Comscore Tracker

3 Pelajaran Penting yang Perlu Dipahami Millennial dari Tragedi Mei 98

Beragam suku, etnis, dan agama sudah berdampingan sejak lama

Jakarta, IDN Times - Tragedi Mei 1998 merupakan kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa yang terjadi pada 13-15 Mei 1998, khususnya di Ibu Kota, namun juga terjadi di beberapa kota lain. Kerusuhan ini diawali dengan krisis moneter di Asia dan dipicu tragedi Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa saat demonstrasi 12 Mei 1998. Tragedi ini diakhiri dengan penurunan jabatan Presiden Soeharto.

Memperingati 21 tahun tragedi Mei 1998, ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik, khususnya kaum Millennial. 

Seperti yang diungkapkan oleh seorang saksi sejarah tragedi Mei 98, Christianto Wibisono yang diwawancarai IDN Times pada peringatan 20 tahun tragedi Mei 98 tahun lalu. 

1. Bergaul tanpa pandang bulu

3 Pelajaran Penting yang Perlu Dipahami Millennial dari Tragedi Mei 98IDN Times/Kevin Handoko

Menurut Wibisono pelajaran pertama adalah menjalin pergaulan antar sesama tanpa pandang bulu.

"Pergaulan antar etnis dan antar apapun sudah tidak lagi terhambat dengan hal tersebut," ujar pendiri mingguan Exspres, cikal bakal majalah Tempo itu saat berbincang dengan IDN Times.

Baca juga: Dua Dekade Tragedi Semanggi, Ibu Ini Masih Mencari Keadilan untuk Anaknya

2. Hidup harmonis dalam perbedaan

3 Pelajaran Penting yang Perlu Dipahami Millennial dari Tragedi Mei 98IDN Times/Kevin Handoko

Wibisono mengatakan Indonesia adalah negara yang kaya budaya. Hal itu dipengaruhi karena beragamnya etnis, suku, dan ras yang sudah hidup berdampingan di Indonesia sejak lama.

"Sebenarnya sudah 100 tahunan hidup bersama. Hidup bersama ini bukan hanya setelah Indonesia merdeka, namun juga sebelum Indonesia merdeka," ucap pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1945. 

3. Saling menghormati

3 Pelajaran Penting yang Perlu Dipahami Millennial dari Tragedi Mei 98IDN Times/Kevin Handoko

Dengan ada adanya keberagaman yang hidup berdampingan di Indonesia, kata Wibisono, diharapkan masyarakat Indonesia dapat hidup secara harmonis. "Bagaimana kita bisa hidup yang baik dan dapat harmonis," ujar dia. 

Salah satu cara yang dapat menciptakan keharmonisan hidup dalam keberagaman adalah adanya sikap saling menghormati. Hal-hal yang berbau sentimen tidak perlu lagi terjadi.

"Kalau saling menghormati, tidak perlu terjadi sentimen, karena berbeda ras, beda agama dan beda suku," ucap Wibisono.

Baca Juga: Peta Jejak Kerusuhan Mei 1998, dari Trisakti Hingga Gedung DPR RI

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya