surabaya Saat Didatangi Tamu Tak Diundang

Sementara kepanikan luar biasa masih terjadi, beberapa polisi lainnya mencoba memadamkan api dengan alat seadanya. Namun, kehebohan kembali terjadi saat AA terlihat bergerak coba berdiri. "Itu sekitar 15 menit setelah ledakan," kata pria yang menjabat sebagai Kaur Subag Humas Polrestabes itu.

Saat itulah Kasatreskoba Polrestabes Surabaya, AKBP Roni Faisal Saiful Faton melintas. Tanpa pikir panjang, Roni langsung berlari menghampiri anak tersebut dan langsung membopongnya menuju ke Mapolrestabes. Dalam beberapa kali wawancara dengan media, Roni menampik apa yang dilakukannya sebagai sebuah tindakan heroik. Baginya, aksi tersebut adalah panggilan jiwa. “Saya terpanggil sebagai seorang ayah juga. Apalagi masih ada kobaran api yang kapan saja bisa menimbulkan ledakan,” ujarnya. Bersama korban lainnya, AA kemudian dilarikan ke rumah sakit Bhayangkara.

Adapun empat pelaku tewas di lokasi yaitu Tri Murtiono (50), istrinya Tri Ernawati (43), dan dua anaknya M Daffa Amin Murdana (18) serta MDS (14).

Mencekamnya Mapolrestabes Surabaya Saat Didatangi Tamu Tak DiundangIDN Times/Deby Amaliasari

Baca Juga: Kisah Teddy, Korban Bom Surabaya yang Berjarak Lima Meter dari Maut

https://www.youtube.com/embed/ZpQRvMCoOyM

Topic:

  • Paulus Risang

Just For You